Humaniora
Beranda » Humaniora » Puncak Hidup: Ridho pada Ketetapan Allah

Puncak Hidup: Ridho pada Ketetapan Allah

(Foto ilustrasi - Istimewa)
(Foto ilustrasi - Istimewa)

Oleh: Imam M.Nizar

“Puncak dari hidup adalah ridho, menerima ketetapan yang Allah SWT telah berikan kepada kita,” ujar Ustaz Abdul Somad dalam salah satu saluran resmi dakwahnya via WhatsApp. 

Kalimat singkat itu seolah mengetuk pintu kesadaran banyak orang yang hari ini begitu mudah mengeluh atas takdir yang menimpa. 

Ridho, dalam khazanah Islam, bukan sekadar pasrah tanpa ikhtiar. Ridho adalah kelapangan hati dalam menerima apa pun yang telah Allah tetapkan, baik yang menyenangkan maupun yang terasa pahit. Seperti yang ditegaskan dalam Al-Qur’an: 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Kumpulan Puisi Ramadan

(QS. Al-Baqarah: 216) 

Dalam tafsir para ulama, ayat ini menegaskan bahwa manusia kerap terjebak dalam penilaian sempit. Kita menakar hidup dengan ukuran duniawi, sementara Allah memiliki skenario Agung yang jauh melampaui akal pikiran kita. 

Ustaz Abdul Somad menekankan, ridho bukan berarti berhenti berjuang. Justru, setelah berusaha dengan segala daya, sikap ridho adalah puncak kepasrahan—menyerahkan hasil kepada Allah SWT tanpa berburuk sangka. 

Rasulullah SAW bersabda: 

“Sesungguhnya besarnya balasan itu sebanding dengan besarnya cobaan. Dan sungguh apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan Allah, dan barangsiapa murka, maka baginya kemurkaan Allah.”

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

(HR. Tirmidzi, no. 2396) 

Kutipan hadist ini seolah meneguhkan pesan bahwa ridho adalah kunci kebahagiaan hakiki. Bukan banyaknya harta, bukan panjangnya umur, bukan pula tingginya kedudukan. Tetapi hati yang lapang menerima setiap takdir, itulah puncak dari perjalanan hidup. 

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh ambisi, pesan tentang ridho menjadi oase. Manusia modern begitu terobsesi dengan kontrol, padahal ada banyak hal di luar jangkauan tangan kita. Dan disitulah letak ujian terbesar: apakah kita akan mengeluh, ataukah memilih ridho? 

Pada akhirnya, ridho adalah seni menjalani hidup. Ia adalah ketenangan batin yang tak bisa dibeli dengan apa pun. Ketika hati sudah ridho, maka dunia terasa ringan. Seberat apapun cobaan, tak lagi menggerus keteguhan jiwa. 

Seperti doa indah yang diajarkan Rasulullah SAW 

Mengelola Perbedaan dengan Hikmah: Saat Perseteruan Jadi Jalan Kedamaian

“Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa yang Engkau takdirkan, berilah aku keberkahan pada apa yang Engkau berikan, dan gantikanlah untukku yang hilang dengan yang lebih baik.”

(HR. Ibnu Hibban) Ridho bukanlah akhir, melainkan puncak dari perjalanan iman. Dari sana, hidup menemukan arti, jiwa menemukan tenang, dan langkah menuju Allah SWT terasa lebih lapang. (KH***)