Humaniora
Beranda » Humaniora » Cerbung: Hati yang Datang Terlambat [Bagian 3]

Cerbung: Hati yang Datang Terlambat [Bagian 3]

(Foto ilustrasi - iStock)
(Foto ilustrasi - iStock)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

Sejak pertemuan di kafe itu, Fauzar berubah. Bukan berubah menjadi lelaki lain, melainkan berubah menjadi dirinya yang paling jujur. Ia mulai sering termenung selepas salat Isya. Duduk di sajadah lebih lama dari biasanya. Bibirnya berzikir, tetapi hatinya sibuk menimbang satu nama: Maryam Nabila Putri.

Pertanyaan perempuan itu terus berdengung:

Kalau hidup memberi kesempatan kedua, apakah Abang masih takut?

Fauzar sadar, selama ini ia sering mengatasnamakan prinsip untuk menutupi ketakutan. Ia menyebut itu kehati-hatian, padahal sebagian adalah keraguan pada dirinya sendiri. 

[Cerpen] Ketika Harapan Fauzar Pudar

Sementara di rumahnya yang megah Ika juga sedang menghadapi pergulatan.

Ia tak ingin menjadi perempuan perusak rumah tangga orang lain. Sebab Fauzar masih berstatus suami, meski rumah tangganya sendiri tak benar-benar hangat. Istrinya baik, sangat baik. Namun hubungan mereka lama berubah menjadi sekadar rutinitas: ada rumah, ada kendaraan, ada anak, ada makan bersama, tapi tak ada percakapan batin. 

Ika tahu batas. Maka,  ia tak pernah menelepon lagi setelah pertemuan itu.

Ia memilih diam.

Namun diam kadang justru paling berisik.

[Cerpen] Sepasang Sandal di Teras Masjid

Suatu malam, Fauzar pulang lebih larut. Istrinya telah tidur. Anak-anaknya di kamar masing-masing. Rumah terasa rapi, tenang, tapi asing.

Ia duduk di ruang tamu, pindah keberanda rumah. Ngudut.  Menatap  kosong langit terbuka luas.

Lalu untuk pertama kalinya ia mengakui satu hal:

Ia menikah dulu bukan karena cinta yang utuh. Ia menikah karena merasa waktu sudah mendesak, usia bertambah, adik adiknya sudah banyak yang berkeluarga. Keluarga bertanya, dan hidup seolah harus segera selesai pada satu status sendiri.

Fauzar lelaki baik, istrinya perempuan baik.

[Cerpen] Sepatu Hitam untuk Ibu

Namun dua orang baik belum tentu saling ditakdirkan menjadi bahagia.

Malam itu Fauzar menangis pelan.

Bukan karena Iyam atau Ika.

Tetapi karena menyadari ia telah lama membohongi dirinya sendiri.

Beberapa pekan kemudian, Fauzar menghubungi Ika.

“Assalamu’alaikum…”

Di ujung sana terdengar hening sesaat.

“Wa’alaikumussalam… Abang?”

“Aku cuma mau tanya… besok ada waktu?”

Ika menahan napas. “Ada.”

“Boleh ketemu? Di tempat biasa.”

“Baik.”

Mereka bertemu di taman kecil, bukan di kafe mewah lagi. Fauzar memilih tempat yang lebih jujur: bangku kayu, pepohonan, dan suara burung sore hari.

Ika datang mengenakan gamis sederhana dan kerudung warna krem. Kecantikannya tak lagi meledak-ledak seperti panggung dangdut masa muda. Kini ia teduh.

Fauzar menatapnya lama.

“Ada yang ingin Abang sampaikan?” tanya Ika.

Fauzar mengangguk.

“Aku tidak datang membawa janji. Aku juga tidak datang membawa drama.”

Ika diam.

“Aku datang membawa kejujuran yang terlambat.”

Mata Ika mulai berkaca.

“Aku dulu mencintaimu.”

Air mata Ika jatuh begitu saja.

“Dan sekarang?” tanyanya lirih.

Fauzar memandang langit.

“Sekarang… aku sedang belajar apakah cinta itu masih ada, atau hanya penyesalan.”

Ika tersenyum pahit.

“Abang selalu bicara seperti wartawan.”

Mereka tertawa kecil.

Lalu Ika berkata pelan:

“Aku tak butuh masa lalu, Abang. Aku hanya butuh seseorang yang hadir penuh. Bukan setengah hati.”

Kalimat itu menampar Fauzar dengan lembut.

Ia paham maksudnya.

Selama status rumah tangganya belum selesai dengan jujur, ia tak berhak membawa harapan baru ke hati siapa pun.

Fauzar menunduk.

“Do’akan aku menyelesaikan hidupku dengan benar.”

Ika mengangguk.

“Dan do’akan aku tetap kuat menunggu takdir… entah siapa pun orangnya.”

Mereka berpisah sore itu tanpa sentuhan, tanpa janji, tanpa kepastian.

Namun keduanya tahu:

Untuk pertama kali, cinta mereka tidak lagi berdiri di atas angan-angan.

Ia berdiri di atas kejujuran.

Dan kejujuran… sering kali lebih berat daripada rindu. Bersambung… 

Sentul, Bogor 1 Mei 2026