Oleh: Imam, M.Nizar, S.Pd.
Ramadan hari kedua tahun ini, Risma begitu nelangsa — tak ada lagi kudapan sahur yang lahir dari tangan penuh cinta. Dan, tak ada menu berbuka yang diracik dengan rasa dan cerita — dari sang ibu yang mememenuhi janji dan panggilan-Nya tiga bulan silam. “Hijrah” terbang ke langit.
Entah mengapa, setiap jelang azan mahgrib mendekat, wangi masakan seolah pulang, menyengat hangat. Dan, jujur, nyaris ke ruangan meja makan mereka, merambat di dinding kenangan,
mengetuk hati yang masih terbayang dan terggiang “perjalanan pulang” sang ibu —
menghadirkan sosok Ibu dalam diam dan menggantungkan rasa kangen. Risma merasakan hal tersebut.
“Ya Allah, ibu…..” desah Risma lirih dalam diam meyebut nama sosok yang pernah melahirkan dan tak sempat besarkan dua cucu bersama -sama.
Rasa kangen yang begitu berat itu, mengetuk hati Risma mengajak kembali lagi ke makam sang ibunya di TPU Prumpung, Jatinegara, Jakarta Timur. Walau sepekan silam, jelang Ramadan, ia bersama sang suami serta anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu sudah pergi ziarah ke sana.
Langit siang itu tampak pucat, seolah ikut menahan napas. Angin Ramadan berembus pelan, membawa do’a-do’a yang tak sempat diucapkan dengan suara. Di atas motor rakitan tahun muda yang mereka tumpangi, Risma memeluk tas kecil berisi air mineral dan bunga tabur. Putri keduanya duduk di tengah, memeluk ayahnya dari belakang erat, seakan firasat bekerja lebih dulu daripada logika.
Makam di tengah kota itu, tak sesunyi makam dipedesaan setia menyimpan rahasia rindu. Risma menabur bunga dengan tangan gemetar. Tanah merah yang lembap tampak seperti dada yang baru saja ditinggal detaknya. Ia berdo’a lama. Mungkin terlalu lama, hingga matahari condong ke barat untuk menyambut azan ashar, nyaris menyeru. Dan, deretatan tower – tower apartement di sebrang jalan, sudah terang temaram oleh sorottan senja sore itu. Risma pun, meminta difotokan bersama oleh lelaki kecil penjajak jasa bersih bersih kuburan.
“Sudah, terimakasih ya, Kang….” ujar Risma, seraya memberikan sedikit rejeki dari dompet kecilnya pada dosok disebut si Akang itu.
“Alhamdulillah bagus, belakangnya ada apartement….buat kenang kenangan,” ujar Risma pada suami dan anaknya seraya memperlihatkan layar handphone pada suami dan anaknya itu.
Dalam perjalanan pulang dari makam, musibah pun terjadi. Kecelakaan lalu lintas.
Semua berlangsung terlalu cepat untuk diingat dengan utuh. Namun, terlalu lambat untuk dilupakan. Dentuman keras, jerit yang tercekat, dan tubuh-tubuh yang terlempar dari garis takdirnya. Motor itu ringsek — sebelum akhirnya oleng nabrak trotoar menghindari angkot yang ugal ugalan. Waktu seolah berhenti, lalu jatuh berderak di dada kenyataan. Takdir.
Sang suami meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
Mujizatnya, Risma dan anak perempuannya itu selamat dari maut — meski anaknya cukup serius lukanya. Anehnya, tubuh Risma yang terperpelanting ke kiri dan tersungkur ke luar badan jalan, selamat tanpa luka berarti. Namun, suami yang dapat memberikan nafkah kehidupan itu, telah pergi selamanya.
Ramadan pun berubah wajah. Bukan lagi bulan yang hanya menguji lapar dan dahaga, melainkan kesanggupan hati menerima kehilangan yang datang bertubi-tubi.
Rumah yang dulu ramai, kini bergaung senyap. Tidak ada lagi suara langkah suami menjelang sahur, tidak ada lagi candanya yang selalu berkata, “Sabar ya Ma, kali ini, ayah bisa berbuka puasa bersama dirimu dan anak kita,” Biasanya sang suami, pulang kantor kerap terlambat.
Selama Ramadan ini, Risma banyak keluar masuk rumah sakit demi anaknya yang dirawat secara intensif. Lorong-lorong RS menjadi saksi do’a yang dipanjatkan dengan suara nyaris putus. Mesin-mesin berdetak seperti jam takdir yang kejam. Keuangan sudah menipis, batin pun kian terkikis, sakit lantaran psikis untuk tetap sabar dan bersabar.
Risma belajar satu hal: kesabaran bukanlah tidak menangis, melainkan tetap bertahan meski air mata tak pernah benar-benar kering.
Setiap berbuka, Risma hanya meneguk air putih. Tidak ada selera, tidak ada rasa. Yang ada hanya bayangan ibu, lalu suami, kini anaknya yang bertumpuk dalam satu do’a yang sama: “Ya Allah, jangan Kau ambil lagi.” desah Risma dalam penuh mohon.
Namun, takdir datang tak mengetuk meminta izin.
Malam-malam terakhir, Ramadhan datang dengan kesunyian yang lebih pekat. Takbir belum berkumandang, tapi dada Risma telah lebih dulu retak. Putrinya terbaring pucat, napasnya pendek-pendek, seperti seseorang yang sedang bersiap pulang, namun ragu menoleh ke belakang.
Menjelang Idulfitri tiba, putrinya pun akhirnya meninggal dunia.
Tidak ada teriakan. Tidak ada pingsan. Risma hanya memeluk tubuh kecil itu, lama sekali, seolah ingin membaca dan menghafal pelajaran tahsin dan tamyiz nya. Bibirnya bergetar, namun tak satu pun kata keluar. Air matanya meleh, menganak sungai di pipi — menyentuh pipi sang anak yang kini dingin seperti dinginnya pagi di makam sang ibu dahulu.
Tiga kepulangan dalam satu Ramadhan. Menyesakkan dada. Seolah dunia runtuh mendadak: ibu, sang suami dan anak berpulang.
Dan, Risma tetap tinggal.— kehidupan itu tetap berjalan, ada sosok orang yang dicintai atau pun tidak.
Hari raya datang dengan baju yang tak sempat dibeli, dengan opor ayam dan sayur godok yang tak sempat dibuat. Dan, dengan rumah yang kehilangan makna pulang. Di pagi Idulfitri, Risma sholat dengan tubuh tegak, tapi hati nyaris runtuh. Ia sujud lebih kusyu, menyerahkan semua yang tersisa dari dirinya.
“Ya Allah,” bisiknya, “jika ini cara-Mu memanggil mereka pulang, maka ajari aku cara tinggal, tanpa kehilangan iman,” lirihnya begitu dalam sambil bergegas benahi mungkena, Risma sempat melihat foto foto dirinya bersama suami dan anak di layar Hpnya.
Diantara takbir yang menggema, Risma mengerti, foto tersebut kini memang tinggal kenangan, seperti yang ia ucap di pusara ibunya tempo hari itu.
Dan, Ramadan bukan hanya tentang datang dan pergi. Ia tentang berpulang, satu per satu—dan manusia yang dipaksa belajar hidup, meski separuh jiwanya telah lebih dulu sampai di hadapan-Nya.
“Selamat Idulfitri suamiku, ibuku dan anaku tercinta, terkasih. Kelak, aku menyusul…. Tunggu aku dialam keabadian sayang…..” guman Risma lirih sambil melipat sajadah kecil dimasukan ke tas mini. Air matanya, ngeces kembali. (KH/***)
