Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Meraba Takdir di Kasta Berbeda

[Cerpen] Meraba Takdir di Kasta Berbeda

Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd.

Di ruang kuliah pascasarjana yang sejuk,  waktu berjalan dengan caranya sendiri. Ia tidak tergesa, tetapi juga tidak pernah berhenti. Di antara deretan kursi mahasiswa yang sebagian besar telah beruban oleh tempaan waktu, berdirilah seorang perempuan bernama Suna.
Mahasiswa memanggilnya dengan penuh adab dan hormat: Bunda Dosen Suna.

Usianya masih belum genjil 45 thn.  Keteduhan wajahnya membuat siapa pun merasa nyaman berada di dekatnya. Sejak beberapa tahun lalu, ia menjalani hidup sendiri lagi —  setelah ditinggal sang suami “hijrah”  tuk selamanya. Kesedihan yang dahulu pernah menggerogoti hatinya, kini telah berubah menjadi kebijaksanaan yang tenang. Ia mengajar psikologi.

Bagi sebagian mahasiswa, psikologi hanyalah mata kuliah. Namun, bagi Suna, psikologi adalah jalan memahami luka manusia tanpa menghakimi.
Pada semester itu, ada seorang mahasiswa yang diam-diam memperhatikannya. Namanya Fauzar.

Lelaki itu berbeda. Usianya tidak muda, tetapi belum bisa disebut tua. Penampilannya selalu rapi. Kemeja bersetrika sempurna. Alas kaki, meski kadang bersandal kulit, selalu bersih. Jam tangan klasik menghiasi pergelangan tangan kirinya — kalau dia memakainya.
Jika mahasiswa lain datang dengan gaya biasa, Fauzar datang seperti seorang pria yang mengerti cara menghormati dirinya sendiri.

[Cerpen] AIR MATA TAK AKAN MENJADI ANAK SUNGAI: Gamang Menentukan Arah Pulang

Beberapa mahasiswa menjulukinya:
“Daddy fashionable.”
Julukan itu sebenarnya tidak berlebihan.
Namun, bukan penampilan yang membuat Suna  jadi turut serta memperhatikannya.
Dalam banyak candaan, Fauzar kerap  ngeyel. Tapi, bukan itu jadi pusat Dosen Suna ini.
Melainkan, caranya berbicara. Cara berpikirnya. Dan, terutama caranya menghormati orang lain.

Setiap kali kuliah dimulai, Fauzar yang memedam rasa selalu berdiri ketika Dosen Suna memasuki kelas.
“Silakan duduk, Pak Fauzar.”
“Adab dulu, Bunda Dosen,” jawabnya santai sambil tersenyum khas.
Celoteh sederhana itu, entah mengapa selalu membekas di benak Suna.
Di sisi lain, Fauzar sendiri menyimpan sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.Ia menyukai mata kuliah psikologi. Awalnya, hanya karena ingin memahami manusia.

Namun, lama-kelamaan, ia menyukai cara Dosen Suna mengajar. Perempuan itu tidak sekadar menyampaikan teori.
Ia menghidupkan teori.
Ketika menjelaskan tentang kehilangan, matanya berbicara.
Ketika menjelaskan tentang ketabahan, senyumnya berbicara.
Dan, ketika menjelaskan tentang cinta yang matang, seakan seluruh perjalanan hidupnya ikut menjelaskan. Ya, begitulah Dosen Suna.

Bagi Fauzar, itu menarik. Sangat menarik.
Apalagi setelah suatu hari Suna bertanya di kelas.
“Menurut Pak Fauzar, apa definisi kebahagiaan?” Kelas hening.
Fauzar berpikir beberapa detik.
Lalu menjawab.
“Kebahagiaan adalah saat kita tidak lagi memaksa takdir mengikuti keinginan kita.”
Seluruh kelas terdiam. Suna ikut terdiam.

Jawaban itu, terdengar sederhana.
Namun, terasa seperti lahir dari perjalanan hidup yang panjang di tempa waktu. Belakangan, Suna mengetahui dari berapa akun media sosialnya. Ternyata, Fauzar bukan sekadar mahasiswa biasa.
Ia pernah menjadi wartawan senior di sebuah perusahaan media besar di negeri ini. Pernah meliput konser musik nasional dan internasional.
Pernah mewawancarai artis-artis terkenal, kelas lokalan maupun dunia.
Bahkan, pernah menjadi pencipta lagu dan produser bagi beberapa penyanyi ternama.
Dunia hiburan yang gemerlap, pernah menjadi rumahnya.

Rindu Yang Tak Diizinkan Langit Ketika Cinta Menjadi Jalan Pulang Menuju Keikhlasan

Suna pun tambah tertarik, sebab pernah ditempa sang ayah di dunia entertaiment. Menyanyi dari panggung ke panggung saat masih sekolah dasar — lantaran memang hobi. Dan, pernah jadi model — saat usia remaja. Pikir Suna, yang pernah gagal mewakilin kotanya untuk ajang pencarian bakat nyanyi di televisi nasioanal — melihat Fauzar, tumbuh diam diam, bakat yang tertundanya, mungkin saja bisa dikerjasamakan dan direalisasikan untuk bisa masuk dunia rekaman. Sayang, pikir Suna lagi. Fauzar telah membelokan halauan hidupnya.

Kini  Fauzar memilih jalan berbeda.
Jalan tarbiyah.
Jalan hijrah.
Jalan ilmu.
Suna kagum.
Sangat kagum.
Di usia ketika banyak orang menikmati hasil hidupnya, Fauzar justru kembali duduk di bangku kuliah sebagai murid.
Tidak semua orang memiliki keberanian seperti itu.

