Tiga puluh tiga tahun, bukan sekadar hitungan usia pernikahan. Ia adalah perjalanan panjang yang dibangun dari cinta, kesabaran, pengorbanan, sekaligus luka yang berkali-kali datang menguji.
Rumah tangga itu pernah berdiri di tengah masa-masa yang terbilang mapan.
Sang suami, dikenal sebagai wartawan hiburan, pencipta lagu, sekaligus produser. Ia hidup di lingkungan yang dipenuhi sorotan, popularitas, dan wajah-wajah yang selalu tampak lebih muda dari waktu.
Dunia, sering kali menawarkan godaan dalam bentuk yang paling indah.
Namun, seperti kata para ulama, manusia tidak selalu diuji dengan kesulitan. Kadang, ia diuji justru ketika segala sesuatu tampak mudah.
Di balik kehidupan — yang terlihat baik-baik saja, sang istri berkali-kali menjadi benteng terakhir keluarga. Ia belajar menelan kecewa tanpa suara. Menyembunyikan air mata dari anak-anaknya, dan tetap menjaga rumah itu agar tidak runtuh diterpa badai.
Ketika usia mulai menua, dan kesehatan menjadi pengingat bahwa hidup tidak selamanya panjang, sang suami mengambil keputusan besar. Ia memilih pensiun dini.
Ia ingin hijrah.
Hari-harinya mulai diisi dengan tarbiyah, majelis ilmu, kajian-kajian agama. Dan, pencarian makna hidup yang lebih hakiki. Ia ingin menempuh jalan pulang sebelum waktu benar-benar habis.
Namun, justru ketika langkah menuju Allah mulai diperbaiki, masa lalu datang mengetuk kembali.
Suatu hari saat duduk di beranda rumah, sebuah telepon masuk.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Abang masih kenal saya? Masih ingat suara saya?”

Suara itu, berasal dari perempuan yang pernah menjadi cinta pertamanya. Perempuan yang telah hilang dari hidupnya selama dua puluh delapan tahun.
Sang suami, terdiam sejenak. Lalu menyebut nama lengkap perempuan itu.
Di ujung telepon terdengar isak yang tertahan.
“Bang, saya ingin bertemu. Sebelum saya menyesal. Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan. Ibu saya juga masih hidup. Guru agama Abang waktu sekolah dasar dulu.”
Permintaan itu semula ditolak. Berulang kali.
Namun, takdir sering kali memiliki jalannya sendiri. Dalam masa pensiunnya, sang suami sesekali menjadi pengemudi Grab menggunakan mobil pribadinya. Ia kerap menunggu penumpang di sekitar Stasiun dimana sang mantan tak jauh berdomisili. Dari sanalah pertemuan yang semula ingin dihindari akhirnya terjadi.
Pertemuan pertama.
Kemudian kedua.
Lalu berikutnya.
Hingga suatu hari, ia dipertemukan dengan seorang guru tua yang duduk di kursi roda. Perempuan renta yang dahulu pernah mengajarinya mengaji saat sekolah dasar.
“Ini Nak Imam, ya?” ucap perempuan tua itu sambil tersenyum.
“Ada suara Nak Imam…. ibu masih dengar.”
Kalimat sederhana itu membuka kembali pintu kenangan yang telah lama terkunci.
Dari sang mantan, ia mendengar kisah kehidupan yang selama ini tidak pernah diketahuinya. Tentang pernikahan yang menurut pengakuannya menyisakan banyak tanda tanya.
Tentang keluarga suami yang tak pernah benar-benar dikenalnya.
“Bahkan sampai sekarang, saya tidak pernah melihat buku nikah saya sendiri,” katanya lirih.
“Saya juga tidak pernah tahu foto-foto pernikahan saya di mana.” jelasnya.
Lalu, dengan mata berkaca-kaca, perempuan itu mengungkapkan sesuatu yang selama puluhan tahun dipendamnya.
“Dahulu, saya tidak pernah meninggalkan Abang.”
“Saya selalu mencari Abang setelah pulang sekolah.”
“Saya sering datang ke pasar tempat Abang jualan tahu Cina sampai malam.”
“Tapi saya tidak pernah menemukan Abang di sana.”
“Saya lupa dengan Abang, ya saat di dalam rumah. Tigaratus meter jauh dari rumah, saya gekisah pingin ke temu dengan Abangku….
