Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Di Perbatasan Malam yang Menyesakkan 

[Cerpen] Di Perbatasan Malam yang Menyesakkan 

(Foto ilustrasi - id.pinterest.com)
(Foto ilustrasi - id.pinterest.com)

Oleh: Imam M.Nizar 

Aku masih terbayang bayang — malam itu di penginapan kecil, dekat simpang Dago, Kota Bandung.

Aku duduk sendiri di balkon sempit, meninggalkan temanku yang sudah terlelap tidur lebih awal. Dengan secangkir kopi pahit yang ku pesan dari kantin hotel, benar benar racikannya lebih pahit dari perasaanku, malam itu. 

Cahaya malam Kota Bandung di kejauhan tampak muram — seolah ikut merasakan apa yang mengendap di dadaku. Di kamar rawat inap lantai tiga rumah sakit — yang tak jauh dari sini, bunda dosen — begitu aku menyebut untuk diriku sendiri. Dalam pikiranku, beliau masih terbaring lemah, setelah menjalani operasi sinusitis kemarin pagi. 

Aku terus termenung di sudut balkon hotel, penuh gelisah, sambil bertanya dalam hati, yang tak mampu juga kujawab sendiri. Gelisah habis, tak karuan. Mungkinkah ini yang disebut cinta?

[Cerpen] Cahaya Cinta Yang Sesungguhnya

Hisapan rokok terakhir, kubilas dengan seruputan kopi yang mulai dingin di tenggorokan. Aku kepikiran dan membayangkan bunda dosen terus menerus….. 

Belakangan ini, aku kenal beliau bukan sekadar dosen mata kuliah Bimbingan dan Konseling. Lebih jauh dari itu. Bagi sebagian peserta didik, ia guru, toh tak lebih. Bagi yang lainnya, mungkin sekadar ibu. Tetapi,  bagiku? Entahlah…..

Mungkin lebih tepat disebut seberkas sinar — yang tak sengaja menyelinap masuk ke relung hati yang selama ini beku dan terkunci. 

Namanya begitu panjang, plus gelar yang panjang pula bak jalan tol Jakarta – Cileunyi, terminal bayangan — tempat dimana, aku sering turun dari Bus — sebelum akhirnya ke kampus di bilangan Rancaekek itu. 

Teman ku, banyak memanggil beliau, Dosen Suna. Lembut tutur katanya, tegas prinsipnya. Terkadang, beliau suka juga bernyanyi nyanyi kecil di kelas zoom kami. Maklum, beliau sempat ikut pentas pencarian bakat penyanyi di salah satu televisi komersial di negeri ini. Sepertinya, takdir bicara lain. Dunia pendidikan, menjadikan beliau sosok wanita yang lebih berkelas, bermartabat dan mandiri. 

[Cerpen] Ketika Cinta Mati Suri

Beliau tak sekadar mengajarkan teknik konseling, tetapi memberi keteladanan: Bagaimana menjadi manusia yang dapat hadir bagi manusia lain. Cahaya terang, penunjuk langkah. Begitu pikirku. 

Di awal awal kuliah, aku masih ingat betul. Aku pernah mengalami depresi — jika tak dikatakan kecemasan berat. Banyak tugas, tekanan keluarga, dan rasa tidak percaya diri yang begitu menyesakkan. Dari beliaulah pertama kali yang menyadari hal ini. Dari tatapan yang tajam, kerap aku hindari. Di situ pula aku merasakan ada ketuduhan. 

Suatu siang, beliau japri via grup WA — berlaku bagi semua peserta didik, sekelas. Dan, bertanya tentang aku, “Kamu baik-baik saja, Fazar?”

Seketika pertahananku runtuh. Salah tingkah sendiri. Untungnya via WA. Jika benar pertanyaan itu, dikatakan  saat ketemu langsung. Mungkin aku dapat “mati berdiri”. Salah tingkah tak karuan, mati gaya, gugup dan apalah istilahnya lagi. 

Sejak saat itu pula,  aku sering jadi peserta didik terakhir yang keluar kelas zoom atau masuk terlambat kisaran lima menit, sebelum matkul dimulai. Entah kenapa aku lakukan seperti itu? 

Menjaga Bara Ramadhan: Memaknai Puasa Syawal sebagai Jalan Istiqomah

Pastinya, keluar zoom belakangan untuk memperpanjang waktu,  memandang ketenangan yang terpancar dari dirinya — sebelum akhirnya ia pamit undur diri secara utuh. Masuk selalu terlambat, diam diam aku ingin minta perhatian lebih dari bunda dosen Suna itu. Hem….

Dan itu memang terjadi, kerap aku dijadikan role model nya  — saat beliau mengajar. 

Aku tahu ini salah. Tidak etis, tidak wajar, apalagi dalam struktur akademik. Walaaah! Tetapi, persoalan hati, soal rasa tak pernah tahu, dimana tempat dan kapan berpijak, bukan? 

