Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Di Balik Ruang Pintu ICU

[Cerpen] Di Balik Ruang Pintu ICU

(Foto ilustrasi - Dreamstime.com)
(Foto ilustrasi - Dreamstime.com)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

Di balik ruang pintu ICU, berwarna gading gajah itu —  waktu tidak lagi berjalan stabil, lurus. Ia bahkan, terasa melambat, menebal, lantas menekan dada. Setiap detik mengandung kemungkinan, antara kabar baik yang menumbuhkan harap, atau sebaliknya, kalimat singkat yang mampu merobohkan dunia seseorang dalam sekejap.

Innalillahi wa innailaihi raji’un…… 

Risma duduk di kursi besi yang dingin, memeluk tas kecil di pangkuannya seolah itu satu-satunya jangkar agar ia tidak hanyut oleh cemas. Bau antiseptik menyesaki napas, dan suara mesin monitor dari balik pintu ICU seperti detak jantung waktu yang terus berdetak tanpa belas kasihan. 

Sakit, pikirnya, adalah episode dan drama yang tak bisa dielakkan dalam kehidupan manusia. Ia bisa datang tanpa mengetuk pintu — dapat menyasar siapa pun, entah suami,  istri, anak-anak, bahkan pada orang yang paling dicintai sekalipun, kedua orang tua. 

Gagal Jadi Pedangdut, Bersinar di Dunia Pendidikan

Di ruang tunggu itu, semua latar belakang seolah terlihat luruh. Yang tersisa hanyalah manusia dengan satu rasa yang sama, menunggu, di ambang harapan dan ketidakpastian.

Kursi-kursi dipenuhi tubuh-tubuh lelah, mata-mata sembab, dan do’a-do’a yang terucap tanpa suara. Setiap orang memeluk harapnya masing-masing—rapuh, namun enggan jatuh. 

Tiba-tiba, pintu ICU terbuka.

Bunyi derit gesernya terdengar begitu keras, memecah kesunyian—seolah memanggil jantung untuk berdetak lebih cepat. Beberapa petugas medis bergegas mendorong brankar dengan langkah pasti. Di belakangnya, keluarga pasien mengikuti dengan wajah pucat pasi dan langkah limbung tak pasti.

Tak lama berselang, tangis pun pecah dari sudut ruangan.

[Cerpen] Ramadan Datang, Pergi dan Berpulang…. 

Seorang keluarga lain jatuh dalam pelukan sanak saudara. Mereka baru saja kehilangan orang yang mereka tunggu, mereka cintai, mereka sayangi dan mereka kasihi.

Risma tercekat.

Ruangan mendadak terasa sempit. Duka orang lain menyelinap ke dalam dadanya—menyatu dengan ketakutan yang sejak tadi ia pendam. Di tempat ini, tak semua cerita menemukan ending bahagia. 

Menunggu di ruang ICU berarti berdamai dengan kemungkinan terburuk setiap saat.

Ketika akhirnya nama suaminya dipanggil, kaki Risma terasa begitu berat melangkah. Ada jeda sebelum ia bangkit dari kursi—jeda yang dipenuhi do’a dalam diam.

Kumpulan Puisi Ramadan

“Ya Allah,” bisiknya lirih, “jika Engkau izinkan ia kembali, aku siap menjaganya seumur hidupku. Jika tidak, kuatkan aku menerimanya.” 

Hari-hari berlalu dengan lambat, seperti tetes infus yang menetes satu per satu, tak tergesa, namun terus berjalan, mengalir pasti.

Menjadi pendamping pasien kritis mengajarkan Risma satu hal penting: betapa syukur dan sabar kepada Allah bukan sekadar nasihat, melainkan kebutuhan paling dasar untuk bertahan. 

Rumah sakit adalah ruang belajar yang sunyi, tempat manusia dipertemukan dengan batas kemampuannya sendiri.

Ia tak pernah membayangkan, sebagai seorang istri dan ibu dari dua anak, rumah sakit akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya yang begitu intens. Namun Allah Yang Maha Pengasih memiliki cara-Nya sendiri—cara yang tak biasa, bahkan terasa ngeri ntuk mengajarkan makna keikhlasan yang sesungguhnya. 

Dari IGD hingga ICU, dari hari pertama hingga hari-hari kritis yang panjang, Risma belajar bahwa sakit bukan hanya ujian bagi yang terbaring, tetapi juga bagi yang setia menunggu dalam ketidakpastian.

Mengapa terasa begitu berat?

Karena Allah tidak sembarang meletakkan beban di pundak yang rapuh. Dia melihat sabar yang lebih panjang dari keluhan, dan iman yang lebih kuat dari tangis yang ditahan. Terkadang, Allah memberi pasangan yang diuji dengan sakit bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk meluruhkan ketergantungan manusia pada manusia—agar kita berhenti bersandar pada siapa pun selain Dia.

Agar, di titik paling sunyi kelak, kita benar-benar jatuh bersimpuh hanya kepada-Nya. 

Hari itu adalah hari kesembilan Risma menemani suaminya dirawat.

