Humaniora
Beranda » Humaniora » Kumpulan Puisi Cinta Imam M.Nizar

Kumpulan Puisi Cinta Imam M.Nizar

(Foto ilustrasi - Unsplash)
(Foto ilustrasi - Unsplash)

YANG TERSISA NAMAMU 

Senja tak lagi sama seperti kemarin sore, 

Gema dari Mimbar Masjid Untuk Luka dan Duka Sumatera 

Sejak bayanganmu nyaris hilang dari doa ku, Dik.

Seolah angin pun ragu menyapa,

Seperti enggan, aku tak lagi bersamamu. 

Hanya jejak langkah kita yang tertinggal,

di jalan jalan kenangan tak pernah sirna.

Ketika Ilmu Tak Disertai Adab 

Aku melangkah, berjalan, bahkan berlari tatapi tak benar-benar pergi — terjebak dalam luka yang kau gores. 

Dan, aku pernah menjadi curhatmu

tempat melampiaskan gundah gulana, meski sesaat.

Kini tinggalkan sunyi yang bergelayut kelam merana — menghiasi hati yang tak lagi hangat. 

Aku berusaha mencoba melepas cinta

Delegasi 21 Negara Siap Ramaikan Pertemuan Akbar Bertema Ibadah Murni di ICE BSD Tangerang

bukan karena tak sayang lagi.

Sebab cinta tak lagi tinggal

di hati yang dulu peluk cium tanpa kata.

hanya kehangatan yang bicara.

Kini, yang tersisa hanya namamu

bersama air mataku yang mengering.

SENJA MEMEKIK DIAM 

Senja temaram begitu indah, merekah jingga dalam pandangan — seolah berbisik pada kangen yang tak sempat terucap.

Angin dingin menyisir lembut rambut panjangmu, yang dulu pernah tergerai di pelupuk kenangan. 

Kini, tak ada lagi bayangmu di ujung cakrawala, di batas laut — hanya siluet menjauh perlahan, meninggalkan jejak di pasir putih  tak seputih cintamu.

Ku hapus kenangan itu, namun tak bisa sirna bersama langkahmu yang pergi…. 

Beban batinku semakin sarat. Sebab, senja selalu datang dengan luka lembut,

menyakitkan, dan sangat menyakitkan dengan kisah cerita yang bisa kurasa. 

Engkau telah pergi, seolah tenggelam di batas laut dan menghilang di senja temaram.

Diam-diam aku menyebutmu, dalam pekikkan diam, tanpa suara, tampa rasa. 

Heeem, tersadar semua keindahan, hanya fatamorgana belaka. Sebab, tak semua yang indah harus punya nama.

SISA NAMA YANG MEMBEKAS 

Ku tulis puisi tentangmu

di ujung senja kian meredup,  

tak sehangat seperti kita masih bersama.

Desir angin dahulu membawa keceriaan, kini pedih menyayat hati. 

Dan, kita pun pernah menjadi cerpen — dalam realitas kehidupan nyata.

Tak kusangka kau berpaling begitu cepat —- hijrah ke hati yang tak jelas bebet bobot keturunan, tanpa pamit, tanpa alasan yang dapat kumengerti. 

Rasanya seperti hujan disiang bolong —  tanpa awan, menghitam sebelumnya.

Seperti rangkaian kata kehilangan makna. Seperti lagu kehilangan nada indahnya.

Ku pikir, kau bercanda, diam seribu bahasa, dengan tetap tersenyum yang tak mudah ku pahami.

Ternyata, kau diguna guna — dalam episode berikutnya terkuak sudah. 

Lelakimu  bukan pejantan tulen.Tak lebih dari pecundang belaka.

KETIKA AKU JATUH CINTA 

Tertawa lepas, lesung di pipi. 

Rambut panjang tergerai saat kau singkapkan kerudung. Itulah kamu 

Senja seadanya……

Tatapi senyummu, heem senyummu, melampaui keindahan senja temaram di atas rel kereta mati.

Matamu heeem  matamu, Dik.

Mengubah kesunyian jadi beberapa bait puisi, bahkan cerpen dan cerber. 

Aku bertanya diri. Kapan persisnya ada getaran getaran aneh di hati ini…..

Mungkin, saat kau tertawa pelan

Mungkin, saat kau berkata lembut — seraya memanggilku dengan sebutan Abang. 

Mungkin, ya semuanya serba mungkin. 

Yang tak mungkin, kurasakan saat itu, kau seperti datang diam diam membelai hati yang kering akan kasih. 

Diam  bukan berarti tak butuh kata atau cerita. Begitupun aku jatuh cinta — seperti daun jatuh ke tanah hanya atas izinNya.

Tanpa direncanakan, namun penuh rasa.

Seperti aku minum kopi pagi dan senja penuh kehangatan. 

Ya, begitulah saat aku jatuh cinta

Bukan lantaran kau sosok sempurna, 

bersamamu, saat itu dunia terasa lunak dan damai.

Segalanya menjadi indah, meski aku masih berkutat pada kehidupan yang keras — dalam pencarian jati diri sebagai pedagang tahu dari anak penjual sayur.

AKU MASIH CINTA

Dikau tinggalkan daku tanpa kata, 

aku pun bertanya dalam diam.

Tak cukupkah apa yang aku beri?

Tak pantaskah aku mencintaimu? 

Yang tersisa senyummu di benakku, 

tawamu masih mengalun disetiap langkah.

Meski kau hancurkan hatiku

kangenku tak bisa padam. 

Kupikir rentang waktu mampu sembuhkan, namun luka kian subur perlahan.

Sungguh sakit memang, anehnya,

namamu tetap kupagari, ku pelihara. 

Betapa perih mencintaimu, membiarkanmu hengkang berlalu.

Jika bahagiamu bukan padaku,

biarkanlah aku mencintaimu 

dari jauh, 

dari jauh, 

dari jauh. 

Biar kelak waktu bicara, 

betapa agungnya cintaku padamu.