Sampai akhirnya saya dinikahi oleh bapaknya anak anak….saya benar benar gelap, ” cetitanya. Seolah dalam pernikahan teesebut: Dukun bicara.

Kalimat itu mungkin hanya kenangan bagi sebagian orang. Namun, bagi dua hati yang pernah saling menyimpan rasa, ia menjadi bara yang kembali menyala.
Hubungan yang awalnya sekadar silaturahmi, perlahan berubah menjadi kedekatan emosional.
Mereka tidak menyadari bahwa nostalgia sering kali lebih berbahaya daripada pertemuan baru.
Sebab, ia membawa manusia kembali kepada versi dirinya yang pernah sangat dicintai.
Dan, di situlah luka mulai lahir.
Sang istri mengetahui semuanya.
Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada pintu yang dibanting.
Namun, ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Kepercayaan yang retak.
Rumah tangga mereka tetap bertahan. Tidak ada perceraian. Tidak ada perpisahan.
Tetapi, sejak saat itu, kehangatan perlahan kehilangan makna.
Mereka tetap bersama, namun tidak lagi sedekat dulu. Bahkan hubungan suami istri yang selama puluhan tahun menjadi bahasa kasih, perlahan berhenti tanpa pernah diumumkan.Mati suri….
Semua berjalan seperti biasa.
Tetapi tidak lagi sama.
Puncak luka itu terjadi ketika anak kedua mereka mendatangi kediaman perempuan yang pernah menjadi cinta pertama sang ayahnya.
Sejak saat itu, hubungan tersebut berakhir.
Namun, sebagaimana kaca pecah, lalu direkatkan kembali, bentuknya memang masih utuh, tetapi bekas retaknya tidak pernah benar-benar hilang.
Luka sang istri masih tersimpan hingga kini.Dan, ketika perlahan ia mencoba mencairkan hatinya, ia kembali merasa sang suami mengulangi pola yang sama kepada sosok lain yang berbeda.
Seolah hidup, sedang mengulang pelajaran yang belum selesai.
Padahal, perempuan itu tetap memilih bertahan.
Ia tetap membesarkan ketiga putrinya.
Tetap menjaga nama baik keluarga.
Tetap mendampingi, lelaki yang pernah berkali-kali membuat hatinya hancur luka menganga.
Kini, usia mereka telah sampai di gerbang senja.
Rambut memutih.
Tenaga berkurang.
Anak-anak telah dewasa.
Cucu-cucu telah hadir.
Dan, kehidupan mulai memperlihatkan mana yang benar-benar berharga.
Di titik inilah, sebuah pertanyaan muncul.
Siapakah sesungguhnya pemenang dalam perjalanan tiga puluh tiga tahun itu?
Barangkali, bukan lelaki yang pernah dikelilingi banyak kekaguman.
Bukan pula perempuan-perempuan yang pernah mencintainya.
Pemenangnya adalah perempuan yang tidak pergi dari rumah yang dibangun bersama sejak awal.
Perempuan yang memilih bertahan, ketika hatinya patah.
Perempuan yang tetap menjaga rumah, ketika badai datang dari berbagai arah.
Sampai hari ini, rumah itu masih ada.
Anak-anak tetap memiliki ayah dan ibu.
Dan, di beranda yang sama, mereka masih dapat duduk berdampingan, menikmati secangkir kopi dan teh hangat sambil mengenang perjalanan hidup yang begitu panjang.
Pada akhirnya, tepuk tangan manusia tidak pernah lebih panjang daripada gema suara azan yang memanggil pulang.
Dan, sang suami, akhirnya memahami sesuatu yang selama ini terlambat disadarinya:
Bahwa, jalan pulang bukanlah tentang menemukan kembali cinta pertama.
Bukan pula, tentang mengulang kenangan yang pernah hilang.
Jalan pulang adalah kembali kepada Allah.
Lalu meminta maaf kepada orang yang paling setia menunggu di rumah.
Sebab, setelah semua kekaguman memudar, setelah semua cerita lama kehilangan pesonanya, yang tersisa hanyalah satu pertanyaan:
Masih adakah seseorang yang bersedia menggenggam tangan kita hingga akhir perjalanan?
Dan, bagi lelaki itu, jawabannya telah ada selama tiga puluh tiga tahun.
Perempuan yang tidak pernah pergi, meski badai terus menguncangnya.
*****
