Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Ada ironi yang kian nyata di negeri ini. Di satu sisi, gedung-gedung pencakar langit terus menjulang berebut tunggi. Dan, pusat perbelanjaan dipenuhi barang-barang mewah. Serta, angka kekayaan sebagian kalangan terus bertambah. Di sisi lain, harga kebutuhan pokok melambung, biaya pendidikan dan kesehatan semakin berat dijangkau. Sementara, di sudut-sudut kampung masih banyak keluarga yang harus menghitung sisa uang demi membeli beras untuk esok hari.
Yang paling menyayat hati, di tengah segala kemewahan itu masih ada anak-anak yang tumbuh tanpa pelukan ayah, para lansia yang hidup sebatang kara, janda-janda yang berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya. Serta, kaum dhuafa yang setiap hari berperang melawan kerasnya kehidupan.
Peristiwa sederhana yang menjadi rujukan Tajuk ini, di Rumah Makan Nalarasa, Desa Cipanas, Kecamatan Tanjungkerta, Sumedang, pada 19 Juli 2026, seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Sebanyak 81 anak yatim menerima amanah infak dari para donatur melalui GUPAY (Grup Pencinta Anak Yatim). Nilainya mungkin tidak fantastis. Namun, kasih sayang yang mereka rasakan jauh lebih besar daripada angka yang tertera dalam amplop.
Selama tiga tahun, GUPAY bertahan bukan karena sokongan korporasi besar atau lembaga raksasa. Gerakan ini, hidup dari hati-hati yang masih percaya bahwa sebagian rezeki mereka adalah hak orang lain. Ada yang menyumbang Rp5.000, ada pula yang memberikan ratusan ribu rupiah. Semua dipandang sama mulianya di sisi Allah, ketika diberikan dengan ikhlas.
Allah SWT berfirman:
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)
Ayat ini, mengajarkan, bahwa kemuliaan manusia tidak pernah diukur dari banyaknya harta. Tetapi, lebih dari keberanian melepaskan sebagian yang dicintainya, demi menguatkan mereka yang lemah.
Sayangnya, di zaman ketika kekayaan semakin terkonsentrasi pada segelintir orang, kepedulian justru sering kali menjadi barang mahal. Ada garasi yang dipenuhi mobil-mobil mewah. Tetapi, pintunya nyaris tak pernah terbuka bagi tetangga yang kesulitan. Ada pesta yang menghabiskan ratusan juta rupiah dalam semalam. Tetapi, rerasa berat menyisihkan sebagian kecil rezeki untuk membantu seorang anak yatim, seorang buruh harian, atau seorang ibu yang kebingungan membeli susu bagi bayinya.
Lebih menyedihkan lagi, ketika sebagian rakyat harus mengencangkan ikat pinggang, karena harga kebutuhan pokok terus naik — berita tentang korupsi justru datang silih berganti. Angkanya bukan lagi jutaan, melainkan miliaran, bahkan triliunan rupiah. Uang yang seharusnya menjadi jalan kesejahteraan rakyat berubah menjadi alat memperkaya segelintir orang yang telah kehilangan rasa malu dan takut kepada Allah.
Korupsi bukan sekadar kejahatan terhadap negara. Ia adalah pengkhianatan terhadap anak-anak yang gagal memperoleh pendidikan layak, terhadap rakyat miskin yang kehilangan akses pendidikan, kesehatan. Juga, terhadap para petani yang kesulitan pupuk, dan terhadap seluruh kaum lemah yang haknya dirampas secara sistematis.
Allah SWT memberikan peringatan yang sangat keras dalam Surah Al-Ma’un:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)
Ayat ini sangat tegas. Ukuran keberagamaan bukan hanya rajin beribadah secara ritual. Tetapi, sejauh mana seseorang menghadirkan manfaat bagi manusia lain.
Ustadz Adi Hidayat sering menjelaskan bahwa sedekah bukanlah mengurangi harta, melainkan memindahkan kepemilikan dari dunia yang fana menuju akhirat yang kekal.
Sementara, Gus Baha berulang kali mengingatkan, bahwa kekayaan hanyalah titipan. Kemuliaan seorang manusia bukan pada jumlah hartanya, melainkan pada seberapa besar manfaat harta itu dirasakan orang lain.
Karena itu, kepedulian sosial tidak boleh berhenti pada momentum tertentu atau hanya menyentuh anak yatim.
Islam mengajarkan untuk memuliakan seluruh kaum yang membutuhkan: fakir, miskin, yatim, janda, penyandang disabilitas, musafir yang terlantar, hingga siapa pun yang sedang diuji oleh kesempitan hidup.
Gerakan seperti GUPAY, membuktikan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari kekuatan modal besar. Ia lahir dari hati yang hidup. Dari orang-orang biasa yang percaya bahwa senyum seorang anak lebih berharga daripada gengsi, dan do’a seorang dhuafa lebih bernilai daripada pujian manusia.
Tajuk ini bukan sekadar ajakan untuk berdonasi. Ini adalah seruan untuk menghidupkan kembali nurani bangsa. Sebab, sebuah negeri tidak akan runtuh hanya karena miskin. Tetapi, dapat hancur ketika orang-orang kayanya kehilangan empati, para pejabatnya kehilangan amanah, dan masyarakatnya menganggap penderitaan sesama sebagai urusan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
“Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan berada di surga seperti ini,” lalu beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Bukhari).
Semoga semakin banyak tangan yang ringan memberi, semakin banyak hati yang lembut berbagi, dan semakin sedikit mereka yang tega menumpuk kekayaan di atas penderitaan rakyat.
Sebab pada akhirnya, Allah tidak akan menanyakan berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan. Melainkan, berapa banyak air mata yang berhasil kita keringkan, berapa banyak perut yang pernah kita kenyangkan, dan berapa banyak harapan yang pernah kita hidupkan
Di hadapan Allah SWT, kelak, bukan saldo rekening yang akan berbicara. Bisa jadi, justru do’a seorang yatim, lirih seorang janda, atau senyum seorang fakir yang pernah kita bahagiakan menjadi saksi bahwa kita pernah memilih untuk peduli.
*****
