SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Humaniora
Beranda » Humaniora » Bahagia Dalam Sunyi Berselimut Senyap: Saat Hati Pulang kepada Allah, Bukan pada Keramaian di Meja Kopi.

Bahagia Dalam Sunyi Berselimut Senyap: Saat Hati Pulang kepada Allah, Bukan pada Keramaian di Meja Kopi.

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.

Di era yang serba instan ini, keramaian begitu sangat mudah diciptakan. Ketenangan, justru menjadi barang langka. Warung-warung kopi penuh, mulut mulut gang perumahan ramai. Dan, beranda rumah ramai serta sudut-sudut perkantoran menjadi tempat berkumpul. Cangkir demi cangkir diangkat, tawa saling bersahutan.Tetapi, tidak sedikit percakapan yang berakhir pada satu kelajiman lama yang terus diwariskan: membicarakan kehidupan orang lain.

Ghibah, seolah menjadi menu yang lebih nikmat, dari pada kopi yang mengepul di atas meja. Padahal, Islam tidak pernah melarang manusia bersilaturahmi atau menikmati secangkir kopi bersama sahabat. Yang diperingatkan, ketika kebersamaan itu kehilangan ruhnya. Saat majelis yang seharusnya dipenuhi ilmu, dzikir, gagasan, dan saling menguatkan, justru berubah menjadi ruang tempat kehormatan orang lain “dipereteli” satu demi satu.

Allah Swt. berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ

Ketika Sebuah Penghargaan Bicara, Bukan Dari Hati Untuk Cinta

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
(QS. Al-Hujurat : 12)

Perumpamaan di Al-Qur’an ini sangat keras. Ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Sebuah gambaran yang mengguncang nurani agar manusia menjaga lisannya.
Rasulullah SAW  pun menjelaskan:
“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebut sesuatu tentang saudaramu yang ia tidak sukai.” (HR. Muslim, no. 2589).

Hadis ini menunjukkan, dosa lisan sering kali bermula dari sesuatu yang dianggap sepele: obrolan santai yang kehilangan kendali.
Dalam salah satu kajian di kanal official YouTube resmi, pesohor ustadz Adi Hidayat menjelaskan, bahwa seorang mukmin yang cerdas akan menggunakan lisannya untuk berdzikir, menebarkan ilmu, dan menghadirkan manfaat. Semakin tinggi kualitas iman seseorang, semakin berhati-hati ia memilih kata-kata, sebab setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Pesan serupa juga sering disampaikan oleh Ahmad Bahauddin Nursalim —  melalui pengajian di kanal resmi Gus Baha Official. Beliau mengingatkan, orang yang sibuk mengurusi aib orang lain, sering kali kehilangan kesempatan memperbaiki aib dirinya sendiri. Kesolehan bukan diukur dari tajamnya kritik kepada sesama, melainkan dari kemampuan menundukkan ego dan menjaga lisan.

Satirnya, tidak sedikit orang yang begitu bersemangat membahas kekurangan tetangga. Tetapi, malas membaca satu atau beberapa ayat di halaman Al-Qur’an. Begitu teliti menghitung kesalahan orang lain, tetapi lalai menghitung nikmat Allah yang setiap hari ia terima. Berjam-jam sanggup duduk bergerombol sambil menyeruput kopi. Namun, beberapa menit untuk bermuhasabah, terasa begitu sangat berat.

Ketika Cinta Menjadi Jalan Menuju Allah, Bukan Sekadar Untuk Memiliki

Bukan kopinya yang salah. Bukan pula kebersamaan yang keliru. Yang patut disesalkan, ketika waktu yang Allah amanahkan habis tanpa nilai ibadah. Sementara, lisan terus mengumpulkan beban dosa yang tidak terasa.
Sejatinya, bahagia itu ternyata tidak lahir dari ramainya meja perbincangan. Ia tumbuh dalam hati yang mengenal Tuhannya.
Ada kebahagiaan yang tidak memerlukan tepuk tangan. Tidak membutuhkan pujian. Tidak bergantung pada banyaknya pengikut ataupun pengakuan manusia.

Bahagia adalah ketika hati mampu menerima takdir Allah dengan lapang. Ketika sujud menjadi tempat pulang, do’a menjadi kekuatan, dan dzikir menjadi penawar kegelisahan.
Kesunyian orang yang dekat kepada Allah SWT, jauh lebih hidup daripada keramaian yang dipenuhi ghibah.
Air mata seorang hamba yang bertaubat, jauh lebih mulia daripada gelak tawa yang lahir dari mempermalukan sesama.

Inilah kebahagiaan yang tidak bersuara, sunyi berselimut senyap. Tetapi,  menggema hingga ke langit.
Semoga kita termasuk hamba yang lebih sibuk memperbaiki diri — daripada menghakimi orang lain. Semoga Allah menjaga lisan kita dari ghibah, hati kita dari kesombongan, dan waktu kita dari kesia-siaan.

Karena pada akhirnya, bukan keramaian yang akan menyelamatkan manusia. Melainkan, amal soleh yang dikerjakan dengan ikhlas. Sebagaimana firman Allah:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ

HUT Ke-65 IKWI, Budaya Nusantara Jadi Perekat Solidaritas Keluarga Wartawan

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.
(QS. Ar-Ra’d : 28)

Di sanalah, kebahagiaan yang hakiki sesungguhnya bermula: ketika hati pulang kepada Allah, dan tidak lagi diperbudak oleh hiruk-pikuk dunia.
*****
Foto-foto Rekayasa AI