Di antara bunyi alat medis dan langkah tergesa para petugas, ia belajar berserah dengan cara yang paling jujur.

Ikhlas.

“Ya Allah, ampuni diriku bila selama ini lalai bersyukur atas limpahan kasih sayang-Mu. Jagalah kami dengan penjagaan-Mu yang lembut. Limpahkan kekuatan, kesabaran, dan kesehatan agar aku mampu menjalankan amanah ini sebaik-baiknya. Hanya kepada-Mu aku berserah. Dan hanya kepada-Mu, aku berharap.”

Di balik pintu ICU yang dulu selalu membuat jantungnya berdebar, hari-hari kini bergerak perlahan menuju terang.

Tidak tergesa. Tidak gegap gempita. 

Kesembuhan rupanya memilih datang dengan langkah kecil, namun nyata.

Kondisi suami Risma berangsur membaik. Selang-selang yang dulu melekat kini satu per satu dilepas. Kateter dan oksigen telah pergi, menyisakan satu infus terakhir yang masih setia meneteskan penuh harapan.

Tubuhnya, yang sempat sepenuhnya pasrah di atas ranjang, kemarin sore akhirnya bisa dimandikan di kamar mandi—sebuah peristiwa kecil yang terasa seperti kemenangan besar.

Langkah pertama selalu canggung.

Kemarin sore, sang suami berlatih berdiri, berjalan pelan mengelilingi ruangan, lalu duduk di kursi dengan napas yang masih tersengau belum sepenuhnya stabil.

Risma menyaksikannya dengan mata berkaca-kaca.

Di ruang yang sama, beberapa hari lalu ia hanya bisa menatap tubuh suaminya yang tak berdaya, dihubungkan dengan mesin demi mesin penopang hidup. 

Namun perjuangan belum sepenuhnya usai, kembali keruanga rawat inap — 

memori sang suami belum kembali utuh. Efek kritis kedua saat di ICU meninggalkan jejak yang tak kasat mata. Ketika diajak berbincang, alur ceritanya kerap meloncat-loncat, seolah pikirannya sedang berusaha menyusun kembali kepingan-kepingan yang tercerai-berai.

Meski begitu, Risma tetap bersyukur.

Sebab, beberapa hari lalu, suaminya bahkan tak mampu menyebut namanya sendiri, apalagi nama sang istri. Tiga suku kata — boleh dibilang panjang.

Kini, ia sudah mengenali sosok dan nama Risma —- nama panggilannya.

Dengan sabar dan telaten, Risma merangsang ingatannya dengan cerita-cerita sederhana, sambil memperlihatkan foto-foto lama dari ponsel—foto-foto yang merekam hidup mereka sebelum ruang ICU menjadi bagian dari kisah ini.

Perlahan, ada sorot familiar di matanya—seperti seseorang yang baru pulang dari perjalanan jauh dan mulai mengenali rumahnya kembali. 

Bicaranya masih belum jelas. Suaranya terdengar parau, tertahan. Pita suaranya masih beradaptasi setelah luka pasca pemasangan ventilator. Setiap kata yang keluar terasa seperti perjuangan kecil yang tak boleh diremehkan.

Risma mendengarkan dengan sabar, seolah tiap suku kata adalah do’a yang sedang diucapkan oleh tubuh.

“Ummi… Ris…” suara itu terdengar serak.

Risma mendekat, matanya basah. “Iya, Abi Aku di sini.”

Suaminya menatapnya lama, seolah sedang memastikan wajah yang dilihatnya bukan mimpi. Lalu bibirnya bergerak lagi.

“Maaf…  aku merepotkan Ummi”

Risma menggeleng cepat. “Tidak ada yang merepotkan. Kamu bukan beban, Abi. Kamu amanah.”

“Amanah?” ulangnya pelan.

“Iya,” suara Risma bergetar, “Allah titipkan kamu padaku. Dan aku ingin menjaga titipan itu sebaik-baiknya.”

Sang suami terdiam. Matanya berkaca-kaca.

“Aku… takut… tidak bisa kembali seperti dulu,” katanya lirih.

Risma menggenggam tangannya erat. “Abi tidak perlu kembali seperti dulu. Cukup kembali sebagai dirimu hari ini. Kita bangun semuanya pelan-pelan. Bersama.”

“Aku… masih hidup… kan?” tanyanya ragu.

Risma tersenyum sambil menahan tangis. “Abi masih hidup. Dan aku masih di sini.”

Sang suami menghela napas panjang, seolah baru menyadari berat perjalanan yang telah ia tempuh. “Kalau suatu hari… Allah memanggilku lebih dulu… kamu  ikhlas, ya Ummi.” 

Risma terdiam. Dadanya terasa sesak.

“Jangan bicara begitu,” katanya pelan. “Kita sedang belajar hidup, bukan belajar pergi.”

Namun suaminya tersenyum tipis. “Aku hanya ingin kamu kuat… jika hari itu datang.”

Risma menunduk, air matanya jatuh di punggung tangan suaminya. “Aku kuat… karena Abi. Dan aku ikhlas… karena Allah.”

