Humaniora
Beranda » Humaniora » Kumpulan Puisi Tentang Dosen

Kumpulan Puisi Tentang Dosen

(Foto ilustrasi - iStock)
(Foto ilustrasi - iStock)

Oleh: Imam M.Nizar

DIBALIK LEMBARAN TUGAS

Hem, dibalik pemaparan makalah dan interaksi tanya jawab saat zoom kelasmu Bunda. 

Terpancar teduh matamu yang tak pernah lelah. Bola mata yang mampu menundukkan kaum adam.

Kau ajarkan kami, bukan sekadar ilmu di kelas zoom.

Kumpulan Puisi Ramadan

Namun, lebih pada keteguhan dalam menata langkah dalam kehidupan. 

Dan, kau datang tiap akhir pekan, selama dua jam terasa cepat berlalu – saat kau tanamkan ilmu yang kau dapati lebih awal. 

Hem dengan senyum ramah, kadang tertawa lepas hingga bernyanyi kecil, itu gayamu – hatimu menyimpan sunyi yang tak pernah runtuh sebagai seorang ibu, seorang dosen. Dan, seorang yang tengah sendiri lagi.

Tiga peran sekaligus dalam satu jiwa yang penuh peluh dan keniscayaan. 

Diam-diam aku mengagumi dalam ketegaranmu, Bunda.

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

bukan sekadar cantikmu yang melelehkan keteduhan akan waktu,

Tetapi cara kau tetap kuat melawan badai rayuan gombal.

Itu  caramu tetap berdiri saat hidup dirundung kangen. 

Bunda, bukan maksudku melanggar batas norma yang ada. Di jeda waktu, hati ini tak bisa pura-pura lagi.

Dirimu bukan sekadar dosen di mata peserta didik.

Mengelola Perbedaan dengan Hikmah: Saat Perseteruan Jadi Jalan Kedamaian

Akan tetapi, cahaya yang memantik asa di relung hati, hem…. 

Jika suatu saat, kata ini tak cukup mewakili rasa serta harapan, biarlah puisi ini bicara – tentang cinta yang diam penuh rasa hormat.

Dan doaku yang melangit di perbatasan malam, biarlah menguap bersama embun pagi.

Ku rasa,  aku hanya mimpi mendapatkan perhatian mu penuh  ikhlas.

UNTUK DIRIMU YANG SENDIRI 

Di ruang kelas zoom itu, 

dirimu berdiri atau duduk, aku tak tahu. Yang aku ketahui tatapan matamu begitu  tenang penuh wibawa. 

Suaramu menyapa peserta didik, seperti  pelangi penuh keceriaan.

Namun terbesit duka yang tak pernah kau bawa ke ranah kata. 

Kau, bunda dosen yang ditinggal waktu, menjalani hidup tak lekang ditelan waktu.

hari hari mu penuh ilmu, serta bertanggung jawab.

Namun, tak pernah tampak lemah,

seolah luka di hati sudah kau rubah menjadi cahaya dan penuntun. 

Hem, aku hanya peserta didik di baris paling belakang, tak punya suara apa pun. Terkecuali hanya rasa yang tumbuh subur diam-diam.

Bukan sebab parasmu semata,

akan tetapi, karena hatimu yang mampu menyulam sunyi menjadi arah. 

Setiap kali dirimu menjelaskan dunia dan keduniawian penuh dengan rasa sabar – aku ingin jadi bagian kecil dari hidupmu yang berat itu, untuk

menemani soremu selepas mengoreksi tugas – dan menyusup ke dalam setiap doa-doamu yang mungkin sudah lama tak berharap. 

Jika kelak,  waktu mengizinkan,

biarkan aku menjadi tenangmu yang baru – bukan sekadar  peserta didik yang mengagumimu dalam diam.

Akulah seseorang yang menanti di ujung kesendirianmu, dengan rasa cinta, sayang dan kasih yang tak banyak menuntut – hanya ingin menemani hari harimu.

Buat Bunda Dosenku. 

Saya tak pantas menulis hal ini. Akan tetapi ada rasa yang sudah terlalu lama diam dan kupendam. 

Setiap kali bunda transfer ilmu,  aku bukan hanya belajar tentang teori atau logika belaka – lebih jauh tentang ketegaran yang kau miliki, Bun.

Tentang bagaimana seorang wanita mampu berdiri kuat, meski pernah kehilangan. 

Aku melihat bunda bukan hanya sebagai pengajar. Akan tetapi, sebagai seorang perempuan yang kuat, mandiri dan layak untuk dicintai lagi. 

Bukan cinta yang tergopoh gopoh dan sontoloyo. Bukan pula yang menuntut.

Tetapi cinta yang ingin jadi pendamping, pelengkap dari hidup yang terlalu lama bunda jalani sendiri. 

Jika masih ada waktu memberi ruang, serta, bunda membuka peluang, aku menanti sini dalam diam.

Dengan rasa tulus dan niat yang dewasa.

KETIKA RASA ITU BIAS 

Dia bukan sekadar dosen belaka.

Dia perempuan yang pernah kehilangan,

Tetap mengajar dunia penuh senyuman. 

Banyak kaum adam “jatuh nyusruk” padanya – tak terkecuali peserta didiknya yang “bangor” itu.

Bukan pada ilmu yang dia beri,

lebih pada cara dia teguh berdiri, penuh senyum, sarat makna.