Humaniora
Beranda » Humaniora » Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

Belajar ikhlas apa pun yang terjadi. (Foto - Dok. Pribadi)
Belajar ikhlas apa pun yang terjadi. (Foto - Dok. Pribadi)

Oleh: Anne Y Wachyuni S.Pd. 

Di hadapan pintu ICU, waktu tidak lagi berjalan lurus. Ia melambat, menebal, lalu terasa menekan dada. 

Setiap detik mengandung kemungkinan—antara kabar baik yang menumbuhkan harap, atau kalimat singkat yang mampu merobohkan, menghancurkan dunia seseorang dalam sekejap. Innalilahi wa innailaihi rojiun…. 

Sakit adalah episode dan drama yang tak bisa dielakkan dalam kehidupan manusia. 

Sakit bisa datang tanpa basa basi, menyasar siapa saja: suami atau istri, anak-anak, orang tua, bahkan orang yang paling dicintai. 

Candil, Limbad hingga Krisna Mukti Buka Puasa Bersama PWI Jaya Sie Musik dan Film

Di ruang ICU, semua latar belakang seolah luruh. Yang tersisa hanyalah manusia dengan satu rasa yang sama—menunggu, di ambang harapan dan ketidakpastian. 

Suasana ruang tunggu itu dingin, bukan hanya oleh pendingin ruangan, tetapi oleh kecemasan yang menggantung di udara. 

Kursi-kursi dipenuhi tubuh-tubuh yang lelah, mata-mata yang sembab, dan do’a-do’a yang selalu terucap, senyap.

Setiap orang memeluk harapannya masing-masing. Rapuh, namun tak ingin jatuh.

Tiba-tiba, pintu ICU terbuka.

Monolog di Ujung Ramadan

Bunyi gesernya terdengar begitu keras — memecahkan kesunyian,  seolah memanggil jantung untuk berdetak lebih cepat. 

Beberapa petugas medis bergegas, mendorong brankar dengan langkah pasti. Keluarga pasien mengikuti dari belakang, wajah mereka pucat, langkah mereka limbung. 

Tak lama berselang, tangis pecah dari sudut ruangan. Seorang keluarga lain jatuh dalam pelukan sanak saudara,  mereka baru saja kehilangan orang yang mereka tunggu, mereka cintai dan sayangi. 

Risma ikut tercekat. Ruangan mendadak terasa sempit. Duka orang lain menyelinap ke dalam dada Risma — menyatu dengan ketakutan yang sejak tadi  ia pendam. 

Di tempat ini, tak semua cerita menemukan akhir yang bahagia. 

10 Malam Terakhir: Tangisan, Harapan, dan Perpisahan dengan Ramadan

Menunggu di ruang ICU berarti berdamai dengan kemungkinan terburuk setiap saat. 

Ketika akhirnya nama suami Risma dipanggil, kaki Risma terasa begitu berat melangkah. 

Ada jeda sesaat sebelum bangkit dari kursi, jeda yang dipenuhi do’a dalam diam. Ia hanya berharap, semoga takdir baik sedang berjalan ke arah dirinya. 

Menjadi pendamping pasien kritis dari sang suami mengajarkanya satu hal penting: betapa syukur dan sabar kepada Allah Yang Maha Pemurah bukan sekadar nasihat, melainkan kebutuhan paling dasar untuk bertahan. 

Rumah sakit adalah ruang belajar yang sunyi, tempat manusia dipertemukan dengan batas kemampuannya sendiri. 

Risma tak pernah membayangkan, sebagai seorang istri dan ibu dari dua anak ini, rumah sakit akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya yang begitu intens.

Namun Allah Yang Maha Pengasih memiliki cara-Nya sendiri, cara yang tak biasa, bahkan terasa ngeri—untuk mengajarkan arti keikhlasan.

Dari IGD hingga ICU, dari hari pertama hingga hari-hari kritis yang panjang, Risma belajar bahwa sakit bukan hanya ujian bagi yang terbaring, tetapi juga bagi yang setia menunggu dalam ketidakpastian. 

Mengapa terasa begitu berat? Karena Allah tidak sembarang meletakkan beban di pundak yang rapuh. 

Dia melihat sabar yang lebih panjang dari keluhan, dan iman yang lebih kuat dari tangis yang ditahan.

Terkadang, Allah memberi pasangan yang diuji dengan sakit bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk meluruhkan ketergantungan kita pada manusia. 

Agar kita berhenti bersandar pada siapa pun selain Dia. Agar di titik paling sunyi, kita benar-benar jatuh bersimpuh hanya kepada-Nya.

