Oleh: Supria, S.Pd.
Hujan turun pelan sore itu. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat orang-orang berlari kecil mencari tempat berteduh. Di teras masjid kecil pinggir jalan, seorang anak laki-laki duduk memeluk lututnya. Bajunya lusuh, rambutnya basah menempel di kening.
Namanya Raka. Umurnya sekitar sepuluh tahun.
Di depannya, berjejer sandal-sandal milik jamaah yang sedang shalat. Raka menatapnya lama. Bukan karena ingin mencuri. Tapi karena… dia sendiri tidak punya.
Kakinya dingin, menggigil. Luka kecil di tumitnya terbuka lagi karena air hujan.
Ia menunduk, lalu berbisik pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Ya Allah… Raka gak minta macam-macam… cuma pengen punya sandal aja… biar kalau ke masjid gak sakit…”
Suara iqamah terdengar dari dalam. Orang-orang berdatangan, bergegas masuk. Tak ada yang benar-benar memperhatikan Raka.
Kecuali satu orang.
Seorang pria tua dengan baju koko sederhana berhenti di dekatnya. Ia tidak langsung masuk. Matanya tertuju pada kaki kecil Raka yang kotor dan penuh luka.
“Kenapa di luar, Nak?” tanyanya lembut.
Raka kaget. Ia buru-buru menunduk.
“Nggak apa-apa, Pak… Raka cuma numpang duduk.”
Pria itu tidak langsung percaya. Ia duduk di samping Raka, ikut memandang hujan yang jatuh.
“Dingin ya?”
Raka hanya mengangguk.
“Orang tuamu di mana?”
Raka diam. Lama. Lalu pelan ia jawab, “Udah nggak ada, Pak.”
Pria itu terdiam. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya.
“Sejak kapan?”
“Sejak Raka masih kecil… Raka tinggal sendiri… kadang tidur di warung, kadang di sini…”
Suara Raka datar. Seolah sudah terlalu sering mengulang cerita yang sama.
Adzan iqamah selesai. Shalat hampir dimulai.
Pria itu berdiri. “Tunggu di sini ya.”
Raka mengangguk, tanpa berharap apa-apa.
Beberapa menit berlalu. Hujan makin reda.
Raka masih duduk, memandangi sandal-sandal itu lagi. Kali ini matanya sedikit berkaca-kaca.
“Kayaknya enak ya punya sandal…” gumamnya.
Tiba-tiba seseorang kembali berdiri di depannya.
Pria tadi.
Di tangannya ada sepasang sandal baru.
Ia jongkok, lalu tanpa banyak bicara, memegang kaki Raka dengan sangat hati-hati… seperti memegang sesuatu yang rapuh.
Raka langsung menarik kakinya.
“Jangan, Pak… kotor…”
Pria itu tersenyum tipis. “Justru itu.”
Ia tetap memakaikan sandal itu ke kaki Raka.
Pas.
Raka terdiam. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Ini buat kamu.”
Raka menatapnya, matanya mulai penuh air.
“Raka… gak punya uang, Pak…”
“Bukan beli. Ini hadiah.”
“Kenapa…?”
Pria itu tidak langsung jawab. Ia hanya mengusap kepala Raka.
“Karena kamu datang ke masjid, walaupun tanpa sandal.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi Raka, rasanya seperti sesuatu yang hangat mengalir ke dadanya.
Air matanya jatuh.
Satu.
Dua.
Lalu tak terbendung.
Ia menangis, bukan karena sedih… tapi karena sudah terlalu lama ia tidak merasa diperhatikan.
“Terima kasih, Pak…” suaranya pecah.
Pria itu berdiri pelan. “Besok datang lagi ya. Masjid ini juga rumah kamu.”
Raka mengangguk cepat, masih menangis.
Saat pria itu masuk ke dalam masjid, Raka melihat kakinya.
Tanpa sandal.
Ia baru sadar.
Sandal yang dipakai pria itu tadi… sekarang ada di kakinya.
Raka langsung berdiri, panik.
“Pak! Pak tunggu!”
Ia berlari ke pintu masjid, tapi shalat sudah dimulai. Pria itu sudah berdiri di saf paling depan.
Raka berhenti di ambang pintu.
Ia menunduk, melihat sandal di kakinya lagi.
Tangisnya pecah lebih keras.
Bukan karena sandal itu.
Tapi karena… untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang memilih kehilangan… hanya agar dia bisa merasakan punya.
Hujan berhenti.
Dan di teras masjid itu, seorang anak kecil berdiri… dengan sepasang sandal, dan hati yang akhirnya merasa… tidak sendirian lagi. (***)