Hari-hari berlalu. Kagum berubah menjadi perhatian. Perhatian berubah menjadi rasa yang sulit dijelaskan.
Namun, keduanya sama-sama berhati-hati.
Sangat berhati-hati.
Terutama, bagi Fauzar.
Baginya, Suna adalah perempuan yang terlalu tinggi untuk diraihnya.
Perempuan terpelajar.
Dosen pascasarjana. Sebentar lagi menyandang gelar: Profesor.
Terhormat.
Sementara dirinya?
Ia hanya mahasiswa biasa di tinggal waktu.
Meski pengalaman hidupnya panjang, ia merasa sedang memulai semuanya dari nol.
Sering kali ia menertawakan dirinya sendiri.
“Jangan mimpi, Zar. Nanti, pungguk merindukan bulan.”
Begitu ia berbicara pada bayangannya di cermin malam, senyap.
“Kamu mahasiswa. Dia dosen.”
Fauzar merasa ada jurang yang tidak terlihat mata.
Jurang kasta.
Bukan kasta kekayaan.
Bukan kasta keturunan.
Melainkan kasta posisi dan kehormatan.
Karena itu, Fauzar memilih diam.
Mengagumi secukupnya.
Menghormati sepenuhnya. Tulus penuh ikhlas.

Suatu sore,  setelah kuliah selesai, hujan turun perlahan.
Mahasiswa satu per satu pulang.
Tinggal Fauzar yang masih duduk di teras kampus. Menunggu reda.
Tak lama kemudian Suna keluar membawa beberapa buku.
“Belum pulang, Pak Fauzar?”
“Hujan, Bunda Dosen….”
“Kebetulan.”
“Kebetulan apa?”
“Saya juga sedang menunggu hujan.”
Mereka tertawa.
Untuk pertama kalinya mereka berbicara tanpa suasana kelas.Tanpa podium.
Tanpa jarak antara dosen dan mahasiswa.
Hanya dua manusia yang sedang menunggu hujan reda.
Di sela percakapan itu, Suna bertanya pelan.
“Pak Fauzar pernah jadi jurnalis, produser dan pencipta lagu ya….?”
Fauzar tersenyum tipis.
“Maaf, sekarang aktivitasnya apa yang dilakukan?” tanya Suna lagi.
“Saya berteman dengan Tuhan.”
Suna menunduk.
Entah mengapa dadanya terasa hangat.
Hujan semakin rapat.
Angin membawa aroma tanah basah.
Suna memandang halaman kampus yang mulai berkabut.
Lalu berkata lirih.
“Kadang saya berpikir, hidup ini lucu.”
“Kenapa, Bunda?”
“Kita dipertemukan banyak orang. Tapi hanya sedikit yang benar-benar mengerti kita.” Fauzar tidak menjawab. Karena ia tahu. Kalimat itu bukan sekadar kalimat.
Melainkan, serpihan kesepian dan luka yang selama ini disimpan Suna.

Untuk beberapa saat mereka hanya diam.
Mendengarkan suara hujan.
Masing-masing berbicara dengan hatinya sendiri. Sejak hari itu, keduanya tidak pernah mengucapkan kata cinta.
Tidak pernah saling mengaku.
Tidak pernah saling menjanjikan apa pun.

[Cerpen] Mata Air Tak Pernah Menjadi Anak Sungai

Namun, ada sesuatu yang tumbuh.
Perlahan. Diam-diam. Seperti akar pohon yang bekerja di bawah tanah.
Tidak terlihat.
Tetapi nyata.
Mereka sama-sama memahami, bahwa cinta pada usia matang bukan lagi tentang memiliki.
Melainkan menghormati.
Menjaga. Dan mendo’a kan.
Karena, kadang-kadang, cinta yang paling tulus justru lahir dari kehati-hatian.

Pada suatu malam, Fauzar menulis dalam buku notes digitalnya
“Aku tidak tahu apakah takdir akan mempertemukan kami pada satu jalan yang sama?
Aku hanya tahu, bahwa Allah tidak pernah mempertemukan dua jiwa tanpa alasan.
Mungkin, kami hanya dipertemukan untuk saling belajar.
Mungkin juga, untuk saling menyembuhkan.
Dan, jika kelak takdir benar-benar membuka pintunya, semoga aku datang bukan sebagai lelaki yang meminta cinta…..
Tetapi, sebagai lelaki yang pantas menerima kepercayaannya.”

Di tempat berbeda, Suna menutup buku psikologinya.
Lalu menatap langit malam dari jendela rumahnya.
Dan, untuk pertama kalinya — setelah beberapa tahun hidup sendiri, ia tersenyum.
Senyum yang lahir dari harapan.
Harapan yang belum berani diberi label.
Karena keduanya masih berada di persimpangan awan.
Masih meraba-raba takdir.
Di jalur yang terasa berbeda kasta.
Namun, siapa yang tahu isi rahasia langit?
Bukankah sering kali cinta menemukan jalannya, justru ketika manusia berhenti memaksakan arah?

Dan, terkadang manusia hanya mampu meraba takdir dari kejauhan. Namun, Tuhan telah lebih dahulu mengetahui ke mana hati akan berlabuh.
*****
Depok, 9 Juni 2020
Buat Bunda Dosen:
Dr Maria Susana “Suna” Yudianti, S.Pd, M.Pd.
Foto – foto hasil rekayasa AI