Untuk para istri yang kuat dalam diam—yang menangis tanpa saksi, yang menata senyum di balik cemas, do’a apa yang selalu kau bisikkan di sujud terakhirmu untuk suamimu?

Hari ini adalah hari kesembilan Risma menemani suaminya dirawat. 

Di antara bunyi alat medis dan langkah tergesa petugas, ia belajar berserah dengan cara yang paling jujur. Ikhlas…. 

“Ya Allah, ampuni diriku bila selama ini lalai bersyukur atas limpahan kasih sayang-Mu. Jagalah kami dengan penjagaan-Mu yang lembut. Limpahkan kekuatan, kesabaran, dan kesehatan agar aku mampu menjalankan amanah ini sebaik-baiknya.

Hanya kepada-Mu aku berserah.

Dan hanya kepada-Mu, aku berharap,” do’anya dalam senyap. 

Di balik pintu ICU yang dulu selalu membuat jantung berdebar, hari-hari kini bergerak perlahan menuju terang. 

Tidak tergesa, tidak gegap gempita. Kesembuhan rupanya memilih datang dengan langkah kecil—namun nyata.

Kondisi suami Risma berangsur membaik. Selang-selang yang dulu melekat kini satu per satu dilepas. Kateter dan oksigen telah pergi, menyisakan satu infus terakhir yang masih setia meneteskan harapan. 

Tubuhnya, yang sempat sepenuhnya pasrah di atas ranjang, kemarin sore akhirnya bisa dimandikan di kamar mandi—sebuah peristiwa kecil yang terasa seperti kemenangan besar.

Langkah pertama selalu canggung. Kemarin sore, sang suami berlatih berdiri, berjalan pelan mengelilingi ruangan, lalu duduk di kursi dengan napas yang masih belum sepenuhnya stabil. 

Risma menyaksikannya dengan mata berkaca-kaca. Di ruang yang sama, beberapa hari lalu Risma hanya bisa menatap tubuh suaminya yang tak berdaya, dihubungkan dengan mesin demi mesin penopang hidup. Namun, perjuangan belum sepenuhnya usai. 

Memori sang suami, belum kembali utuh. Efek kritis kedua saat di ICU meninggalkan jejak yang tak kasat mata. 

Ketika diajak berbincang, alur ceritanya kerap meloncat-loncat, seolah pikirannya sedang berusaha menyusun kembali kepingan-kepingan yang tercerai berai. 

Meski begitu, Risma tetap bersyukur. Sebab, kemarin, sang suami bahkan tak mampu menyebut namanya sendiri, apalagi nama istrinya. 

Kini, sang suami sudah mengenali sosok dan nama istrinya.

Dengan sabar dan telaten, Risma merangsang ingatan sang suami dengan cerita-cerita sederhana, sambil memperlihatkan foto-foto lama yang tersimpan dari media sosial. 

Foto-foto yang merekam hidup mereka sebelum ruang ICU menjadi bagian dari kisah ini. 

Perlahan, ada sorot familiar di matanya—seperti seseorang yang baru pulang dari perjalanan jauh dan mulai mengenali rumahnya kembali.

Bicaranya masih belum jelas. Suaranya terdengar parau, tertahan. 

Pita suaranya masih beradaptasi setelah luka pasca pemasangan ventilator. Setiap kata yang keluar terasa seperti perjuangan kecil yang tak boleh diremehkan. 

Risma mendengarkan dengan sabar, seolah tiap suku kata adalah do’a yang sedang diucapkan dengan tubuh. 

Segini saja, Risma sudah berkata dalam hati: Alhamdulillah.

Di hadapan pintu ICU, Risma belajar bahwa hidup tidak selalu kembali dengan cara yang utuh sekaligus. 

Kadang ia pulang setahap demi setahap—dengan ingatan yang belum lengkap, dengan suara yang belum jernih, dengan langkah yang masih gemetar.

Tetapi selama napas masih dihembuskan, dan harap masih bisa dititipkan, itu sudah lebih dari cukup untuk bersyukur. 

Kesembuhan, ternyata, bukan hanya soal tubuh yang pulih — juga tentang jiwa yang perlahan belajar berdamai dengan luka, dan keluarga yang setia menunggu tanpa kepastian, namun tak pernah berhenti berharap.

Dan, Risma masih di sini, di Rumah sakit itu….

Menunggu.

Menemani.

Dengan do’a yang tak putus, hingga Allah berkenan menyempurnakan ikhtiar ini. Belajar ikhlas, apa pun yang terjadi. Sebab, hidup manusia tak bisa mengelak dari takdir-Nya. (KH/***)