Refleksi Diri Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H
Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd.
Tak ada yang lebih jujur, dari pada cermin pada suatu malam. Ia tak pernah berdusta. Di sana, garis-garis usia mulai tampak samar di wajah yang dahulu begitu percaya diri, menantang dunia. Uban tumbuh diam-diam, tenaga tak lagi sekuat dulu, anak-anak yang dahulu digendong, kini telah menjulang tinggi.
Namun, anehnya, hati ini masih merasa muda; seolah maut hanya singgah di rumah orang lain. Di situlah air mata diam-diam menemukan jalannya.
Ternyata, kita sudah berada di gerbang senja. Ada beberapa penyakit, telah menghampiri raga. Kolestro, asam urat, tensi darah tinggi.
Tetapi, masih gemar menyusun rencana dunia yang seolah tak berkesudahan.
Kita begitu mahir menghitung laba dan rugi dalam urusan materi. Namun, gagap ketika diminta menghitung berapa banyak sujud yang khusyuk, berapa kali Al-Qur’an ditadabburi, atau berapa banyak luka hati orang lain yang pernah kita sembuhkan.
Kita membangun rumah yang megah di bumi, tetapi lupa menata “rumah” yang sebenarnya di akhirat.
Betapa satirnya hidup ini.
Kita takut miskin, tetapi tidak takut pulang kepada Allah dalam keadaan bangkrut amal.

Padahal Allah telah mengingatkan di surah Al Hasyar (59) ayat 18
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Hari esok dalam ayat itu, bukan sekadar hitungan satu pekan. Senin – Minggu. Ia adalah hari ketika seluruh topeng terlepas; ketika jabatan, gelar, dan pujian manusia tak lagi bernilai. Hari, ketika yang ditanya bukan seberapa terkenal kita, melainkan seberapa tulus kita beribadah.
Dalam dunia tasawuf, para ulama sering mengingatkan, bahwa hakikat hijrah bukan sekadar berpindah tempat. Melainkan, berpindah keadaan: dari lalai menuju sadar, dari sombong menuju tunduk, dari cinta dunia menuju cinta kepada Allah.
Imam Al-Ghazali pernah menegaskan. Bahwa, penyakit terbesar manusia adalah ghaflah—kelalaian hati. Kita tahu bahwa kematian pasti datang, tetapi menjalani hidup seolah tidak akan pernah mati.
Barangkali inilah mengapa Tahun Baru Islam selalu membawa suasana berbeda. Ia bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah.
Ia adalah panggilan sunyi, untuk bertanya kepada diri sendiri:
“Sudah sejauh mana langkah hijrahku?”
Jika Rasulullah SAW berhijrah demi menyelamatkan iman, maka hijrah kita hari ini adalah menyelamatkan hati dari kerasnya dunia.
Allah Yang Maha Pengasih tidak pernah menutup pintu kepulangan.
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini seperti pelukan bagi jiwa yang letih.
Allah tidak berkata, “Kamu sudah terlambat.”
Allah hanya meminta kita kembali.
Selama napas masih berhembus, selama matahari belum terbit dari barat, kesempatan itu masih ada.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.”
(HR. Tirmidzi)

Ustadz Adi Hidayat, dalam salah satu ceramahnya pernah mengingatkan. Bahwa, manusia sering kali baru menyadari pentingnya bekal akhirat ketika kesempatan mulai menyempit.
Karena itu, menurut beliau, jangan menunggu menjadi baik ketika semua urusan dunia telah selesai. Sebab urusan dunia tidak akan pernah benar-benar selesai.
Sementara itu, Ustadz Abdul Somad kerap mengingatkan. Bahwa, kuburan bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Melainkan, gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya. Maka orang yang cerdas bukanlah yang paling banyak hartanya, tetapi yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Mungkin kita tidak mampu melakukan amalan-amalan besar. Namun, Allah tidak pernah mengukur dengan ukuran manusia.
Mulailah dengan taubat yang sungguh-sungguh. Menangislah jika perlu.
Bukan karena dunia yang tak sesuai harapan, tetapi karena dosa-dosa yang terlalu lama dipelihara.
Perbanyaklah istighfar. Hidupkan kembali sholat yang berlubang lubang.
Dekatilah Al-Qur’an yang telah lama berdebu di rak-rak rumah.
Perbaiki hubungan dengan orang tua.
Datangi mereka yang pernah kita sakiti.
Karena bisa jadi, jalan pulang kepada Allah terbuka melalui pintu maaf sesama manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.”
(HR. Tirmidzi)
Mengingat mati, bukan untuk membuat hidup menjadi muram. Justru sebaliknya. Ia membuat kita lebih jujur dalam mencintai, lebih bijak dalam berbicara, dan lebih berhati-hati dalam melangkah.
Dalam dunia tasawuf dikenal sebuah ungkapan:
“Maut bukanlah akhir perjalanan seorang pecinta Allah. Ia hanyalah perpindahan dari ruang yang sempit menuju keluasan kasih-Nya.”
Maka, wahai diriku sendiri…
Jangan terlalu bangga jika dunia memujimu. Karena, pujian manusia tidak dapat menerangi liang lahat.
Jangan terlalu larut mengejar yang fana.
Karena, semua yang kita genggam akan terlepas, kecuali amal saleh yang kita bawa.
Dan, jangan pernah berkata bahwa usia sudah terlambat untuk berubah.
Sebab, selama jantung masih berdetak, Allah masih membuka pintu-Nya.
Tahun Baru Islam 1448 Hijriah ini semoga momentum — menjadi titik balik.
Bukan sekadar pergantian kalender.
Tetapi, pergantian arah.
Dari sibuk mengejar dunia, menuju sibuk mempersiapkan akhirat.
Dari hati yang keras, menuju hati yang lembut.
Dari dosa yang berulang, menuju taubat yang sungguh-sungguh.
Jika hari ini air mata jatuh karena takut kepada Allah, jangan segera mengusapnya.
Barangkali itulah tanda bahwa iman belum sepenuhnya padam.
Maka bangkitlah.
Ambillah air wudhu.
Hamparkan sajadah.
Lalu bisikkan dalam sujud paling panjang:
“Ya Allah, hamba-Mu yang penuh dosa ini kembali kepada-Mu. Jangan Engkau palingkan hatiku setelah Engkau beri petunjuk. Terimalah taubatku, bimbinglah langkah hijrahku, dan wafatkan aku dalam keadaan husnul khatimah.”
Sebab ternyata…
kita memang sudah berada di ujung senja.
Namun, selama Allah masih mengizinkan kita bernapas, selalu ada kesempatan untuk pulang.
1 Muharram 1448 H kali ini, semoga hijrah bukan hanya berpindah kata. Melainkan, berubah menjadi nyata.
Aamiin……
******
Depok, 15 Juni 2026
