Oleh: Cici Cahyati
Tanjungkerta, Sumedang.
Mentari pagi pada 19 Juli 2026 lalu, seolah bersinar lebih hangat dari biasanya. Di Rumah Makan Nalarasa, Desa Cipanas, Kecamatan Tanjungkerta, puluhan wajah mungil memancarkan senyum yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sebanyak 81 anak yatim kembali menerima amanah infaq dari para donatur melalui GUPAY (Grup Pencinta Anak Yatim).
Bagi sebagian orang, bantuan itu mungkin hanya bernilai sejumlah rupiah. Namun, bagi anak-anak yang kehilangan pelukan ayah, perhatian itu adalah kabar bahwa mereka tidak berjalan sendirian menghadapi kehidupan.
Selama tiga tahun, GUPAY terus bergerak tanpa sponsor tetap. Tidak bergantung pada lembaga besar atau perusahaan. Gerakan ini hidup dari keikhlasan masyarakat setempat. Ada yang menyisihkan Rp5.000, ada pula yang mengamanahkan Rp500.000. Besarnya bukan ukuran utama. Sebab, dalam pandangan Allah, nilai sebuah sedekah tidak diukur dari angka, melainkan dari keikhlasan hati yang mengiringinya.
Sebagaimana firman Allah SWT:
وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا
Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.
(QS. Al-Insan : 8)
Ayat ini mengajarkan, bahwa kemuliaan bukan terletak pada banyaknya harta yang dimiliki. Tetapi, pada kesediaan berbagi kepada mereka yang membutuhkan, terutama pada anak-anak yatim.
Kegiatan penyaluran kembali dilaksanakan di RM Nalaras, berkat dukungan Teh Laras, pemilik rumah makan yang dengan tulus menyediakan tempat setiap kali GUPAY menggelar kegiatan. Sebuah teladan bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan dalam nominal besar: menyediakan ruang untuk berbagi pun dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah.
Dalam sambutannya, Ustadz Agus Supendi, pengelola GUPAY, mengingatkan, bahwa memuliakan anak yatim adalah amanah seluruh umat Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
“Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan berada di surga seperti ini.”
Lalu beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
(HR. Bukhari)
Ustadz Adi Hidayat, dalam banyak kajiannya menjelaskan bahwa menyantuni anak yatim bukan sekadar aktivitas sosial. Melainkan, investasi akhirat. Harta yang diberikan kepada anak yatim sesungguhnya tidak berkurang, tetapi berubah menjadi bekal yang akan menemani pemiliknya ketika seluruh kekayaan dunia telah ditinggalkan.
Sementara, Gus Baha sering mengingatkan, bahwa ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah, bukanlah seberapa banyak hartanya. Melainkan, sejauh mana harta itu menghadirkan manfaat bagi sesama. Orang yang kaya tetapi enggan berbagi sesungguhnya sedang kehilangan kesempatan memperoleh kemuliaan yang tidak dapat dibeli dengan kekayaan sebesar apa pun.
Di tengah suasana haru itu, perhatian tertuju kepada Japran, bocah lima tahun yang menerima santunan. Dengan senyum polos, ia mengaku bahagia karena setiap bulan memperoleh uang saku dari GUPAY. Dengan suara lirih, namun penuh semangat, ia berjanji akan belajar lebih rajin agar kelak menjadi pribadi yang berguna bagi banyak orang.
Janji sederhana itu terasa jauh lebih berharga, daripada pidato panjang lebar tentang masa depan bangsa.
Ironisnya, di negeri yang tidak kekurangan orang kaya, masih ada anak-anak yatim yang menunggu uluran tangan. Ada rumah yang garasinya dipenuhi kendaraan mewah. Tetapi, pintunya jarang terbuka untuk mereka yang kehilangan ayah. Ada yang begitu mudah menghabiskan jutaan rupiah untuk gengsi. Namun, merasa berat menyisihkan sedikit rezeki bagi anak yatim. Padahal, kekayaan yang tidak melahirkan kepedulian, hanyalah angka yang akan berhenti di buku rekening, bukan amal yang terus mengalir menuju kehidupan akhirat.
Allah SWT bahkan memberikan peringatan keras:
أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
(QS. Al-Ma’un : 1)
فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ
Itulah orang yang menghardik anak yatim
(QS. Al-Ma’un : 2)
Ayat ini menjadi cermin.Bahwa, kepedulian kepada anak yatim bukan sekadar anjuran moral, melainkan bagian dari keimanan itu sendiri.
Semoga setiap rupiah yang diamanahkan para donatur menjadi amal jariyah yang terus mengalir, menghadirkan keberkahan bagi harta, keluarga, dan kehidupan mereka. Terima kasih kepada seluruh donatur, relawan, serta semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan mulia ini.
Sebab, mungkin kelak bukan rumah megah, kendaraan mewah, atau saldo rekening yang menjadi penolong di hadapan Allah. Bisa jadi justru senyum seorang anak yatim yang pernah kita bahagiakan, doa yang ia panjatkan dengan tulus, dan air mata harunya yang menjadi saksi bahwa kita pernah memilih untuk peduli.
“Barangkali Allah tidak bertanya seberapa banyak harta yang pernah kita kumpulkan. Tetapi, kepada siapa harta itu pernah menghadirkan harapan. Sebab, di balik senyum seorang anak yatim, ada do’a yang menembus langit tanpa penghalang.”
Semoga Allah SWT menerima setiap amal para donatur, relawan GUPAY, dan semua pihak yang memuliakan anak yatim.
*****
