Oleh: Anne.Y.Wachyuni
KABARHIBURAN.id – Di sudut tenang Cimahi, di antara denyut kota dan hijaunya alam perbatasan Kabupaten Bandung Barat, berdiri megah Gunung Padakasih – sebuah mahakarya alam setinggi hampir 950 meter di atas permukaan laut.
Gunung ini bukan hanya hamparan pepohonan dan kabut pagi yang menawan, tetapi juga ruang kontemplatif yang menyatukan sejarah, petualangan, dan kisah-kisah kemanusiaan yang tak terduga.
Gunung Padakasih telah menjadi magnet bagi para pendaki dan pencinta alam. Dari puncaknya, terbentang panorama kota Cimahi yang diselimuti nuansa sejuk dan dramatisnya matahari terbit dan tenggelam – pemandangan yang seolah menghadiahi setiap langkah kaki yang menanjak.
Namun, keindahan Gunung Padakasih bukan hanya tentang lanskap. Gunung ini menyimpan jejak geologi yang penting. Ia adalah bagian dari rangkaian gunung api purba yang dahulu menjadi batas alami Danau Bandung Purba. Kini, sisa-sisa zaman itu masih terasa pada bentuk kawah dan bebatuan yang mengisyaratkan bahwa alam pun punya sejarah panjang untuk diceritakan.

Di kaki gunung, mengalir tenang mata air Leuwi Ngocoy – surga kecil tersembunyi yang dikelilingi rimbunnya vegetasi. Airnya jernih dan menyegarkan, menjadi tempat favorit bagi para peziarah spiritual maupun wisatawan yang hanya ingin menikmati kedamaian tanpa batas.
Yang menarik, pendakian di Gunung Padakasih bukan hanya milik para pendaki berpengalaman. Ada pula rombongan unik yang menambah warna pada kisah pendakian: para MACAN TERNAK, akronim jenaka dari MAma-mama CANtik anTERjemput aNAK.
Di sela rutinitas mengantar anak-anak mereka ke sekolah MI Roudotuttalim, para ibu ini mengubah waktu tunggu menjadi perjalanan bermakna.
Dengan semangat dan solidaritas, mereka mendaki bersama, menaklukkan puncak sebagai simbol kekuatan perempuan yang tak gentar menantang alam maupun waktu. Mereka bukan sekadar pendaki, tetapi pengingat bahwa petualangan bisa dimulai kapan saja – bahkan setelah sarapan dan sebelum menjemput anak.

Bagi siapa pun yang ingin menjejakkan kaki ke Gunung Padakasih dan Leuwi Ngocoy, persiapan tetap menjadi kunci. Sepatu yang nyaman, jaket hangat, logistik sederhana, serta kesadaran untuk menjaga kelestarian alam, wajib dibawa bersama semangat menjelajah.
Gunung Padakasih bukan hanya destinasi. Ia adalah panggung di mana alam dan manusia saling bersapa. Sebuah tempat di mana kisah pendaki profesional berpadu dengan cerita ibu-ibu tangguh, dan di mana sejarah purba bergema lembut di antara desir angin dan denting air jernih Leuwi Ngocoy.
Di sini, setiap langkah adalah puisi, dan setiap nafas adalah bagian dari sebuah perjalanan yang tak terlupakan – biasa jadi cerpen atau cerber, penuh makna keindahan. (KH***)