Segini saja, Risma sudah berkata dalam hati: Alhamdulillah. 

Di hadapan pintu ICU, Risma belajar bahwa hidup tidak selalu kembali dengan cara yang utuh sekaligus. Kadang ia pulang setahap demi setahap—dengan ingatan yang belum lengkap, dengan suara yang belum jernih, dengan langkah yang masih gemetar.

Tetapi selama napas masih dihembuskan, dan harap masih bisa dititipkan, itu sudah lebih dari cukup untuk disyukuri.

Kesembuhan, ternyata, bukan hanya soal tubuh yang pulih—juga tentang jiwa yang perlahan belajar berdamai dengan luka, dan keluarga yang setia menunggu tanpa kepastian, namun tak pernah berhenti berharap. 

Hari berikutnya, dokter mengizinkan sang suami boleh pulang.

Risma mendorong kursi roda, membawa sang suami keluar dari rumah sakit itu, melewati lorong-lorong yang dulu penuh kecemasan, kini terasa seperti jalan pulang yang diberkahi.

Di rumah, ia merawatnya dengan penuh cinta. Dari menyuapi, memandikan, membantu berjalan, hingga membacakan do’a-do’a setiap malam. Ia menjaga suaminya seperti menjaga amanah yang paling suci.

Namun, takdir selalu punya bahasa sendiri.

Menjelang Ramadhan tiba—saat langit mulai dipenuhi do’a-do’a rindu. Dan masjid-masjid kembali hidup  penuh harap, mendadak kondisi suami Risma tiba-tiba memburuk.

Malam itu, napasnya kembali berat. Sesak.

Risma menggenggam tangannya, seperti dulu di ruang ICU.

“Abi… aku di sini.”

Sang suami membuka mata perlahan. Pandangannya lembut, namun jauh.

“Ummi… aku capek…”

Risma menahan tangis. “Istirahatlah, Abi. Aku jaga.”

“Aku… ingin pulang…”

“Kita sudah di rumah,” jawab Risma lirih.

Sang suami tersenyum tipis. “Bukan rumah ini…” kata sang suami, pelan, nyaris tak terdengar.

Risma terdiam. Di dadanya, ada badai yang tak bersuara. Ada tangis yang menjerit, namun ditahan oleh iman.

“Kalau tiba waktunya… aku ikhlas,” katanya dengan suara yang hampir tak terdengar. “Aku titipkan Abi kembali kepada-Nya.” 

Sang suami menggenggam tangannya lemah. “Terima kasih… sudah merawatku… dengan ikhlas… semoga Allah membalasmu dengan surga.”

Air mata Risma jatuh, membasahi pipi suaminya.

“Abi… jangan pergi…” bisiknya seraya Risma memandunya dengan kalimat tauhid tak putus putus. Laa Illaaha Illahah,

Namun senyum itu tetap ada—tenang, pasrah, dan penuh damai.

Beberapa detik kemudian, napasnya terbang.

Sunyi.

Senyap

Hening.

Seolah waktu kembali melambat—menebal—lalu berhenti.

Innalillahi wa innailaihi roji’un…… 

Menjelang Ramadhan, Risma kembali menjadi seorang penunggu.

Namun, kali ini, bukan di depan pintu ICU.

Ia menunggu di ruang sepi hatinya sendiri.

Ia merasakan nelangsa yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Di gerbang bulan Sya’ban kemarin, sang adik yang tinggal di Bekasi pun dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Terbesit di langit pikiran Risma. Ramadhan kali ini tak ada lagi kudapan sahur yang lahir dari tangan penuh cinta sang suami. Tak ada lagi suara lembut yang membangunkannya untuk sholat malam. Tak ada lagi bahu tempat ia bersandar ketika lelah. Serta, tak ada lagi  adiknya itu silaturahmi ke rumah Risma di Bandung. 

Yang tersisa hanyalah rindu dan do’a.

Namun di balik duka itu, Risma menyimpan satu keyakinan.

Bahwa, cinta sejati bukan hanya tentang memiliki, tetapi tentang merawat hingga akhir—dan mengikhlaskan ketika Allah SWT memanggil.

Ia belajar bahwa ikhlas bukan berarti tidak sakit, melainkan tetap memilih percaya di tengah luka. Bahwa sabar bukan berarti tidak menangis, melainkan tidak berpaling dari Allah saat air mata jatuh.

Risma merawat suaminya hingga akhir hayatnya. Bahkan di sela sakit suami — Risma  masih sempat menenggok sang adik saat sakit itu — sebelum akhirnya “berpulang” juga. Lagi lagi Risma penuh sabar….

Dan Allah, dengan cara-Nya yang Maha Lembut, merawat hati Risma setelahnya.

Di hadapan takdir, manusia tak bisa mengelak.

Namun di dalam takdir, manusia selalu diberi pilihan: mengeluh… atau berserah.

Risma memilih berserah.

Dengan cinta.

Dengan do’a.

Dengan ikhlas, penuh keikhlasan. (KH/***)