SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Humaniora
Beranda » Humaniora » Ketika Sebuah Penghargaan Bicara, Bukan Dari Hati Untuk Cinta

Ketika Sebuah Penghargaan Bicara, Bukan Dari Hati Untuk Cinta

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.

Dalam realitas kehidupan, ada lelaki yang memilih bertahan padanya, bukan karena ia bodoh. Ia bertahan, karena meyakini, bahwa kesetiaan adalah bahasa yang suatu hari akan dimengerti oleh hati. Ia terus “datang”, terus mendo’akan, terus memberi perhatian. Seolah cinta adalah ladang yang cukup disiram dengan ketulusan, hingga akhirnya berbuah manis, yakni kebersamaan.

Namun, hidup ternyata tidak selalu adil terhadap orang – orang yang benar tulus.
Pada suatu titik, lelaki itu tersadar. Bukan karena cintanya telah habis. Melainkan, karena kenyataan, akhirnya berbicara lebih lantang daripada harapan yang di pupuk selama itu.
“Aku tahu, dia tidak menyukaiku. Dia hanya menghargaiku, karena dia tahu, aku menyukainya.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi, bagi mereka yang pernah mencintai dengan seluruh jiwa, bisa menjelma seperti sebilah belati yang perlahan mengiris harga diri.

Ternyata, selama ini, yang ia anggap kehangatan hanyalah keramahan.Yang ia kira perhatian, ternyata sekadar kesopanan. Senyum yang ia simpan sebagai pertanda harapan, hanyalah etika agar tak melukai seseorang yang telah lebih dahulu jatuh cinta padanya.

Ketika Cinta Menjadi Jalan Menuju Allah, Bukan Sekadar Untuk Memiliki

Begitulah kehidupan, penuh warna drama. Tidak semua “pelukan” dalam obrolan panjang, bermakna rindu. Tidak semua kedekatan lahir dari cinta. Ada pula kedekatan yang bertahan, karena manfaat, kenyamanan, atau karena seseorang enggan kehilangan orang yang selalu ada ketika dibutuhkan.

Ironisnya, sebagian manusia pandai merawat kehadiran seseorang yang tidak dicintainya. Bukan untuk diperjuangkan, melainkan agar tetap tersedia saat tenaga, waktu, perhatian, atau pengorbanannya masih berguna.

Di situlah, cinta berubah menjadi transaksi yang tak pernah diakui oleh dunia nyata atau maya.
Yang satu, memberikan seluruh hati. Yang lain, hanya memberikan secukupnya agar sumber perhatian itu tidak pergi.
Satirnya, dunia sering memuji orang yang pandai menjaga hubungan. Padahal, tidak sedikit hubungan dipertahankan, bukan karena cinta. Melainkan, karena takut kehilangan “pelayan setia”  — terasa lebih rugi daripada kehilangan kekasih atau mishua.

Sungguh, betapa mahal harga sebuah ketulusan jika akhirnya, hanya dibayar dengan ucapan: “Terima kasih, kamu baik sekali.”
Padahal, yang diharapkan bukan penghargaan. Yang diinginkan cinta yang bersambut.

Ada perbedaan yang sangat jauh, antara dicintai dan dihargai. Cinta, melahirkan kerinduan, inisiatif, dan perjuangan yang saling berbalas. Sedangkan, penghargaan sering kali hanya melahirkan rasa sungkan. Ia baik karena tidak ingin dianggap cuek tak berempati. Ia dekat karena tidak ingin terlihat melukai. Tetapi hatinya tidak pernah benar-benar menetap.

HUT Ke-65 IKWI, Budaya Nusantara Jadi Perekat Solidaritas Keluarga Wartawan

Sayangnya, banyak lelaki diparuh usia, sering kali keliru membaca sinyal bahasa itu. Mereka mengira, setiap balasan pesan adalah harapan. Setiap senyuman adalah isyarat. Setiap perhatian adalah jalan menuju kebersamaan.
Padahal, bisa jadi, semua itu hanyalah sopan santun yang tengah bekerja.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan? Hem…
Jangan membenci. Bukan pula menyalahkan. Meski sudah terlalu jauh melangkah…..
Cinta memang tidak pernah bisa dipaksa.
Yang perlu dilakukan adalah melangkah pergi dengan kepala tegak. Mundur, bukan berarti kalah. Melainkan, cara paling terhormat untuk menyelamatkan martabat dan harga diri.

Berhentilah mengejar seseorang yang hanya menghargai. Tetapi, tidak pernah takut kehilangan. Sebab, orang yang benar-benar mencintai, tidak akan membiarkan kita terus bertanya tentang posisi diri di hatinya.
Jangan habiskan usia, menjadi bayang-bayang dalam hidup seseorang yang menjadikan diri sekadar pilihan, cadangan, ketika dunia sedang sepi.

Lelaki sejati, tidak diukur dari seberapa lama ia sanggup bertahan dalam penantian yang sia-sia. Ia diukur dari keberaniannya mencintai dengan tulus. Lalu ikhlas melangkah pergi, ketika cinta itu ternyata hanya bertepuk sebelah tangan.

Karena pada akhirnya, cinta bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban.
Cinta adalah tentang dua hati yang sama-sama memilih pulang.
Dan, jika hanya satu yang terus berjalan, sementara yang lain sekadar menunggu manfaat dari langkah itu —  maka yang sedang dipertahankan bukan lagi cinta.
Melainkan, ilusi yang dibungkus kesopanan.

100 Karya Terbaik Lomba Fotografi Sekolah Rakyat Dipamerkan di Galeri Cipta 1 TIM Jakarta

Biarkan ia menjadi pelajaran, bukan penjara. Sebab, harga diri yang diselamatkan hari ini, akan jauh lebih berharga daripada harapan palsu yang terus dipelihara, dalam rentang waktu yang tak jelas.

Tidak semua kehilangan adalah musibah.
Kadang,  kehilangan seseorang yang tidak pernah benar-benar mencintai kita adalah cara Tuhan mengembalikan kehormatan yang diam-diam hampir kita gadaikan atas nama cinta.

Semoga, narasi ini dapat membuka mata hati, bagi siapa pun yang pernah atau sedang mencintai dengan penuh tulus. Sekaligus, mengingatkan, bahwa ketulusan tidak boleh membuat seseorang kehilangan harga diri.
****