Humaniora
Beranda » Humaniora » Pelajaran dari Gus Baha tentang Kesombongan yang Terselubung 

Pelajaran dari Gus Baha tentang Kesombongan yang Terselubung 

(Foto ilustrasi - istimewa)

Oleh: Imam M.Nizar 

Selasa (30/9/2025) grup WhatsApp, saluran resmi Gus Baha, menulis pesan “singkat” dalam  tausiyahnya. KH. Bahauddin Nursalim ini, atau yang akrab disapa Gus Baha, menuturkan kalimatnya, begitu sederhana, namun sarat makna dan mengetuk hati siapa pun yang membacanya. 

“Istiqomah yang paling sulit, bukanlah cara berpakaian atau rajin pergi ke majelis ta’lim, melainkan sulitnya menjaga hati, agar tidak merasa lebih baik dari orang lain,” tulisnya. 

Pesan itu seolah menyingkap realitas yang sering luput dari perhatian banyak orang. Istiqomah sering dipahami sebatas konsistensi lahiriah, yakni  berpakaian yang rapi sesuai syariat, langkah ringan menghadiri majelis ilmu, atau rutinitas ibadah yang tertata. 

Namun, Gus Baha mengingatkan, ada medan yang jauh lebih berat dari sekadar ritual dan simbol luar, yaitu menjaga kemurnian hati dari penyakit ujub dan merasa lebih suci dibandingkan orang lain. 

Kumpulan Puisi Ramadan

Hakikat Istiqomah 

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman. 

Allah SWT berfirman: 

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ 

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap istiqomah, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih.”

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

QS. Al-Aḥqāf:13 

Ayat ini menegaskan, istiqomah bukan hanya mengucapkan pengakuan keimanan, tetapi juga konsistensi dalam menjaga sikap, akhlak, dan hati. Bahkan, Rasulullah SAW ketika ditanya oleh sahabat Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi tentang ajaran Islam yang paling ringkas namun menyeluruh, menjawab, 

“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqomahlah.”

(HR. Muslim) 

Jawaban singkat itu menunjukkan bahwa istiqomah mencakup seluruh dimensi hidup seorang Muslim, dari ucapan, perbuatan, hingga isi hati yang tak terlihat. 

Mengelola Perbedaan dengan Hikmah: Saat Perseteruan Jadi Jalan Kedamaian

Merasa Lebih Baik dari Orang Lain 

Dalam praktik keseharian, banyak orang terjebak pada perangkap spiritual, yakni semakin rajin beribadah, semakin besar godaan untuk merasa paling benar dan paling dekat dengan Allah. Padahal, inilah bentuk kesombongan halus yang justru merusak amal. 

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meski sebesar biji zarrah.”

(HR. Muslim) 

Kesombongan ini bukan hanya muncul dari harta, pangkat, atau kekuasaan, tetapi juga dari ibadah dan ilmu. Seseorang bisa jadi merasa lebih tinggi hanya karena ia lebih sering hadir di majelis, lebih fasih melafalkan doa, atau lebih syar’i dalam penampilan. Padahal, siapa yang tahu isi hati dan akhir hidup setiap manusia selain Allah? 

Filosofi Islam Menundukkan Hati 

Para ulama sering mengingatkan, istiqomah yang sejati adalah ketika seseorang terus berusaha memperbaiki dirinya tanpa pernah merasa lebih baik dari orang lain. 

Imam Al-Junaid berkata, “Jalan menuju Allah itu lebih halus daripada helai rambut, lebih gelap daripada malam, dan lebih tajam daripada pedang.” Maknanya, menjaga hati dari riya, ujub, dan merasa suci, jauh lebih berat daripada mengatur penampilan luar. 

Gus Baha, dengan gaya khasnya yang sederhana, justru mengajarkan kedalaman. Ia seakan mengingatkan umat bahwa istiqomah sejati bukan sekadar rajin hadir di majelis, melainkan hadirnya hati yang selalu rendah, selalu merasa butuh rahmat Allah, dan tidak berani mengukur kualitas diri dibandingkan orang lain. 

Jalan Panjang Istiqomah 

Istiqomah adalah perjalanan panjang yang tidak berhenti pada syariat luar, melainkan menukik ke dalam relung jiwa terdalam. Pesan Gus Baha menjadi oase di tengah kegersangan hati yang kadang tertipu oleh rutinitas ibadah. 

Sebab pada akhirnya, istiqomah bukan soal siapa yang paling banyak ibadahnya, tetapi siapa yang paling tulus hatinya. Allah berfirman: 

Allah SWT berfirman: 

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ 

“(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.”

QS. Asy-Syu‘arā’:88 

Allah SWT berfirman: 

اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ 

“Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

QS. Asy-Syu‘arā’:89 

Hati yang bersih, itulah puncak istiqomah. Dan menjaga hati agar tidak merasa lebih baik dari orang lain, mungkin memang istiqomah yang paling sulit, namun juga paling mulia di sisi Allah. (KH/***)