Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Malam itu hujan turun cukup deras di luar jendela rumah sakit. Lampu-lampu kota Tangerang Selatan tampak kabur tertelan air yang mengalir di kaca. Di ruang ICU yang dingin dan dipenuhi bunyi mesin, Fauzar memejamkan mata sambil menahan nyeri di dada — serangan jantungnya datang lagi.
Detak monitor berdenting pelan, seolah sedang menghitung seberapa lama lagi tubuhnya mampu bertahan. Fauzar terus berdo’a dalam hati. Berzikir lebih banyak ingat padaNya. Terbesit wajah wanita sunda yang melilit hatinya bermain dalam benaknya.
Ia pernah berpikir, tidak ada rasa sakit yang lebih mengerikan daripada berada di ambang kematian. Begitu juga saat Mariam Nabila Putri — kerap disapa Iyam pergi dari sisinya.
Beberapa bulan setelah ustadz yang dijuluki siniman itu keluar dari rumah sakit, tubuh Fauzar memang mulai membaik. Dokter bilang kondisinya stabil. Jangan putus minum obatnya. Ia sudah bisa berjalan sendiri, tertawa kecil bersama teman-temannya di sawung tampat dimana mereka nongkrong bersama — tak jauh dari rumahnya, bahkan kembali aktif di majelis ilmu seperti biasa.
Namun, ada satu hal yang tak pernah benar-benar sembuh: Rindu.
Dan, malam itu, rasa itu datang lagi tanpa permisi. Fauzar di mata para temannya, kini mendadak menjadi orang pendiam. Tak banyak bicara dengan balutan canda. Bukan seperti Fauzar yang “kemarin” mereka kenal.
Selepas azan isya, Fauzar duduk sendiri di ruang kerja di rumahnya. Lampu meja menyala redup. Di samping laptop, secangkir kopi dibiarkan dingin tanpa disentuh. Jemarinya berhenti di atas layar ponsel ketika nama Mariam Nabila Putri, masih tersimpan utuh di sana, belum pernah tega ia hapus.
Padahal, perempuan itu sendiri telah menghapus dirinya jauh-jauh dari hidupnya.
Ingatan Fauzar kembali mundur pada sore senja terakhir mereka bertemu.
“Kamu berubah, Zar…” suara Iyam lirih kala itu.
Mereka duduk di sebuah taman kecil, samping kampus selepas hujan. Angin senja mengibaskan lembut ujung jilbab perempuan itu. Fauzar menatap wajah yang begitu ia cintai dengan mata lelah yang sulit dijelaskan.
“Aku tetap orang yang sama, seperti yang kamu kenal,” jawab Fauzar pelan.
Iyam tersenyum tipis. Senyum yang justru terasa seperti pisau bagi Fauzar.
“Kamu masih baik… tapi hatimu terlalu dalam menggenggam sesuatu untuk ku. Bahkan rasa takut kehilangan pun kamu pelihara sendiri” ujar Iyam
Fauzar terdiam.
“Aku cuma takut Allah mengambilmu terlalu cepat dari hidupku.”
Kalimat itu membuat mata Iyam memandang galau. Maksudnya?
“Dan aku takut?” bisik Iyam, “Kalau aku, justru tak mau menjadi alasan kamu semakin terluka karena aku. Itu takutku….”
Hening.
Hanya suara air menetes dari dedaunan.
“Apa ini akhir buat kita?” tanya Fauzar yang akhirnya buka suara terjeda. Suaranya pecah begitu pelan.
Iyam menunduk lama sebelum menjawab.
“Iya.”
Satu kata sederhana.
Namun bagi Fauzar, rasanya seperti reruntuhan langit jatuh tepat di dadanya.
“Aku capek melawan perasaan bersalah setiap melihat kamu berharap terlalu jauh padaku,” lanjut Iyam dengan air mata mulai jatuh. “Aku tidak ingin menjadi seseorang yang membuatmu terus menggantungkan hidup pada kenangan.” ujar Iyam lagi, seolah menikam.
“Aku bisa berubah…” ujar Fauzar.
“Kamu tidak salah, Zar.”
“Kalau begitu kenapa pergi?” sergah Fauzar.
Karena kadang cinta tidak selalu cukup untuk membuat seseorang tinggal.
Namun, Iyam tidak mengucapkan hal itu. Ia hanya menghapus air matanya, lalu berkata lirih,
“Jangan tunggu aku lagi ya…”
Dan, sejak hari itu, hidup Fauzar seperti berjalan tanpa benar-benar sampai ke mana-mana. Seperti judul tembang dangdut yang ia ciptakan: “Kemana Mana” — dibawan oleh istri dari pesinetron “Preman Pensiunan”, terkenal itu.
Di sepertiga malam, Fauzar sering terbangun hanya untuk duduk lama di sajadahnya. Ia menyebut nama Iyam diam-diam dalam do’a yang tak pernah selesai.
“Ya Allah… kalau memang dia baik untukku, dekatkan.”
Namun, di saat yang sama, hatinya dihantam kemungkinan lain:
mungkin di tempat berbeda, Iyam justru sedang berdo’a agar dirinya dijauhkan.
Betapa menyakitkan menjadi manusia yang berdiri di antara dua do’a yang saling bersebrangan, berlawanan.
Yang satu meminta dipertemukan.
Yang satu lagi memohon dipisahkan.
Kadang Fauzar mencoba membenci kenangan, agar lebih mudah melupakan. Tetapi semakin ia melawan, semakin jelas wajah itu hadir dalam benak pikirannya.
Tentang suara lembut Iyam saat mengingatkannya makan, tetap semangat.
Tentang pesan-pesan panjang yang dulu selalu datang setiap ia mengajar terlalu malam.
Tentang perempuan yang pernah berkata, “Jaga kesehatan ya. Aku takut kehilangan kamu.”
Ironisnya, kini perempuan itu, justru membuat kehilangan terbesar dalam hidup Fauzar.
Malam semakin larut.
Fauzar membuka jendela kamarnya. Udara dingin masuk perlahan. Di kejauhan, suara adzan samar terdengar dari masjid kecil di jalan menanjak perbatasan Depok – Tangsel — tempat domisili Fauzar.
Dadanya kembali sesak.
Bukan karena penyakit jantungnya kambuh.
Tetapi karena rindu yang tidak menemukan tempat pulang.
Ia lalu tersenyum kecil sambil menengadah ke langit gelap.
“Aku masih mencintainya, Ya Allah…” bisiknya gemetar. “Bahkan setelah ia memilih pergi.” Fauzar ngebatin seraya mengadu nasibnya pada Kuasa Langit dan Bumi.
Air matanya jatuh satu demi satu, akhirnya deras menganak sungai di pipi.
Dan, untuk pertama kalinya, Fauzar mulai mengerti bahwa cinta mungkin untuk sebagian orang memang tidak ditakdirkan dapat dimiliki. Banyak dari mereka, berdemenan lama, nikahnya dengan yang lain.
Mereka hanya singgah sebentar, mengajarkan rasa paling dalam, lalu pergi membawa sebagian jiwa yang tak pernah kembali utuh.
Malam itu, Fauzar tidak lagi meminta agar Iyam kembali.
Ia hanya berdo’a pelan dengan hati yang hampir runtuh:
“Kalau dia bahagia tanpa aku… jagalah dia selalu, Ya Allah.”
Setelah itu ia menangis lama sekali.
Sangat lama.
Sampai akhirnya ia sadar…
ada kehilangan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Ia hanya berubah menjadi do’a yang diam-diam hidup di dalam dada, bertahan bersama waktu, dan menetap menjadi sepi yang tak lagi bersuara. (***)
