Oleh: Anne.Y. Wachyuni
“Masuk surga bukan karena ibadah, tapi atas kasih sayang Allah,” begitu kata ustazah Umma Ilmia Amalia, S.Pd, M.Pd, CH, CHT, CPHT, CNLP — dalam tausiyahnya di Masjid Al-Irsyad, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Jawa Barat, , Selasa (13/10/2025).
Lebih jauh ustazah muda yang mempunyai ilmu hypnotherapy dan pelukan ini — menguraikan panjang lebar dihadapan jemaahnya yang meluberi ruangan masjid hingga ke luar pagar.
Meskipun ibadah adalah kunci untuk mendapatkan kasih sayang Allah, lanjutnya, hal itu tidak menjamin masuk surga semata-mata karena amal ibadah itu sendiri, melainkan dari rahmat Allah yang menjadi sebab utama.
“Rahmat Allah lah yang menjadi faktor penentu utama, meskipun amal saleh adalah syarat penting untuk meraih rahmat tersebut dan sebagai cara untuk mendapatkannya, ” jabarnya.
Lalu bagaimana caranya agar mendapatkan Rahmat Alloh sehingga Neraka haram baginya?
Diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud RA. Suatu ketika, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “Maukah kalian aku tunjukkan orang yang haram baginya tersentuh api neraka?”
Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”
Rasulullah SAW pun bersabda, “(Haram tersentuh api neraka orang yang) hayyin, layyin, qarib, dan sahl.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
4 Golongan Orang yang Diharamkan dari Api Neraka:
1. Qarib
Qarib adalah golongan orang dengan pribadi hangat, akrab, gemar bergaul, dan menyenangkan. Mereka tidak memiliki sikap yang membuat orang lain tidak nyaman, terluka, ataupun tersakiti.
Sifat qarib ini datang dari perilaku tawadhu atau rendah hati. Perilaku tawadhu akan membuat seseorang nyaman dengan dirinya sendiri, sehingga orang lain juga menjadi nyaman terhadapnya.
Sebaliknya, orang yang merasa dirinya tinggi dan memandang rendah orang lain akan merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri, karena selalu menuntut orang lain untuk menghargai, menghormati dan memperlakukan secara istimewa.
2. Hayyin
Hayyin adalah golongan orang yang memiliki ketenangan lahir dan batin. Kehadiran orang yang memiliki sifat hayyin sangat menenangkan dan meneduhkan. Mereka jauh dari kata temperamental karena bisa mengontrol pikiran, perasaan, hati, dan sikapnya.
3. Layyin
Layyin adalah golongan orang yang lemah lembut, sopan, dan santun. Perkataan dan sikap dari orang yang memiliki sifat layyin adalah perkataan dan sikap yang tidak melukai, tidak memojokkan, dan tidak mempermalukan.
Contoh orang yang memiliki sifat layyin adalah Rasulullah SAW. Beliau mengasihi umatnya dengan penuh kesantunan.
4. Sahl
Sahl adalah golongan orang yang sederhana dan tidak suka berbelit-belit. Orang dengan sifat sahl melakukan segala sesuatu secara proporsional, menghadapi setiap permasalahan sesuai dengan situasi, kondisi, dan porsinya masing-masing.
Doa : Subhasna inni kuntu minadz dzoolimin
Kita ini sudah dzolim dengan mata, tangan, kaki, tubuh. Kita harus minta taubat dan ampunan. Dan ampunan Allah turun ketika kita hadir di majelis ilmu.
Pesan Adi Hidayat, kutip Umma, “Ketika masalah datang sholatlah. Kenapa harus sholat? Sholat adalah terapi karena ada obatnya. Simak tadabburi doa duduk diantara dua sujud.”
Arti perkata (doa duduk di antara dua sujud)
Rabbighfirli: Ya Tuhanku, ampunilah aku.
Warhamni: Rahmatilah aku.
Wajburni: Cukupkanlah aku / perbaikilah aku / perbaiki keadaanku.
Warfa’ni: Angkatlah derajatku.
Warzuqni: Berilah aku rezeki.
Wahdini: Tunjukilah aku / berilah aku petunjuk.
Wa’afini: Sehatkanlah aku / berikan aku kesehatan.
Wa’fu ‘anni: Maafkan aku.
Kemudian kenapa kita belum nikmat dalam sholat? Karena kita belum tahu artinya, belum paham setiap kata yang kita ucapkan dalam sholat.
Mohon ampun bertobatlah sebab bahasa cinta Allah ada dalam sholat.
Doa di antara dua sujud diawali Rabbighfirli asal kata dari Ghofaro yang artinya tutup. Allah akan tutup aibnya
Wa fuanni artinya menghapus.
Jadi kita meminta agar Allah menghapus kejelekan, keburukan dan kedzaliman kita pada catetan amal kita.
Pesan Adi Hidayat tentang sholat sebagai terapi sangat menarik. Sholat memang dapat menjadi terapi bagi jiwa dan raga.
Dalam sholat, kita dapat menemukan ketenangan dan kedamaian yang dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan.
Dalam doa duduk di antara dua sujud, kita meminta ampunan dan rahmat dari Allah. Kita juga dapat memohon petunjuk dan kekuatan untuk menjadi lebih baik.
Dengan memahami makna dan hikmah di balik doa ini, kita dapat meningkatkan kualitas sholat kita dan merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Mengambil Hikmah dari Doa Duduk di Antara Dua Sujud
Dengan memahami makna doa duduk di antara dua sujud, kita dapat mengambil beberapa hikmah, antara lain:
- Meminta ampunan dan rahmat dari Allah.
- Meningkatkan kesadaran akan dosa-dosa kita dan berusaha untuk bertaubat.
- Memohon petunjuk dan kekuatan untuk menjadi lebih baik.
- Meningkatkan kualitas sholat dan merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, kita dapat meningkatkan keimanan dan kualitas hidup kita sebagai seorang muslim.
Ketika kita mendapatkan masalah artinya Allah memang mengambil dari hal yang tidak disangka seperti anak, jabatan, harta, kebahagiaan, rumah tangga). Tetapi Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang tidak kita sangka.
Jika kita inginmendapatkan kesenangan dan ketenangan tidak akan kita dapati di dunia.
Lalu siapa yang kita teladani. Dunia bukan tempatnya kesenangan dan ketenangan. Rasul mengikat talinya pada perut, menggambarkan betapa Rasul tidak mendapatkan kesenangan saat itu.
Kesenangan yang mana yang kita kejar sampai kita tidak bisa tidur, dunia bagian mana yg kita kejar sampai kita sakit mental?
Tempat pulang kita adalah Allah.
Dawamkanlah doa ini :
Yaa muqollibal qulub, tsabit quluubuuna, alaa diinik. Wa ala tho ‘aatiq.
Seusai kajian tusyiah, banyak jemaah yang berharap turut serta dalam “pengobobatan” hypnotherapi untuk dipeluk oleh Umma.
Hal ini yang menjadi sensasinya. Langit Padalarang yang siang itu terasa menyengat, seolah terasa sejuk dalam pelukan ustazah sejuta pelukan. (KH/***)
