Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Syahid Ali yang Mencari Hakikat Kehidupan

[Cerpen] Syahid Ali yang Mencari Hakikat Kehidupan

Oleh: Supria (Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Bandung)

Di sebuah desa kecil bernama Baiturraudhah, hiduplah seorang pemuda bernama Syahid Ali. Ia dikenal sebagai anak cerdas, rajin mengaji, dan sangat patuh pada orang tuanya. Tapi ada satu hal yang selalu membuatnya gelisah: “Untuk apa aku hidup?” Sebuah pertanyaan yang terus bergema dalam hatinya, bahkan saat ia bersujud dalam tahajud yang hening. 

Setiap pagi ia membantu ayahnya menggembala kambing, sore belajar di pondok, dan malamnya dihabiskan dengan tilawah. Namun semua itu terasa hampa. “Mengapa manusia harus lahir, tumbuh, lalu mati? Apakah hanya untuk makan, bekerja, dan tidur?” tanyanya pada dirinya sendiri. 

Suatu hari, Syahid meminta izin kepada ayah dan ibunya untuk bepergian. “Aku ingin menuntut ilmu ke negeri seberang, Ayah, Ibu. Tapi lebih dari itu… aku ingin mencari makna sejati dari kehidupan ini.” 

Ayahnya memandang dalam ke matanya, lalu mengangguk. “Pergilah, Nak. Tapi ingat, carilah dengan hatimu, bukan hanya dengan akalmu.” 

Pemerintah Tetapkan Iduladha 1447 Hijriah Jatuh pada Rabu 27 Mei 2026

Perjalanan Dimulai 

Syahid Ali memulai perjalanannya. Ia berjalan kaki dari satu desa ke desa lain, menginap di masjid-masjid, bertukar pikiran dengan para ulama, dan berdialog dengan para petani, buruh, hingga pedagang. Ia bahkan tinggal di pegunungan bersama para sufi selama tiga bulan. 

Namun, semua jawaban yang ia dengar hanya membuat pikirannya semakin penuh, bukan tenang. 

Hingga suatu hari, ia bertemu dengan seorang lelaki tua yang sedang menanam pohon di tepi sungai. Tangan tuanya gemetar, namun tetap menancapkan bibit dengan semangat. 

“Wahai Kakek, mengapa engkau menanam pohon? Engkau sudah tua. Mungkin tidak sempat menikmati buahnya,” tanya Syahid penasaran. 

Merawat Hati, Menjaga Iman, dan Bertahan di Tengah Gelapnya Fitnah Zaman 

Lelaki tua itu tersenyum. “Aku menanam bukan untukku. Tapi untuk anak-anakku, cucuku, dan orang-orang yang akan lewat di sini kelak. Hidup bukan tentang seberapa banyak kita menikmati, tapi seberapa banyak kita memberi.” 

Kata-kata itu membuat Syahid terdiam lama. Ia kembali mengingat hidupnya selama ini: selalu mencari untuk dirinya sendiri.

Malam itu, Syahid duduk di tepi sungai, menatap bintang. Ia menyadari sesuatu. Hakikat kehidupan bukan hanya untuk mencari, tapi untuk menjadi. Menjadi cahaya dalam gelap, menjadi sejuk dalam panas, menjadi manfaat bagi sesama. 

Ia kembali ke desanya, namun dengan jiwa yang baru. Ia mengajar anak-anak mengaji, membantu para petani mengolah sawah, dan merawat orang tua yang sakit. 

Dan suatu hari, seorang anak bertanya padanya, “Ustaz Syahid, kenapa Ustaz selalu tersenyum dan tidak pernah terlihat lelah?” 

Cerbung: Anak Santri di Lorong Gemerlap [Bagian 4]

Syahid menatap anak itu dan menjawab, “Karena aku telah menemukan jawaban dari pencarianku. Hidup bukan tentang berapa lama kita hidup, tapi bagaimana kita menghidupkan hidup itu. Hidup bukan hanya tentang aku… tapi tentang kita semua.”

Syahid Ali tak pernah menulis buku, tak pernah menjadi orang terkenal, tapi kisah hidupnya selalu dikenang oleh orang-orang di desanya sebagai seorang yang menemukan hakikat kehidupan melalui pengabdian dan keikhlasan. (KH/***)