AYAT ETIKA MORAL DAN ADAB
Di bawah langit cerah bersaksi.
Di pelataran bumi yang mengagungkan ini — ada kangen dalam kebisuan dingin.
Bukan lantaran hati tak tahu arah, akan
tetapi, karena rasa cinta yang mendalam,
terselubung diantara jeda yang Engkau amanahkan, Yaa Robbi.
Aku mengerti,
siapa diriku?
Tak lain dosen, pengajar ilmu, etika, moral dan adab — bahkan kusisipkan ayat ayat Mu kepada peserta didik, pencari terang dalam gelapnya.
Namun cahaya matanya —- sikap dan kedewasaannya, mengusik ruang kalbuku yang harusnya suci dari rasa bimbang antara logika dan perasaan.
Apakah ini dinamakan cinta? Ataukah ini fitnah lembut — ujian yang Engkau selipkan, ditengah hatiku haus akan kasih sayang…..
Heem…kudekap perasaan ini dalam do’aku, meminta sirna jika tak halal adanya.
Sebab rasa cinta, sayang dan kasih yang tak bersandar pada syariat — mungkin saja dapat terpeleset dan menjerat celakakan niat dalam keteguhan iman.
Yaa Rabbi yang mampu bolak-balikan hati,
jika cinta ini bukan jalan kearah Mu,
padamkan dia, seperti Engkau padamkan siang jadi malam — tanpa amuk marah, tanpa luka, hanya damai yang tersisa. Itu yang kuharap.
Depok 1 Juni 2025
ADA CINTA DIBELAKANG MEJA UJIAN
Ketika aku merujuk keberadaanku.
Aku tak lain dosen, berembel embel gelar panjang seperti jalan tol Jakarta – Bandung.
Mengajarkan etika, akhlak, moral dan adab.
Siapa sangka, diantara absensi dan tugas tugas matkul, hatiku terpeleset… jatuh, bukan kepada Tuhan, melainkan pada peserta didikku.
Manusiawikah? Ya…..? Tidak semestinya! Bimbangku….
Dia hadir saat kelas zoom di menit kelima mulai. Jika dianalogikan duduk di baris kelima dari depan —- selalu bawa senyum, mampu mengecoh kitab yang ku hafal saat pertemuan. Dan, selalu banyak tanya di antara tawa serta candaannya.
Aku pun mengutip ayat dan hadis dalam semangat transfer ilmu.
Padahal niat di dada sudah agak menyimpang dari hakikat.
“Jangan dekati yang bukan hakmu. Zina” kataku penuh iman.
Tapi WA darinya, aku -save dengan nama: “Masa Depan” kadang ku delete tanpa alasan yang jelas .MasyaAllah….
Kami bicara matkul hingga skripsi atau jurnal. Akan tetapi topiknya mengarah pada kopi senja yang menghangat.
Celakanya, setiap bimbingan, seperti membimbing batin yang sulit kumengerti sendiri. Waduh….
“Tuhanku” desahku dalam diam. Apakah aku dosen atau figuran sinetron belaka? Aku memang “penyanyi dangdut” yang tak Engkau ridhoi.
Berhijab rapi, tapi hati ikut lomba panjat pinang penuh syahwat hore heroik.
Cinta dapat dikatakan fitrah, tetapi lupa kalau fitrah pun bisa salah alamat pula.
Apalagi bukan sekadar terpaut umur, lebih pada tanggung jawab!
Dalam sholat, aku jadi khusyuk setengah-setengah.Separuh ingat Tuhan, sebagian lagi, bayangan pada dia yang punya kebiasaan buruk. Ngopi ngerokok di meja kantin. Kadang ku puji juga sih. Dia macho!
Astaghfirullah… ini mah bukan cinta suci? Tak lebih melodrama akademik,
yang bermuara bukan pada ijab kabul, tetapi panggilan kode etik.
Xik xik xik xik xik
Depok 1 Juni 2025
AKU DOSEN BERSUARA SYAHDU?
Ya Robbi, hatiku goyah lagi
Antara syariat dan pada wajah siang menjelang sore dari peserta didikku.
Mahasiswa “nyeleneh” berlatar belakang penulis. Inikah ujian dariMu yang hadir setiap zoom matkulku?
Statusku dosen, bukan teman seperjuangannya cari ilmu.
Hem… kuniatkan masuk ke ruang kelas zoom dengan hati yang kuajak jinak degubnya.
Kubawa buku digital , niat ikhlas mengajar.
Tetapi, mengapa degup ku semakin deras terasa —-
saat dia menyapa, “Assalamualaikum Bu Dosen, cerdas dan enerjik,”
Kuminta makalah tentang moral
Hatiku justeru jadi tak normal di hadapannya.
Senyumnya lebih tajam dari jurnal seniornya.
Bikin iman goyang, seperti sinyal digital dilanda hujan lebat.
Ya Rabbi, pagari aku dari khilaf,
Ini kampus, bukan mall tempat mencari kesenangan belaka. Bukan Bioskop 21 pula.
Aku pendidik, bukan gadis SMA lagi.
Tetapi saat diskusi… hatiku melayang juga. Kenapa ya?
Kutulis nilai UTS dan UAS nya begitu objektif.
Namun, do’a ku penuh harap , cemas dan fantasi tak jelas. Astaghfirullah, ini cinta atau stres?
Cepatlah dia ikut program akselerasi, cepat lulus, agar tak bikin aku tertekan dan cemas lagi.
Cukupkan aku dengan cinta-Mu
Jangan biarkan perasaanku jadi candu ya Robb.
Kalau memang dia jodohku, biar waktu yang mengalir, mengaturnya.
Jangan sekarang… Jangan sekarang.
Aku takut dosen struktur marah padaku
He he he he he……
Lha, dosen strukturnya, aku juga….Waduh, celaka.
Depok 2 Juni 2025
BILA NANTI BELAJAR IKHLAS
Bila saatnya tiba…..
Aku tak hadir dalam zoom matkulku
Jangan curahkan kangenmu itu padanya
Begitu pun sebaliknya.
Hargai dan pagari dari rasa dan perasaan kita.
Jika kelak, memang kita tak bisa jumpa lagi. Jangan tangisi realitas yang ada.
Tetaplah dalam kusyu doa seperti yang pernah ibu ajarkan.
Kekuatan do’a lebih dari segalanya.
Jika memang takdir bukan pada muara ijab kabul.
Belajar ikhlas itu lebih baik dari segalanya.
Semoga aku tak ambruk juga….
Depok 3 Juni 2025
