SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Humaniora
Beranda » Humaniora » Di Balik Helm Proyek, Lahir Penjaga Peradaban Islam:Mbah Riyan, Tukang Bangunan yang Karyanya Menjadi Rujukan Dunia

Di Balik Helm Proyek, Lahir Penjaga Peradaban Islam:Mbah Riyan, Tukang Bangunan yang Karyanya Menjadi Rujukan Dunia

Oleh: Anne Y. Wachyuni S.Pd, C.EQL.

Di sebuah gang sederhana di Kudus, Jawa Tengah, lelaki itu nyaris tak pernah menjadi pusat perhatian. Setiap pagi ia berangkat bekerja sebagai tukang bangunan. Tangannya akrab dengan semen, pasir, batu bata, dan adukan beton. Menjelang sore, ia kerap terlihat duduk di tepi sungai sambil memancing, menikmati kesunyian yang menjadi sahabat setianya.
Tak ada jas kebesaran. Tak ada panggung kehormatan. Tak ada kamera yang mengikutinya ke mana-mana.

Bagi para tetangga, ia hanyalah “Mbah Riyan”, seorang pekerja bangunan yang hidup bersahaja.
Namun, ribuan kilometer dari kampungnya, di ruang-ruang akademik bergengsi, namanya disebut dengan penuh penghormatan. Di perpustakaan Universitas Al-Azhar, di berbagai lembaga kajian Islam di Madinah, hingga forum-forum ilmiah internasional, ia dikenal sebagai Ibnu Harjo al-Jawi—seorang muhaqqiq yang kiprahnya menjaga warisan intelektual Islam mendapat pengakuan dunia.

Menjaga Warisan, Bukan Mengejar Sorotan
Di tengah derasnya arus zaman yang lebih mengagungkan popularitas daripada kedalaman ilmu, Mbah Riyan justru memilih jalan sunyi. Ia bukan sekadar penulis kitab. Sebagai muhaqqiq, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun meneliti, memverifikasi, membandingkan berbagai manuskrip klasik, lalu menyajikannya kembali dalam bentuk yang autentik dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Pekerjaan ini nyaris tak terdengar gemerlap. Tidak viral. Tidak pula menghasilkan tepuk tangan.

Namun, dari ruang sunyi itulah lahir sumbangsih besar bagi peradaban.
Hingga kini, Mbah Riyan telah menghasilkan 12 jilid kitab tahqiq serta lebih dari 100 karya ilmiah yang menjadi rujukan para akademisi dan penuntut ilmu di berbagai negara.
Beberapa karya pentingnya antara lain Al-Istihsan, Haqiqotuhu wa Hujjiyyatuhu, Rodd Al-Hadits Al-Dla’if bi Al-Kulliyyah, Tahqiq Al-Kalimat fi Al-Ushul Al-Fiqhiyyah, Al-Taufiq Al-Jaliy Bain Al-Asy’ariy wa Al-Hambaliy, hingga tahqiq atas karya ulama Nusantara, Is’af Al-Mutholi’ karya Syaikh Mahfudz At-Tarmasi.
Karya-karya tersebut menjadi rujukan penting dalam kajian ushul fikih, hadis, akidah, hingga tasawuf.

Muhasabah Cinta di Seruputan Kopi Pagi:Ketika Puber Kedua Menguji Akal, Iman, dan Keikhlasan

Ketika Penghargaan Tak Lagi Menjadi Tujuan

Atas dedikasinya, Mbah Riyan pernah dianugerahi MUI Awards, sebuah penghargaan bergengsi di bidang keilmuan Islam. Namun, sebagaimana jalan hidup yang dipilihnya, ia tidak datang menghadiri seremoni itu.
Tak ada pidato kemenangan. Tak ada sesi foto. Tak ada unggahan media sosial yang memamerkan pencapaiannya.
Ia tetap pulang ke rumah sederhananya. Tetap bekerja. Tetap memancing di tepi sungai.
Barangkali, tanpa perlu mengucapkannya, hidupnya telah menjadi pesan yang lebih lantang daripada ribuan kata: ilmu bukan untuk dipertontonkan, melainkan untuk diwariskan dan diamalkan.

Kesaksian Seorang Sahabat

Chandra Aditya, sahabat yang pernah tinggal satu kos dengannya semasa kuliah di Jakarta, mengenang sosok Mbah Riyan dengan penuh haru.
“Dulu saya memanggil beliau Supri, adik kelas semasa kuliah di Jakarta. Orangnya pendiam. Dalam kesendiriannya sering kali murojaah Al-Qur’an. Beliau seorang hafiz dan rajin bekerja. Sambil kuliah, beliau berjualan kebab di pinggir Masjid Al-Ikhlas Pasar Minggu. Ketika banyak orang berlomba mengejar popularitas, di belahan bumi lain ada orang berisi yang justru menjauhi popularitas. Semoga Allah memberkahi sahabat saya, Mbah Riyan Al-Jawi.” Kesaksian itu memperlihatkan bahwa kebesaran seseorang sering kali telah dibangun jauh sebelum dunia mengenalnya.

Membangun Peradaban dari Kesederhanaan

Bahagia Dalam Sunyi Berselimut Senyap: Saat Hati Pulang kepada Allah, Bukan pada Keramaian di Meja Kopi.

Kisah Mbah Riyan seperti cermin yang memantulkan wajah zaman.
Hari ini, tak sedikit orang berlomba menjadi terkenal sebelum benar-benar memberi manfaat. Ruang digital dipenuhi perlombaan mencari perhatian, sementara ruang-ruang ilmu kian sepi peminat.
Di tengah arus itu, hadir sosok yang justru membuktikan bahwa kemuliaan tidak selalu berjalan beriringan dengan ketenaran.
Ia mengangkat batu bata untuk menghidupi keluarga. Tetapi mengangkat manuskrip demi menghidupkan peradaban.
Ia mungkin tidak membangun gedung pencakar langit. Tetapi, membangun fondasi pemikiran yang akan terus berdiri, bahkan ketika usia telah selesai menjalankan tugasnya.

Popularitas akan pudar ketika sorak-sorai berhenti. Gelar akan terlupakan ketika zaman berganti. Namun, ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir menjadi amal jariyah, menembus batas ruang dan waktu.
Barangkali itulah pelajaran terbesar dari Mbah Riyan.
Bahwa, manusia tidak diukur dari seberapa sering namanya disebut. Melainkan, dari seberapa luas manfaat yang ditinggalkannya.

Di balik helm proyek yang sederhana, ternyata tersimpan seorang penjaga warisan ilmu. Di balik tangan yang setiap hari mengaduk semen, tersimpan tangan yang sedang mengokohkan bangunan peradaban Islam.
Dan bangunan seperti itu, jauh lebih kokoh daripada tembok mana pun yang pernah didirikan manusia.
******