Humaniora
Beranda » Humaniora » Dibalik Kisah ‘Macan Ternak’, Ibu-Ibu Aktif Penuh Semangat

Dibalik Kisah ‘Macan Ternak’, Ibu-Ibu Aktif Penuh Semangat

Macan Ternak alias Mama-Mama Cantik Antar Jemput Anak. (Foto - Istimewa)
Macan Ternak alias Mama-Mama Cantik Antar Jemput Anak. (Foto - Istimewa)

Oleh: Anne.Y. Wachyuni, S.Pd

Di balik riuh kesibukan rumah tangga, ada sekelompok ibu-ibu yang tak hanya sibuk mengurus keluarga. Akan tetapi, juga pandai memaknai waktu luang dengan berbagai kegiatan positif. 

Mereka menamai diri dengan sebutan unik dan jenaka ha ha ha ha, ‘Macan Ternak’,  singkatan dua kata atau kependekan dari: Mama-Mama Cantik Anter Jemput Anak.

Secara alamiah, mereka jadi komunitas tersendiri — bersama bukan untuk  ngerumpi, akan tetapi menata waktu sedemikian bernilai. 

Saat anak-anak mereka berada di sekolah, Macan Ternak ini memanfaatkan waktu dengan berbagai aktivitas seru dan bernilai. 

Parama Hansa Abhipraya Raih Rekor MURI, Anak 7 Tahun dengan Prestasi Multidisiplin Terbanyak

Mulai dari jogging pagi bersama, main bulu tangkis untuk menjaga kebugaran hingga naik gunung  bersama. 

Belakangan ini, sudah diwacanakan akan ada pengajian rutin guna menambah wawasan ilmu agama, serta memperkuat ikatan spiritual. 

Dan yang tak ada, dibuatnya arisan anggota yang berjumlah 15 orang itu. Hal ini untuk menghindari hal hal yang tak diinginkan. Karena, masalah uang, sensitif, meski nilainya tak seberapa. 

Beberapa di antaranya bahkan menantang diri dengan naik gunung bersama, mengasah semangat kerja sama dan ketangguhan. 

Dan tentu saja, kegiatan yang paling dinanti adalah botram — momen makan bersama yang hangat dan penuh tawa. Apa pun lauknya, tak penting. Yang terpenting, rasa kebersamaan dan guyubnya.

[Cerpen] Cahaya Cinta Yang Sesungguhnya

Terkadang, kata Mama Neng, kerap dijuluki sang kepala suku di Macan Ternak itu  — mereka sering ngumpul ngumpul untuk kegiatan berguna untuk sesama. Khususnya, punya tradisi untuk bisa saling kunjung mengungujungi,  untuk menengok anggota keluarga, terutama ada anak MacanTernak yang sakit, ada yang diuji musibah, misalnya. 

“Hal ini untuk memberikan contoh pada anak anak kami. Bahwa, kita harus rasa kepedulian untuk sesama,” lanjut Neng. 

Komunitas ini tumbuh di lingkungan MI Roudotutta’lim Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, sebagai contoh nyata bahwa menjadi ibu bukan alasan untuk berhenti produktif. 

Mereka menunjukkan keseimbangan antara peran domestik, sosial, dan pribadi dengan penuh semangat dan kebersamaan. 

Yang membuat Macan Ternak istimewa adalah rasa egaliter di antara mereka. Tak ada sekat status sosial — semua ibu dipersatukan oleh niat baik untuk hidup sehat, bahagia, dan saling mendukung. 

[Cerpen] Ketika Cinta Mati Suri

Dari sinilah lahir manfaat besar: kesehatan fisik dan mental yang terjaga, silaturahmi yang semakin erat, serta waktu berkualitas dan bermakna. 

Dengan energi positif dan kebersamaan yang tulus itu, Macan Ternak menjadi inspirasi bahwa di balik kesibukan seorang ibu, selalu ada saja ruang untuk tumbuh, belajar, dan berbagi kebahagiaan bersama. Ya, itulah Macan Ternak. (KH/***)