Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Ketika Harapan Fauzar Pudar

[Cerpen] Ketika Harapan Fauzar Pudar

(Foto ilustrasi - Freepik)
(Foto ilustrasi - Freepik)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

Ada jenis penolakan yang tidak bersuara keras. Tidak berisik. Ia datang begitu lembut,  nyaris seperti do’a. Tetapi menikam lebih dalam dari pada bentakan.

Demikianlah yang dirasakan Fauzar pada senja temaram yang muram, ketika layar teleponnya menampilkan pesan panjang dari Zahra yang dikenalnya selama satu tahun belakangan ini. 

“Abang Fauzar orang baik.

Abang Fauzar orang tulus dan ikhlas.

[Cerpen] Sepasang Sandal di Teras Masjid

Abang Fauzar orang ngeyel dan nyeleneh

he he he…. 

Abang Fauzar orang yang gemar bercanda.

Abang Fauzar orang yang keras berjuang.

Semoga ya Bang, Insya Allah kita dipertemukan di surga-Nya — Aku ikhlas menjalankan takdir hidup seperti ini adanya.

[Cerpen] Sepatu Hitam untuk Ibu

Sekarang bisa ya, kita masih temanan? Aku anggap Abang sebagai kakak atau saudara, tak lebih. Maafkan….” 

Tak ada kata “tidak”, tetapi seluruh kalimat itu adalah tembok yang menjulang tinggi, bak tembok China dalam peradaban dunia.

Fauzar membaca berulang-ulang. Kata demi kata. Seolah berharap ada makna lain tersembunyi di sela huruf. Namun tidak. Itu adalah penolakan paling halus, paling senyap, paling mendasar yang pernah diterimanya—dibungkus pujian, diselimuti do’a. Lalu, diakhiri dengan jarak yang resmi.Titik. 

Fauzar menatap langit  dengan mata berkaca kaca. Hati hancur lebur. Senja sedang turun perlahan, seperti harapan yang dicabut tanpa suara.

Fauzar mengenal Zahra sejak masa kuliah semester pertama di Bandung. Perempuan Sunda beranak tiga, dengan sorot mata  menyimpan banyak cerita dan luka yang tidak selesai. Mereka pernah pergi ke gunung Papandayan bersama rombongan kampus. Hanya Fauzar dan Zahra dalam perjalanan saling berbagi cerita dengan kejujuran. 

Cerbung: Hati yang Datang Terlambat [Tamat]

Di antara dingin kabut dan jalan menanjak, Fauzar merasa menemukan seseorang yang tepat, bisa diajak menua bersama, lahir batin. Secara senyap, Zahra pun menyambutnya. Orang sakit punya waktu untuk minum obat, sehari tiga kali. Zahra dan Fauzar, mereka bertelpon atau via WathsApp bisa dua kali lipat — melebihi orang sakit dengan durasi cukup lama. 

Sejak itu, mereka  berjalan dengan keyakinan pada satu cita cita.

Dikesempatan yang hening,

Fauzar bergerak cepat, terang-terangan, tanpa tipu daya. Ia menyatakan rasa, menunjukkan niat, menyiapkan hidup. Baginya, cinta bukan permainan bayang-bayang. Cinta adalah keberanian mengetuk pintu hati lebih jauh, agar tak bias. 

Ternyata, mereka tidak berada di  atas rel yang sama. Entah kenapa?

“Selama ini aku kira kami satu sinyal, satu frekwensi, kata Fauzar pada seorang sahabatya. “Ternyata beda provider.”

Ia tertawa setelah mengucapkannya, tetapi matanya tidak ikut tertawa. Sedih merambat. 

Ada lelaki lain dalam hidup Zahra. Pernikahan siri yang tak pernah jelas batasnya. Sosok yang dibicarakan orang dengan nada curiga. Bermain halus, mengikat perlahan — jika bukan disebut dukun, maka entah apa nama bagi cara orang memenjarakan jiwa seseorang tanpa rantai. 

Zahra seperti tersandera dalam ikatan yang tak kasatmata itu.

Kadang manusia bukan kalah oleh saingan yang hebat, tetapi kalah oleh sesuatu yang tak bisa dijelaskan dalam kehidupan normal. 

Fauzar punya ketulusan, kerja keras, dan kesungguhan. Namun,  Zahra ketergantungan batin, ketakutan mendalam dan masa lalu yang belum selesai. Bagaimana bisa, Zahra pernah dicerai oleh suami, dalam posisi Zahrah sedang hamil 6 bulan anak ketiganya itu. Lantas, nyaris tiga tahun kemudian,  Zahra menikah  pada lelaki lain, tapi umur pernikahannya hanya seumur jangung. Dan, tak sampai berhubungan intim pula. Kenapa? Ada apa?Akhirnya cerai baik baik. 

Lha, kok bisanya, setelah perceraian tersebut ia dinikahi kembali lagi pada sosok yang dulu disebut mantan suami pertamanya itu. Ayah biologis dari ketiga anak anaknya. Sosok lelaki tua, yang tak punya apa apa. Boleh dibilang: sedang kere kerenya.  Pun punya, misalnya  “ngehe” pastinya. Saat awal pernikahan yang pertama dulu pada Zahra, pelitnya naudzubillah min dzalik, tak bertanggungjawab soal financial untuk kehidupan rumah tangganya.

“Abbi …kita ambil rumah KPR yuk, ” pinta Zahra sebagai penantin baru yang saat itu, sang suami masih punya pekerjaan dan gajih. Wajar lah pasangan penantin baru butuh mimpi mimpi indah bersama untuk saling membahagiakan, bentuk kebutuhan.

“Ngak ah…Nanti kalau kita cerai gimana? ” ujar lelaki tua yang memiliki hati Zahra. Pernyataan yang aneh! Belum mengurungi biduk kehidupan satu tahun. Sudah bicara cerai. Ada yang janggal. 

Sulit dimengerti buat orang awam. Apa yang ada dalam pikiran Zahra ketika dinikahi kembali oleh mantan yang umurnya sudah cukup tua. Belagu pula, sombong. Watak tak berubah.Tak bisa jadi imam yang baik dalam ibadah. Lolos menerus sholat fardhunya — jika dibilang, tak pernah sholat. Sementara, Zahra bisa dikatakan ustadzah yang tengah mencari jati diri. Punya peserta didik cukup banyak. Alhasil, rejekinya untuk menetupi semua kebutuhan hidup dengan suami tua yang tak bertanggungjawab itu. 

Dalam dunia ruhani, para arif berkata: tidak semua yang kau kenal, kau cintai, kau sayang seperti Zahra itu, diciptakan untuk kau miliki. Sebagian hadir hanya untuk mengajarimu ikhlas. 

Mungkin Zahra adalah pelajaran untuk itu, bagi Fauzar —- menjalankan takdir bersama dalam atmosfit berbeda.

Hari-hari berikutnya, Fauzar tetap bekerja seperti biasa sebagai conten kreator. Menyapa orang penuh dagelan, kadang tertawa lepas, keras. Begitu pun via grup di kampusnya. Fauzar sosok yang ceria. Menyapa teman dengan muatan bercanda. Tetapi mereka yang peka, tahu: ada bagian dari dirinya yang hilang, runtuh.

Ia masih lelaki yang suka melucu, masih keras berjuang, masih nampak tegar. Namun, ada sunyi yang mulai tinggal di mata dan hatinya. Persoalan batin, hidupnya pun sebenarnya lebih gelap dari Zahra. Dan itu pernah ia ungkap pada Zahra — bukan sekadar cerita di bibir. Bagaimana sepi berselimut senyap dalam galau bertengger menahun di kehidupan Fauzar selama ini. 

Ia tidak membalas panjang pesan Zahra itu. Hanya singkat.

“Baik. Semoga dirimu selalu sehat ya Zahra.”

Sesederhana itu.

Karena kadang, kalimat paling pendek, lahir dari luka paling panjang, berdarah darah. 

Waktu berjalan. Kota dan desa berganti musim, hujan dan panas. Nama Zahra perlahan tak lagi sering disebut. Tetapi beberapa nama lain temannya, memang tidak hilang, hanya pindah tempat, dari bibir ke ruang renungan.

Fauzar akhirnya paham, cinta tidak selalu tentang memiliki. Kadang cinta adalah keberanian menerima bahwa seseorang memilih jalan yang berbeda.

Dan harapan, meski pudar, pernah membuat seseorang hidup dengan sungguh-sungguh untuk satu tujuan hidup, lebih hidup. Itu tidak sia-sia. Zahra pernah menjadi penyemangat hidup buat Fauzar.

Dalam bahasa tasawuf, kehilangan yang diterima dengan sabar, ikhlas akan berubah menjadi jalan pulang kepada Allah SWT Yang Maha Pencipta.

Barangkali benar do’a Zahra.

Mereka tak dipertemukan di dunia.

Mungkin, jika Allah SWT berkenan, di surga-Nya kelak. (***)

Depok, 4 Mei 2026.

Buat Seseorang yang pernah bertengger namanya di hati Fauzar.