Humaniora
Beranda » Humaniora » Kumpulan Puisi Imam M.Nizar Buat Orang Tersayang dari Orang Terkasih

Kumpulan Puisi Imam M.Nizar Buat Orang Tersayang dari Orang Terkasih

(Foto ilustrasi - Unsplash)
(Foto ilustrasi - Unsplash)

AYAT ETIKA MORAL DAN ADAB 

Di bawah langit cerah bersaksi.

Di pelataran bumi yang mengagungkan ini —  ada kangen dalam kebisuan dingin.

Bukan lantaran hati tak tahu arah, akan

tetapi, karena rasa cinta yang mendalam, 

Gema dari Mimbar Masjid Untuk Luka dan Duka Sumatera 

terselubung diantara jeda yang Engkau amanahkan, Yaa Robbi. 

Aku mengerti, 

siapa diriku? 

Tak lain dosen, pengajar ilmu, etika, moral dan adab — bahkan kusisipkan ayat ayat Mu kepada peserta didik, pencari terang dalam gelapnya.

Namun cahaya matanya —- sikap dan kedewasaannya, mengusik ruang kalbuku yang harusnya suci dari rasa bimbang antara logika dan perasaan. 

Ketika Ilmu Tak Disertai Adab 

Apakah ini dinamakan cinta? Ataukah ini fitnah lembut — ujian yang  Engkau selipkan, ditengah hatiku haus akan kasih sayang….. 

Heem…kudekap perasaan ini dalam do’aku, meminta sirna jika tak halal adanya.

Sebab rasa cinta, sayang dan kasih yang tak bersandar pada syariat — mungkin saja dapat  terpeleset dan menjerat celakakan niat dalam keteguhan iman. 

Yaa Rabbi yang mampu bolak-balikan hati,

jika cinta ini bukan jalan kearah Mu,

Delegasi 21 Negara Siap Ramaikan Pertemuan Akbar Bertema Ibadah Murni di ICE BSD Tangerang

padamkan dia,  seperti Engkau padamkan siang jadi malam — tanpa amuk marah, tanpa luka, hanya damai yang tersisa. Itu yang kuharap. 

Depok 1 Juni 2025

ADA CINTA DIBELAKANG MEJA UJIAN 

Ketika aku merujuk keberadaanku.

Aku  tak lain dosen, berembel embel gelar panjang seperti jalan tol Jakarta – Bandung.

Mengajarkan etika, akhlak, moral dan adab.

Siapa sangka,  diantara absensi dan tugas tugas matkul, hatiku terpeleset… jatuh, bukan kepada Tuhan, melainkan pada  peserta didikku.

Manusiawikah? Ya…..? Tidak semestinya! Bimbangku…. 

Dia hadir saat kelas zoom di menit kelima mulai. Jika dianalogikan duduk di baris kelima  dari depan —-  selalu bawa senyum, mampu mengecoh  kitab yang ku hafal saat pertemuan. Dan, selalu banyak tanya di antara tawa serta candaannya.

Aku pun mengutip ayat dan hadis dalam semangat transfer ilmu.

Padahal niat di dada sudah agak menyimpang dari hakikat. 

“Jangan dekati  yang bukan hakmu. Zina” kataku penuh iman.

Tapi  WA darinya,  aku -save dengan nama:  “Masa Depan” kadang ku delete tanpa alasan yang jelas .MasyaAllah….

Kami bicara matkul hingga skripsi atau jurnal. Akan tetapi topiknya mengarah pada  kopi senja yang menghangat.

Celakanya, setiap bimbingan, seperti membimbing batin yang sulit kumengerti sendiri. Waduh…. 

“Tuhanku” desahku dalam diam. Apakah aku dosen atau figuran sinetron belaka? Aku memang “penyanyi dangdut” yang tak Engkau ridhoi.

Berhijab rapi, tapi hati ikut lomba panjat pinang penuh syahwat hore heroik. 

Cinta  dapat dikatakan fitrah, tetapi lupa kalau fitrah pun bisa salah alamat pula.

Apalagi  bukan sekadar terpaut umur, lebih pada tanggung jawab! 

Dalam sholat, aku jadi khusyuk setengah-setengah.Separuh ingat Tuhan, sebagian lagi, bayangan pada dia yang punya kebiasaan buruk. Ngopi  ngerokok di meja kantin. Kadang ku puji juga sih. Dia macho! 

Astaghfirullah… ini mah bukan cinta suci?  Tak lebih melodrama akademik,

yang  bermuara bukan pada ijab kabul, tetapi panggilan kode etik.

Xik xik xik xik xik 

Depok 1 Juni 2025 

AKU DOSEN BERSUARA SYAHDU? 

Ya Robbi, hatiku goyah lagi

Antara syariat dan pada wajah siang menjelang sore dari peserta didikku.

Mahasiswa “nyeleneh” berlatar belakang penulis. Inikah ujian dariMu yang hadir setiap zoom matkulku? 

Statusku dosen, bukan teman seperjuangannya cari ilmu.

Hem… kuniatkan masuk ke ruang kelas zoom dengan hati yang kuajak jinak degubnya.

Kubawa buku digital , niat ikhlas mengajar.

Tetapi,  mengapa degup ku semakin deras terasa —-

saat dia menyapa, “Assalamualaikum Bu Dosen, cerdas dan enerjik,” 

Kuminta makalah tentang moral

Hatiku justeru  jadi tak normal di hadapannya.

Senyumnya lebih tajam dari jurnal seniornya.

Bikin iman goyang, seperti sinyal digital dilanda hujan lebat. 

Ya Rabbi,  pagari aku dari khilaf, 

Ini kampus, bukan mall tempat mencari kesenangan belaka. Bukan Bioskop 21 pula.

Aku pendidik, bukan gadis SMA lagi.

Tetapi saat  diskusi… hatiku melayang juga. Kenapa ya? 

Kutulis nilai UTS dan UAS nya begitu objektif.

Namun,  do’a ku penuh harap , cemas dan fantasi tak jelas. Astaghfirullah, ini cinta atau stres?

Cepatlah dia ikut program akselerasi, cepat lulus, agar tak bikin aku tertekan dan cemas lagi. 

Cukupkan aku dengan cinta-Mu

Jangan biarkan perasaanku jadi candu ya Robb.

Kalau memang dia jodohku, biar waktu yang mengalir, mengaturnya.

Jangan sekarang… Jangan sekarang.

Aku takut dosen struktur  marah padaku

He he he he he……

Lha, dosen strukturnya, aku juga….Waduh, celaka. 

Depok 2 Juni 2025

BILA NANTI BELAJAR IKHLAS 

Bila saatnya tiba…..

Aku tak hadir dalam zoom matkulku

Jangan curahkan kangenmu itu padanya

Begitu pun sebaliknya.

Hargai dan pagari dari rasa dan perasaan kita. 

Jika kelak, memang kita tak bisa jumpa lagi. Jangan tangisi realitas yang ada.

Tetaplah dalam kusyu doa seperti yang pernah ibu ajarkan.

Kekuatan do’a lebih dari segalanya. 

Jika memang takdir bukan pada muara ijab kabul.

Belajar ikhlas itu lebih baik dari segalanya.

Semoga aku tak ambruk juga…. 

Depok 3 Juni 2025