Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Pondok Petir, Depok 28 Juni 2026 — Pagi itu, langit seolah sedang tersenyum. Cahaya fajar perlahan menyibak gelap di jalan Bukit Raya, di Sawung Tengah dengan semburat “keemasan”. Udara tak biasanya seolah masih basah oleh embun, kali ini, agak panas — tak ada angin mendesir. Sementara, gema azan Subuh baru saja usai mengalun dari Masjid Nur Iman.
Di sebuah bescam “sederhana” yang tak jauh dari masjid itu, 19 ibu-ibu dari Majelis Ilmu Al-Misbah, Vila Pamulang, telah berkumpul. Wajah-wajah mereka memancarkan semangat yang berbeda. Bukan semangat untuk berwisata, melainkan kerinduan menempuh perjalanan ruhani; sebuah safar yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ziarah ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon.
Di bawah bimbingan M. Alif, langkah itu diawali bukan dengan hiruk-pikuk keberangkatan, melainkan dengan ketenangan. Semua berdiri melingkar menundukkan kepala, melangitkan do’a-do’a kecil yang keluar dari hati-hati yang berharap ridho Ilahi.

Tak lama kemudian, lantunan Sholawat Jibril menggema. Dipimpin oleh Ustadz M. Alif, suara para jamaah berpadu dalam irama yang syahdu.
“Shallallahu ‘ala Muhammad…”
Lafaz demi lafaz mengalir lembut, seolah mengiringi perjalanan yang bahkan belum dimulai. Di pagi yang cerah itu, bukan hanya kendaraan yang bersiap melaju, tetapi juga hati-hati yang sedang belajar meninggalkan kesibukan dunia demi sejenak mengetuk pintu langit.
Perjalanan menuju Cirebon menjadi lebih dari sekadar perpindahan jarak. Di sepanjang jalan, do’a terus dipanjatkan, zikir dilantunkan, dan sholawatan didengungkan. Tidak ada perjalanan yang sia-sia ketika setiap kilometer dihiasi dengan mengingat Allah SWT.

Ziarah bagi mereka untuk mengingat kematian dan meneladani jejak perjuangan para ulama yang mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan cahaya Islam. Di makam Sunan Gunung Jati, mereka berharap dapat memetik pelajaran tentang keikhlasan, dakwah, dan keteguhan iman yang diwariskan para wali.
Barangkali, yang paling indah dari perjalanan itu, bukanlah ketika rombongan tiba di tujuan. Melainkan, saat hati-hati mereka perlahan berubah di sepanjang perjalanan. Sebab setiap langkah menuju tempat orang-orang saleh sejatinya adalah langkah untuk bercermin pada diri sendiri.
Ketika matahari semakin tinggi dan kendaraan terus melaju di tol Jakarta- Cikampek menuju Tanah Wali, satu harapan terpatri dalam dada setiap jamaah: semoga pulang nanti, bukan hanya membawa kenangan perjalanan, tetapi juga membawa hati yang lebih lembut, iman yang lebih kokoh, serta tekad untuk terus menyalakan cahaya ilmu—sebagaimana nama majelis yang mereka cintai, Al-Misbah, sang pelita yang menerangi jalan menuju Allah. (KH/***)
