Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Sudah menjadi rahasia umum lagi dalam kehidupan ini. Tidak semua cinta ditakdirkan berakhir di pelaminan. Ada cinta yang justru ditugaskan Allah menjadi madrasah jiwa; mengajarkan sabar, keikhlasan, adab, dan tawakal. Dalam dunia yang semakin gemar memamerkan hubungan, Islam justru mengajarkan bahwa cinta yang paling mulia sering kali tumbuh dalam diam dan dijaga dengan kehormatan.
Allah SWT telah mengingatkan, bahwa rasa cinta adalah bagian dari fitrah manusia.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَـَٔابِ
Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.
(QS. Ali ‘Imran : 14)
Ayat ini, tidak mencela cinta. Yang menjadi persoalan adalah ketika cinta kehilangan arah. Ketika hati lebih bergantung kepada manusia daripada kepada Allah. Ketika rindu lebih sering mengalahkan tahajud, dan harapan kepada makhluk lebih besar daripada keyakinan kepada Rabb yang membolak-balikkan hati.
Dalam pandangan para ulama tasawuf, setiap cinta kepada makhluk adalah cermin untuk mengukur kualitas cinta kepada Sang Khalik. Imam Al-Ghazali, menjelaskan, bahwa hati akan memperoleh ketenangan sejati apabila seluruh kecintaan bermuara kepada Allah. Sementara, Ibnul Qayyim menjelaskan dalam Madarij as-Salikin bahwa hati yang dipenuhi cinta kepada Allah akan mampu menempatkan cinta kepada manusia secara proporsional: tidak berlebihan, tidak pula menafikan fitrah.
Rasulullah SAW memberikan jalan yang paling terhormat bagi dua insan yang saling mencintai:
“Tidak ada yang lebih layak bagi dua orang yang saling mencintai selain menikah.” (HR. Ibnu Majah No. 1847; dinilai hasan oleh sejumlah ulama).
Hadis ini menunjukkan, bahwa Islam tidak memusuhi cinta. Islam memuliakan cinta dengan bingkai akad, tanggung jawab, dan ibadah.
Bagi seorang yang masih lajang, mencintai seseorang tanpa bertemu setiap hari bukanlah kesalahan. Bahkan, bila rasa itu membuatnya semakin menjaga pandangan, memperbaiki akhlak, memperbanyak do’a, dan memantaskan diri. Maka, cinta tersebut dapat menjadi jalan menuju kedewasaan ruhani.
Sebaliknya, bila cinta membuat seseorang melalaikan kewajiban, melanggar batas syariat, atau menjadikan manusia sebagai pusat kebahagiaan, maka cinta itu perlu diluruskan.
Allah juga berfirman:
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ
Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
(QS. Ar-Rum : 21)
Ayat ini berbicara tentang sakinah, bukan sekadar rasa memiliki. Tentang kasih sayang yang dibangun di atas amanah, bukan sekadar gejolak perasaan.
Lalu, bagaimana jika seseorang mencintai perempuan. Dan, sang lelaki telah berumah tangga atau mungkin suatu saat hanya dapat dipersatukan melalui jalan poligami?
Islam memang tidak menutup pintu poligami. Namun, Al-Qur’an meletakkan syarat yang jauh lebih berat daripada yang sering dibayangkan.
وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُواْ فِي ٱلۡيَتَٰمَىٰ فَٱنكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۖ فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٰحِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُواْ
Jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Akan tetapi, jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat zalim.
(QS. An-Nisa’ : 3)
Ironisnya, tidak sedikit orang yang menghafal jumlahnya, tetapi lupa pada syaratnya. Yang sering dikutip adalah “dua, tiga, atau empat”, sedangkan kalimat “jika kamu khawatir tidak mampu berlaku adil” seakan hanya menjadi catatan kaki.
Padahal, keadilan dalam rumah tangga bukan sekadar membagi giliran bermalam. Ia mencakup nafkah, perhatian, penghormatan, perlindungan, pendidikan anak, hingga pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Poligami bukan panggung untuk mempertontonkan kejantanan. Melainkan, amanah yang sangat berat. Satirnya, ada yang begitu bersemangat membahas hak berpoligami. Tetapi, enggan membahas kewajiban menafkahi dengan layak, mendidik anak dengan kasih sayang, dan menjaga air mata istri dari kedzoliman. Sebagian orang ingin menambah jumlah keluarga, padahal belum selesai memperbaiki kualitas kepemimpinannya.
Maka, janganlah menjadikan ayat tentang poligami sebagai tameng bagi hawa nafsu. Sebab, Al-Qur’an turun untuk menuntun manusia menuju keadilan, bukan membenarkan keinginan yang tidak terkendali.
Dalam banyak kajian, Ustaz Adi Hidayat mengingatkan. Bahwa, setiap hukum dalam Islam selalu diikat oleh amanah dan tanggung jawab. Poligami bukan sekadar perkara “boleh”, tetapi juga tentang kesiapan memikul konsekuensi syariat yang berat.
Sementara, Gus Baha berulang kali mengajak umat agar memahami agama secara utuh, tidak memotong dalil, demi membenarkan keinginan pribadi. Kedua pesan tersebut dapat disimak melalui kanal YouTube resmi mereka sebagai rujukan, bukan dari potongan video yang beredar tanpa konteks.
Pada akhirnya, cinta yang bertauhid adalah cinta yang siap menerima dua kemungkinan: dipersatukan atau dipisahkan. Sebab, seorang mukmin yakin bahwa takdir Allah selalu lebih luas daripada rencana manusia.
Barangkali, Allah tidak sedang menolak do’a kita. Mungkin Dia sedang membersihkan hati kita, agar kelak mampu mencintai dengan lebih dewasa.
Sebab, cinta yang lahir dari jiwa yang bersih tidak akan memaksa, tidak akan merampas hak orang lain, dan tidak akan menghalalkan segala cara.
Jangan terlalu sibuk meminta agar seseorang mencintai kita. Mintalah agar Allah memilihkan siapa yang paling baik bagi agama, akhlak, dan perjalanan hidup kita. Sebab, yang paling kita butuhkan bukan sekadar pasangan hidup. Melainkan, pasangan yang menuntun langkah menuju surga.
Mencintailah dengan cara yang membuat Allah ridho. Bila cinta itu memang ditakdirkan menjadi milik kita, tak ada satu pun makhluk yang mampu menghalanginya. Namun, bila Allah memilih jalan yang berbeda.Yakinlah, bahwa Dia tidak sedang mengambil kebahagiaan kita. Dia sedang menyiapkan kebahagiaan yang lebih sesuai dengan hikmah-Nya.
Karena sejatinya, cinta kepada manusia hanyalah persinggahan. Adapun tujuan akhirnya tetap satu: cinta kepada Allah Yang Maha Kekal.
*****
