Oleh: Anne.Y.Wachyuni, S.Pd.
Malam itu, langit di atas Kampung Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, tampak begitu bersih. Bintang-bintang bertaburan, seolah menjadi saksi pergantian tahun Hijriah 1448 yang disambut dengan cara sederhana, namun sarat makna.
Jarum jam menunjukkan pukul 19.15 WIB. Di sebuah lapangan sederhana di lingkungan RW 07, puluhan anak duduk melingkar mengelilingi api unggun. Wajah-wajah polos mereka diterangi cahaya jingga yang menari-nari di antara kayu yang terbakar. Di tangan kecil mereka tergenggam lampu stik warna-warni yang sesekali digerakkan penuh keceriaan.
Tidak ada dentuman petasan. Tidak terdengar hiruk-pikuk musik yang memekakkan telinga. Yang hadir justru lantunan sholawat, do’a-do’a yang dipanjatkan dengan khusyuk, serta tawa anak-anak yang menghangatkan suasana.
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 21.00 WIB itu dipimpin oleh Ustadz Dedi Mulyadi, Kepala Madrasah Al-Ikhwan, bekerja sama dengan Karang Taruna RW 07. Menariknya, tidak ada sesi ceramah panjang dalam peringatan Tahun Baru Islam tersebut. Semua berjalan sederhana: berdo’a bersama, bersholawat, dan merenungi perjalanan hidup yang telah dilalui. Mungkin, justru di situlah letak keindahannya.
Tahun Baru Hijriah, sesungguhnya bukan tentang pesta. Kalender Islam bermula dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah—sebuah perjalanan agung yang sarat pengorbanan, keberanian, dan perubahan menuju kebaikan.
Karena itu, 1 Muharram lebih tepat dimaknai sebagai ruang jeda; kesempatan untuk berhenti sejenak, memeriksa kembali arah langkah, lalu memperbarui niat untuk menjadi hamba yang lebih baik.
Di bawah cahaya api unggun malam itu, anak-anak diajak memahami makna hijrah dengan bahasa yang sederhana: meninggalkan kebiasaan buruk dan menumbuhkan amal saleh.
Muhasabah tidak selalu harus dilakukan dalam kesunyian yang sunyi. Terkadang, duduk melingkar bersama saudara seiman, memandangi bara api yang perlahan menyala, justru menghadirkan ruang refleksi yang lebih dalam.
Apa saja kesalahan yang harus ditinggalkan? Sifat buruk apa yang perlu dilepaskan? Amal baik apa yang perlu dijaga dan ditingkatkan?
Allah Swt. berfirman dalam surah Al- Hasyr ayat 18.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap pergantian waktu bukan sekadar perubahan angka dalam kalender, melainkan panggilan untuk melakukan evaluasi diri.
Api unggun yang menyala pada malam itu pun, bukanlah bagian dari syariat ibadah. Ia hanyalah simbol kebersamaan; sarana mempererat ukhuwah dan menghadirkan kehangatan di tengah masyarakat. Nilainya terletak pada niat dan pesan yang ingin disampaikan.
Di hadapan nyala api itu, anak-anak belajar bahwa Tahun Baru Islam tidak harus dirayakan dengan kemeriahan yang berlebihan. Mereka tidak menghabiskan malam dengan petasan atau hingar-bingar yang sia-sia. Sebaliknya, mereka diajak memahami bahwa yang semestinya “dibakar” adalah kemalasan, kedengkian, amarah, serta kebiasaan buruk yang menjauhkan diri dari Allah.
Satu Muharram juga dapat menjadi momentum memperkuat tradisi ibadah di dalam keluarga. Tidak harus di lapangan terbuka. Di teras rumah yang sederhana pun, kehangatan itu dapat dihadirkan.
Keluarga dapat meluangkan beberapa menit untuk saling berbagi evaluasi diri: kesalahan yang ingin diperbaiki dan target ibadah yang ingin dicapai pada tahun mendatang.
Orang tua dapat mengajak anak-anak berdo’a bersama, memohon agar Allah senantiasa membimbing mereka di jalan yang lurus.
Selain itu, terdapat amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram, yakni puasa Tasu’a dan Asyura pada tanggal 9 dan 10 Muharram.
Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa Asyura dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa setahun yang telah lalu. (HR. Muslim).
Pada akhirnya, Tahun Baru Islam memang tidak identik dengan keramaian. Ia hadir dengan kesunyian yang mengajak hati untuk berbicara kepada pemiliknya. Mengajarkan kejujuran di hadapan Allah, tentang segala kekurangan yang selama ini mungkin disembunyikan dari manusia.
Malam 1 Muharram di Pangauban telah menunjukkan bahwa peringatan Tahun Baru Islam dapat berlangsung sederhana, tanpa kehilangan makna. Dalam lingkaran kecil anak-anak desa, di bawah langit yang cerah dan cahaya api unggun yang hangat, terselip harapan agar setiap jiwa mampu melakukan hijrah terbaiknya.
Semoga bara yang menyala pada malam itu tidak hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga membakar sifat-sifat buruk yang masih bersemayam dalam diri. Semoga tahun 1448 Hijriah menjadi awal untuk lebih mendekat kepada Allah, memperbanyak amal saleh, serta menghadirkan manfaat bagi sesama.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H.
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat. Hijrah adalah keberanian memindahkan hati dari kelalaian menuju ketaatan. Ketika hati telah berhijrah, insya Allah hidup pun akan menemukan ketenangannya.