Keesokan paginya, aku kembali ke rumah sakit. Temanku itu, tak ingin masuk. “Kan, kemarin sore aku sudah….Nanti, jadi lama. Sudah kamu saja … Aku nunggu di sini, sambil pesan kopi,” katanya tak jauh dari gedung rumah sakit. 

Sebelum akhirnya masuk ke rumah sakit, Aku cari buah tangan untuk bunda dosen Suna. Nyaris, ku beli buah apel yang ia tak suka dan sempat trauma. Maka,  pilihan jatuh pada buah alpukat. Itu pun, belum pernah aku dengar beliau suka buah tersebut. Aku tahu beliau suka alpukat tersebut, ngintip dari statusnya he he he. Ternyata bunda dosen, suka alpukat mentega, pikirku. 

Membawa tentengan buah alpukat mentega yang ku beli di pasar — memang tak jauh dari pintu gerbang rumah sakit, sampailah aku memasuki halaman rumah sakit tak lebih dari lima menit. Di tanganku, juga sudah ada surat kecil yang kutulis semalam,  saat temanku itu pulas  bablas —  bukan surat cinta, hanya secarik ungkapan terima kasih. Karena lewat beliau, aku belajar memahami luka orang lain, sekaligus luka pada diri sendiri. 

Saat masuk ke ruang rawat, beliau sudah nampak, bersandar di tempat tidurnya. Terlihat pucat, tapi tersenyum melihat kehadiran aku kembali. 

“Masih di Bandung, Fazar. Aku pikir kamu sudah pulang tadi malam.” 

Aku tersenyum gugup. “Aku menginap di dekat sini, Bunda…..ingin sekalian pamitan langsung.” 

Kami diam sejenak. Hanya suara mesin infus dan detik jam dinding yang terdengar di ruang tersebut. Kami hanya berdua di kamar perawatan tersebut. 

Dengan suara pelan, aku berkata, “Bunda … terima kasih sudah jadi cahaya bagi banyak orang. Termasuk aku.” 

Beliau menatapku, mata itu penuh pengertian, lalu mengangguk pelan. “Jaga dirimu baik-baik, Fazar … Dunia ini akan butuh orang-orang yang bisa mendengar dengan penuh hati.” 

Aku tak bisa berkata-kata lagi. Salah tingkah dan gugup datang mendadak. Surat dan buah tangan kutaruh di meja kecil, samping tempat tidurnya. Lalu aku pamit, seraya mengucapkan salam, berjalan pelan ke luar kamar. Tak kuasa menoleh lagi. 

Rasa ini akan tetap kusimpan. Bukan untuk dimiliki, tapi untuk menguatkan langkahku menjadi konselor seperti dirinya, tulus hadir.

Dan di hati, aku tahu… kadang, cinta yang tak memiliki, justru paling murni di muka bumi ini. 

Tetapi baru beberapa langkah — sebelum aku buka pintu ruang rawatnya, kudengar suara lembut memanggilku, “Fazar….” 

Aku menoleh. Beliau tersenyum, matanya sayu dan dengan suara nyaris berbisik, beliau berkata:

“Terimakasih atas perhatian dan ketulusanmu, Fazar..Sudah hadir disaat aku merasa sendirian….” 

Mataku panas seketika. Aku kembali melangkah mendekatinya. Kali ini tak banyak kata, hanya genggaman tangan singkat yang kubalas hati-hati, karena ada getar yang tak ingin kutumpahkan. 

“Bunda juga jangan pernah merasa sendiri. Banyak orang yang Bunda kuatkan dalam do’a Bunda,” ucapku dengan suara tersengau. 

Beliau mengangguk, menatapku lama. “Kalau suatu hari kamu jadi konselor, jadilah seperti kamu hari ini. Tulus, dan mau bertahan, meski sakit. Karena kadang… orang yang paling butuh ditolong, adalah yang tak mampu berkata-kata.” 

Aku tak tahan mendengar ucapan beliau. Air mataku jatuh, menganak sungai di pipi. Kutundukkan wajah, agar beliau tak melihatnya. Lalu, aku pamitan untuk yang terakhir kalinya —   seraya menutup pintu kamar perlahan, seperti tak ingin suara kenangan ikut tertinggal di kamar perawatan rumah sakit. Ku simpan suara Bunda di etalase hati. 

Di luar, di tengah pasar, matahari kota Bandung menyambut hangat. Tapi ada satu ruang dalam diriku yang mendadak dingin, karena kutahu. Mungkin inilah pertemuan terakhirku dengan bunda dosen Suna yang sarat makna. Tak akan pernah jadi cerita cinta yang utuh, sempurna. Dan, aku rela itu…. 

Karena rasa cinta yang tulus, kadang cukup dengan hadir, lalu pergi… dengan hati yang tak utuh, tetapi tak pernah ada kata menyesal. Semuanya terajut dalam bentuk keikhlasan bersama. 

Depok, 23 Mei 2025

==========

Salam Sehat Selalu

Teruntuk Bunda Maria