Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Hari-hari sesudah pertemuan di taman itu berjalan seperti biasa, tetapi tidak lagi sama.
Fauzar semakin sering pulang lebih awal. Ia mulai banyak berbicara dengan anak-anaknya, mengantar sekolah, menemani belajar, dan sesekali tertawa lepas di meja makan. Ada sesuatu yang lama hilang, kini ia pungut kembali: kehadiran sebagai ayah.
Ia memandang wajah-wajah anak anak yang pernah memanggilnya dengan polos: Ayah…
Di sanalah ia sadar, hidup bukan hanya soal cinta yang terlewat, atau fase yang hilang, tetapi juga amanah yang telah Allah titipkan.
Anak-anak itu tak pernah meminta lahir dari rumah tangga yang dingin. Mereka hanya ingin ayah yang utuh.
Dan Fauzar tahu, ia tak sanggup melukai banyak hati, demi mengejar kebahagiaan yang datang terlambat.
Suatu malam ia menulis pesan kepada Ika.
Ika… setelah banyak aku pikirkan, mungkin kita memang dipertemukan bukan untuk memiliki, tapi untuk saling menyadarkan.
Aku sayang padamu sebagai kenangan yang indah. Tapi aku lebih terikat pada anak-anakku sebagai tanggung jawab yang nyata.
Maafkan bila hatimu sempat berharap.
Do’aku, semoga dirimu bahagia dengan jalanmu sendiri.
Pesan itu lama dibaca Ika.
Ia duduk di kamar, di samping anak semata wayangnya yang telah tertidur. Lampu temaram membuat air matanya berkilau.
Namun kali ini tangisnya bukan tangis kehilangan.
Melainkan tangis seseorang yang akhirnya mengerti: tidak semua cinta harus dimenangkan.
Ika membalas singkat.
Bang Fauzar… terima kasih sudah jujur.
Aku tidak kecewa. Aku justru hormat.
Titip bahagia untuk anak-anak Abang dan istri ya.
Dan tenanglah… aku pun akan belajar bahagia dengan jalanku sendiri.
Sejak itu mereka jarang berhubungan.
Sesekali saat Idulfitri, Fauzar mengirim ucapan singkat. Ika membalas dengan do’a yang baik penuh marwah, berkelas tak ada kesan mengucilkan.
Ika kembali menata hidupnya. Ia mengurangi panggung, lebih banyak mengurus anak, membuka usaha kecil, dan mulai menikmati sunyi tanpa merasa sepi.
Fauzar pun bertahan di rumahnya. Ia memperbaiki yang bisa diperbaiki, menerima yang tak bisa diubah. Ia belajar bahwa dewasa bukan tentang mendapatkan semua yang diinginkan, melainkan menjaga apa yang sudah berada dalam genggaman.
Bertahun-tahun kemudian, mereka bertemu tak sengaja di sebuah acara pernikahan seorang anak kenalan lama.
Rambut Fauzar telah banyak memutih. Ika tetap anggun dengan ketenangan baru di wajahnya.
Mereka saling tersenyum.
“Sehat, Bang?”
“Alhamdulillah…..Iyam?”
“Baik.”
Hanya itu.
Tak ada getaran dramatis. Tak ada luka yang menganga.
Yang tersisa hanyalah dua manusia yang pernah saling menyukai, mencintai, namun memilih dewasa daripada memaksa takdir.
Sebelum berpisah, Fauzar berkata pelan:
“Terima kasih… pernah hadir di hidupku.”
Ika tersenyum.
“Dan terima kasih… sudah mengajariku ikhlas.” balas Ika.
Mereka berjalan ke arah berbeda.
Di bawah langit sore yang teduh, keduanya akhirnya paham:
Kadang cinta sejati bukan tentang bersama sampai tua.
Cinta sejati adalah saling mendo’akan… meski hidup masing-masing. TAMAT
Sentul, Bogor 1 Mei 2026
