Humaniora
Beranda » Humaniora » Dinda Apriliani: Cantik Pancarkan Manfaat Jadi Pilihan Jalan Pulang

Dinda Apriliani: Cantik Pancarkan Manfaat Jadi Pilihan Jalan Pulang

Dinda Apriliani
Dinda Apriliani

Oleh: Anne. Y. Wachyuni

Bandung, 2026. Di tengah zaman yang kerap mengukur keberhasilan dari sorotan kamera, jumlah pengikut media sosial, atau gemerlap panggung kehidupan — ada perempuan yang justru memilih arah sebaliknya. Ia melangkah menjauh dari gemerlap, bukan karena kalah, melainkan, karena menemukan cahaya yang lebih menenangkan.

Namanya Dinda Apriliani, 31 tahun. Seorang perempuan yang membuktikan bahwa perjalanan hidup tak selalu harus menanjak menuju popularitas. Ada kalanya, langkah paling berani justru adalah pulang—kembali kepada nilai-nilai yang menenteramkan jiwa.

Dari Runway Menuju Ruang Mengaji

Dulu, Dinda dikenal sebagai seorang model. Wajahnya akrab dengan lensa kamera, tampil percaya diri dalam setiap pemotretan. Dunia mode pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Namun, waktu mengajarkan satu hal: kecantikan sejati bukan hanya tentang apa yang dipantulkan cermin, melainkan apa yang terpancar dari hati.

STKIP Pasundan Archery Open VI 2026: Arena Menempa Bidikan, Mental, dan Masa Depan Panahan Indonesia

Kini, hari-harinya dipenuhi suara anak-anak melafalkan huruf demi huruf Al-Qur’an di sebuah TPQ. Jemarinya tak lagi sibuk merias penampilan, tetapi dengan sabar membimbing generasi kecil mengeja ayat-ayat suci.
Ia meninggalkan sorotan lampu panggung untuk menikmati cahaya ilmu. Sebab, baginya, ada ketenangan yang tak bisa dibeli ketika melihat seorang anak mampu membaca firman Allah dengan benar.
Rumah, Madrasah Pertama yang Dijaganya
Di balik kesibukannya sebagai guru mengaji, Dinda adalah seorang ibu rumah tangga yang menjalankan perannya dengan sepenuh hati.

Rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pertama tempat cinta, pendidikan, dan keteladanan tumbuh setiap hari. Mengurus keluarga, mendampingi anak-anak belajar, hingga tetap hadir untuk orang-orang tercinta menjadi bagian dari ibadah yang ia jalani dengan penuh keikhlasan.

Dinda Apriliani
Dinda Apriliani

Mandiri Lewat Ikhtiar

Di sela aktivitas mengajar dan mengurus keluarga, Dinda juga membangun kemandirian ekonomi sebagai reseller produk SR12.
Baginya, bekerja bukan semata mengejar keuntungan. Setiap pesanan yang dikemas adalah bentuk ikhtiar agar tetap mampu membantu perekonomian keluarga, sekaligus membuka peluang berbagi kepada sesama.

Pagi hari, ia mengemas pesanan. Siang, anter jemput anak,  terkadang sambil mengirim barang. Sore hari, mengajar di TPQ, malamnya belajar. Irama kehidupannya mungkin melelahkan. Tetapi, semangatnya seolah tak pernah mengenal kata berhenti.

Mengetuk Pintu Langit di Tanah Wali: Jejak Zikir Majelis Ilmu Al-Misbah Menuju Makam Sunan Gunung Jati

Cantik yang Memancarkan Manfaat
Bagi Orang  disekitarnya

Dinda bukan hanya dikenal karena paras yang menawan. Ia memiliki energi yang seakan tak habis dibagi kepada banyak peran. Lebih dari itu, ia percaya bahwa rezeki akan menemukan keberkahannya ketika ikut mengalir kepada orang lain.
Sebagian hasil usahanya disisihkan untuk berbagi. Sebab baginya, kekayaan terbaik bukanlah apa yang disimpan, melainkan apa yang mampu memberi manfaat bagi sesama.

Belajar dari Jalan yang Menanjak
Saat banyak orang mencari pelarian dari rutinitas, Dinda memilih bersepeda dan mendaki gunung.
Baginya, setiap tanjakan adalah metafora kehidupan. Tak ada puncak yang dapat diraih tanpa kesabaran, napas panjang, dan langkah yang konsisten.
Ia memahami bahwa keindahan selalu meminta perjuangan terlebih dahulu.
Tak Pernah Terlambat Menuntut Ilmu
Di usia 31 tahun, ketika sebagian orang merasa cukup dengan pencapaiannya, Dinda justru kembali membuka lembaran baru.

Ia memutuskan melanjutkan pendidikan pada Program Studi Bimbingan dan Konseling di IKIP Siliwangi.
Keputusan itu lahir bukan demi mengejar gelar semata. Ia ingin menjadi pendidik yang mampu mendengar sebelum menasihati, memahami sebelum menghakimi, dan mendampingi sebelum mengarahkan.

Baginya, seorang guru mengaji bukan hanya mengajarkan bacaan Al-Qur’an, tetapi juga menjadi tempat berteduh bagi anak-anak dan para ibu yang membutuhkan penguatan hati.
Perjalanan yang Terus Bertumbuh
Kisah Dinda Apriliani mengajarkan bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak peran yang dijalani, melainkan seberapa tulus setiap peran itu dihidupi.
Dari seorang model, menjadi guru mengaji. Dari ibu rumah tangga, tumbuh sebagai pegiat usaha. Dari pebisnis, kembali menjadi mahasiswi.

Perempuan yang Tidak Pergi

Semuanya dirangkai oleh satu kalimat sederhana yang selalu ia genggam dalam setiap langkahnya:
“Bismillah, lanjut….”
Sebab, ia percaya, kecantikan sejati lahir dari hati yang dekat dengan Allah. Kesuksesan adalah kemampuan untuk tetap bermanfaat bagi orang lain. Dan kemuliaan bukan diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya.

Semoga, setiap langkah Dinda Apriliani senantiasa diberkahi. Ikhtiarnya dimudahkan, keluarganya dilimpahi sakinah, usaha yang dijalankan semakin berkembang, pendidikan yang ditempuh membawa manfaat luas, dan setiap huruf Al-Qur’an yang diajarkannya menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir hayat. (KH/***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *