Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Nama yang tertera di Nik KTP nya: Maryam Nabila Putri. Artinya, wanita suci dengan derajat tinggi. Begitu dia terjun ke dunia dangdut, nama pemberian orang tuanya itu di “baptis” oleh eksekutive producer, untuk alasan nama komersil, menjadi: Ika Alya Putri — kerap disapa Ika Putri, begitu ia dikenal via album pertamanya bertajuk, Dolan Dolan Kang Mas, meledak di pasaran.
Bagi Fauzar, nama Ika Putri yang populer itu bukan bergema di dunia dangdut saja, sampai juga ke lorong dalam pikirannya. Awalnya, Ika Putri datang ke kantor redaksi Tabloid bergengsi di negeri ini — dimana Fauzar bekerja sebagai jurnalis, di bawa, diperkenalkan oleh pencipta tembang dangdut, bernama Imam Awi.
Saat sesi pemotretan, Ika seolah terjebak oleh photografer handal tabloid tersebut. Ia diambil photonya dari belakang posisi duduk seperti nongkrong dengan wajah agak miring 45 derajat ke sisi kanan, dengan senyum menawan. Fokus ke punggung belakang Ika. Alhasil, photo tersebut sangat menarik, indah, estetik non vulgar buat jualan tabloid dimana Fauzar bekerja.
Namun, bagi Ika dan keluarganya, sadar hasil photo yang pengambilannya di kantor redaksi tersebut bukan sekadar indah — lebih cenderung bla bla an. Istilahnya: ler. Seolah Ika tak menggunakan bra.
Handphone Fauzar berbunyi berkali kali di meja kerjanya. Fuazar tak angkat lantaran lelaki pendiam tersebut tengah ke luar untuk cari cemilan “lauk” kopinya. Udut istlah dia.
“Zar, kamu ditelephone terus dengan ibunya Ika artis yang tadi pemotretan itu, ” kata Chania seorang staf redaksi. “Aku relay ke mejamu tak diangkat – angkat. Ternyata orangnya ke luar….” tambah Chania yang berpapasan dengan Fauzar di pintu lief.
Fauzar pun telphone balik ke orang tua Ika. Percakapannya cukup lama, hingga waktu Fauzar untuk rehat ngudut ke beranda kantor tersita. “Begini bu, aku jamin, kalau soal artikel yang aku tulis nanti, Insya Allah….sesuai apa yang dipaparkan oleh Ika saat kami wawancara. ‘Hambar sensasi’. Akan tetapi soal photo itu bukan rana aku. Photo ‘ photo yang mau dipakai, hasil dari keputusan rapat redaksi terbatas, antara pemred dan redpel kami, jelas Fauzar. Sepertinya orang tua Ika nego — photo yang akan di pasang nanti di headline tabloid itu, foto yang tak sensasional. Ler ler an.
Begitu terbit, di cover depan. Bombatis antara photo dan judul bersenyawa; Ika Putri Semalam Tak Puas!
Waduh, di sinilah letak dramanya. Ika Putri setelah hasil wawancara dan photonya terbit di Tabloid bergengsi itu, Ika tak mampu ke luar rumah, malu. Ke kampus pun enggan. Anak baik baik itu seolah seperti pada kebanyakan artis lainnya. Mau saja di photo bla bla ler. Ika menelan getir.
Fauzar pun secara pribadi mohon maaf kepada Ika dan keluarganya.
“Abang tak salah. Diartikel tersebut kan jelas tuturannya untuk take vocal Iyam, eh Ika memang tak puas ….” terang Ibunya Ika yang memanggil anak pertamanya dengan sebutan Maryam atau Iyam — saat Fauzar diundang ke rumahnya. ” Iyam agak sedikit syok melihat photo dirinya di tabloid Bang…” terang sang ibu. Saat Fauzar hadir di rumah Ika atas undangan tersebut, Ika tak kelihatan dari pertama Fauzar datang hingga pulang. Ia berada di kamarnya saja. Menutup diri. Fauzar di terima oleh ibu dan ayahnya Ika plus seorang kakak perempuan dari ibunya Ika, bernama Salma.
Itulah awal kali kedua Fauzar ketemu orang tua Ika dan keluarganya. Ternyata efek dari Ika ada di cover tabloid yang beredar seantero NKRI, job job Ika untuk maggung ke luar kota berlimpah, berkah.
Di moment tertentu, kadang Fauzar main ke rumah Ika, bukan sebagai seorang wartawan dan artis —- silaturahmi biasa. ” Selamat ultah ya Ika, eh Iyam…” begitu Fauzar ucapkan saat Ika ultah yang ke 19 tahun di rumahnya seraya sedikit aksen bercanda.
