Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Jumat, 2 Januari 2026. Nyaris saban pekan, langkah kaki ini berangkat memenuhi seruan Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Ayat ini bukan sekadar panggilan ritual, melainkan undangan ilahiah untuk menata ulang hati, meluruskan niat, dan memperbarui taqwa, bekal paling berharga dalam perjalanan manusia.
Pada khutbah ini, aku simak penuh khusyuk, meski kesehatanku agak terganggu: Flu.
Khotib mengajak jamaah merenungi satu tema besar: Meningkatkan kualitas taqwa dalam kehidupan. Bukan taqwa yang sekadar terucap di bibir, melainkan taqwa yang hidup dalam sikap, tutur kata, dan perilaku sehari-hari.
Kita, seru khotib, kini memasuki bulan Rajab, bulan mulia yang di dalamnya tersimpan satu peristiwa agung dalam sejarah kenabian: Isra dan Mi’raj. Sebuah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus lapis demi lapis langit hingga Sidratul Muntaha. Sebuah perjalanan yang bukan hanya memuliakan Rasulullah, tetapi juga mengangkat derajat umatnya.
Di tempat yang Maha Tinggi dan Maha Suci itu, Nabi Muhammad SAW berdialog dengan Allah SWT.
Diriwayatkan, Nabi memulai dialog tersebut dengan salam, bacaan kita dalam keseharian sholat:
“At-tahiyyātu lillāhi was-shalawātu wat-thayyibāt…….”
Salam yang penuh adab, tunduk, dan penghambaan. Dan Allah SWT membalas salam itu, balasan yang hingga hari ini kita lafalkan dalam setiap sholat, khususnya pada tasyahud akhir. Inilah dialog langit yang diwariskan kepada bumi.
Usai do’a, kita menutup sholat dengan salam:
“Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wa barakātuh.”
Sebuah ucapan yang maknanya bukan ringan: “Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah atas kalian.”
Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk saudara di kanan dan kiri, bahkan untuk seluruh makhluk Allah.
Dalam kutipanku, para sufi berkata, “Sholat bukan hanya mi‘rajnya Nabi, tetapi juga mi‘rajnya orang beriman.”
Maka jika sholat telah menjadi mi‘raj, bagaimana mungkin seseorang yang memahami makna sholat masih gemar melukai dengan amarah, menyakiti dengan kata-kata, dengan sikapnya seolah datang dari kasta berbeda.
Dan, memutus tali persaudaraan? — hanya tak sejalan dalam pandangan untuk kebersamaan membangun umat. Serta, merasa dirinya, paling baik — paling berilmu dan berfinancial lebih.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Salam yang kita ucapkan dalam sholat seharusnya menjelma menjadi keselamatan dalam hidup. Taqwa yang kita rawat dalam sujud seharusnya tumbuh menjadi kelembutan dalam interaksi.Bukan sebaliknya.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan, “Jika sholatmu tidak mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar, maka yang kau jaga hanyalah geraknya saja, bukan maknanya.”
Maka khutbah yang aku simak tadi itu, seakan mengetuk batin kita bersama:
Bagaimana mungkin orang yang telah mengerti makna sholat masih mudah marah?
Di sinilah kunci perenungan kita, bahwa ibadah sejati bukan berhenti di sajadah, tetapi berjalan bersama kita dalam kehidupan keseharian.
Semoga bulan Rajab ini menjadi pintu bagi peningkatan taqwa, kejernihan hati, dan keluasan salam, hingga kehadiran kita benar-benar menjadi rahmat bagi sekitar. (KH/***)