Ika tak merasa kaget Fauzar hadir di rumah dalam rangka ultahnya yang dirayakan untuk kalangan keluarga saja.
Sebelumnya, saat masih di kantor redaksi tabloid itu, Fauzar pernah bilang ingin main ke rumah Ika di Bekasi.
Kedekatan Ika dan Fauzar terlihat bukan lagi sebagai artis dan wartawan. Atas permintaan Ika, saat Fauzar ada waktu Fauzar antar Ika manggung ke luar kota. Pertama ke Garut, satu mobil bersama kedua orang tua Ika. Fauzar yang berada di balik kemudi Ika disampingnya. Kedua orang tua Ika duduk dikursi belakang. Banyak cerita masing masing berjeda jeda dan tak bertepi.
Dalam perjalanan manggung ke BandungFauzar banar benar berjalan hanya berdua dengan Ika. Banyak hal yang diungkap Fauzar, terutama sisi kehidupan Fauzar sendiri sebelum jadi wartawan. Ika jadi pendengar setia, sangat setia.
“Jadi kamu anak sulung di keluarga. Ketiga adikmu sudah berumah tangga, Bang? Fauzar tak segera jawab dari cerita Fauzar itu sendiri yang dipertegas oleh Ika, jadi bermuatan tanya ulang.
Fauzar menarik napas. Ika pun terdiam, pandangan mata menatap ke depan, seraya jari jemarinya mengepal namun tak ada yang dipegang.
“Adik keempat pun akan nikah juga…bulan syawal tahun ini,” ujar Fauzar tiba tiba saja terlontar pernyataan Fauzar seperti itu. Semestinya, Ika tak perlu tahu.
Kini giliran Ika yang menarik napas lebih dalam. Ika ingin bertanya pada Fauzar, dirimu kapan? Tapi itu tak dilakukan. Justru, Ika berharap Fauzar yang akan mengungkapkan hal itu, serta menyebut nama calon wanitanya.
Salma, mendorong untuk Fauzar mengatakan cinta buat Ika.
” Katakan saja pasti tak di tolak oleh Ika. Dia sering bicara pada saya, Bang.Pernah juga diungkap ke orang tuanya. Tak mungkin kan wanita yang mengatakan cinta lebih awal, ” terang Salma, seolah meminta kejelasan hubungan Ika pada lelaki asli betawi itu.
Fauzar sempat terdiam sebelum menyeruput teh yang disediakan oleh adik dari ibunya Ika itu.
Senja di luar rumah Ika semakin temaran.
Fauzar mamang sudah punya prinsip. Kelak ia menikah, tak ingin dengan artis. Ia ingin mencari wanita biasa biasa saja. Pun berkarir, bukan di dunia entertainment. Itu point pertama. Point kedua, Fauzar kelak menikah ingin dengan seseorang yang punya penghasilan bulanan paling tidak sepadan dengan pendapatan Fauzar sebagai wartawan. Kalau bisa di bawa jauh penghasilan dari Fauzar. Seolah menawar takdir.
Kalau dengan Ika yang kian tumbuh rejeki pengasilannya Fauzar takut — kelak akan ada ketimpangan emosional batin. Sebenarnya Fauzar bingung Ika sepertinya bukan artis yang gimana gituh….dia orang baik.
Ika tak pernah batal wudhu. Sholat lima waktunya dijaga tak pernah bolong.
Takdir mempertegas keinginan Fauzar.
Ia akhirnya menikahi guru TK — yang memang sejak kecil, Fauzar sudah mengenalnya. Tak bermegah cinta di hati Fauzar — berjalan mengalir saja. Juga bukan perjodohan dari kedua orang tua mereka.
Ika pun menyimpan kecewa. Pertemanan di luar sebagai artis dan wartawan tetap terjaga baik baik saja. Saat Ika nikah, Fauzar di undang secara pribadi ke rumah Ika yang baru di Cikeas — sekaligus diperkenalkan calon suaminya pentolan dari sebuah grub band.
Entah kenapa rumah tangga Ika tak langgeng — setelah mereka mempunyai anak satu yang kini ikut bersama Ika.
Entah kenapa juga, suatu ketika Ika berani telepon ke Fauzar untuk bertemu di cafe elit.
Di sini lah hati bicara penuh luka…. (Bersambung)
Sentul, Bogor 1 Mei 2026
Buat “adiku” yang kini masih eksis di dunia musik dangdut.
