Humaniora
Beranda » Humaniora » Gagal Jadi Pedangdut, Bersinar di Dunia Pendidikan

Gagal Jadi Pedangdut, Bersinar di Dunia Pendidikan

Dr. Maria Susana Yudianti, S,Pd, M,Pd.
Dr. Maria Susana Yudianti, S,Pd, M,Pd.

Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd. 

Jika ada seorang psikolog bergelar doktor dan akan meraih gelar profesor dibidang akademis — kini akan merilis single-single tembang dangdut dan anak-anak, dialah Dr. Maria Susana Yudianti, S,Pd, M,Pd. 

Wanita kelahiran Cilacap 27 Mei 1979, tepatnya di Desa Kutasari Kecamatan Cipari, Jawa Tengah, memang cita- cita kecilnya ingin jadi artis terkenal. 

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Maria—begitu nama panggilannya—sudah akrab dengan panggung. Bukan sekadar hobi, bernyanyi adalah denyut nadi masa kecilnya. 

Putri kelima dari enam bersaudara pasangan Supiranto dan Marsilah ini mengawali langkah seni sejak kelas satu SD. Setiap ada acara perpisahan kelas enam, ibunya—yang kala itu menjabat sebagai kepala sekolah—selalu memintanya tampil. “Dari situ saya termotivasi untuk bisa tampil dalam acara besar di sekolah,” tuturnya. 

[Cerpen] Ramadan Datang, Pergi dan Berpulang…. 

Dukungan keluarga semakin menguatkan langkahnya. Sang ayah, yang merupakan pelaku seni, sering mengajaknya berkeliling kampung bersama kelompok keroncong. Dari satu panggung ke panggung lain, Maria kecil belajar tentang keberanian, ekspresi, dan makna tampil di hadapan publik. 

Memasuki bangku SMP PGRI 03 Caruy, Cilacap, Jawa Tengah, aktivitas seninya kian berkembang. Ia rajin mengikuti berbagai lomba—dari karaoke hingga modeling. Prestasi pun diraih, termasuk juara pertama lomba karaoke lagu Tito Sumarsono Kupersembahkan Lagu Ini, serta lagu tarling berjudul Pemuda Idaman. 

Dr. Maria Susana Yudianti, S,Pd, M,Pd.
Dr. Maria Susana Yudianti, S,Pd, M,Pd.

Saat duduk di kelas satu SMA Nasional Dago, Kota Bandung, Maria memperdalam bakatnya dengan mengikuti sekolah vokal di Purwacaraka Band dan sekolah modeling di Bandung. Wajah cantik yang khas dan pembawaan percaya diri membuatnya sering menerima tawaran pemotretan, modeling, hingga tampil di berbagai panggung hiburan. Ia sempat “mager” — menjadi pengisi tetap di Kintamani Café dan TVRI Bandung. 

Puncak petualangan seninya terjadi saat remaja, ketika ia mengikuti ajang pencarian bakat nasional Kontes Dangdut Indonesia (KDI). Meski gagal masuk karantina, tak diberangkatkan ke Jakarta sebagai wakil daerahnya — sebuah pengalaman berharga yang mempertemukannya langsung dengan kerasnya dunia hiburan. 

Namun, takdir membawanya pada jalur yang berbeda. Maria memilih menekuni dunia pendidikan tanpa membunuh bakat seninya, terutama dalam menulis dan menciptakan lagu anak-anak. Lulus SMA pada 1997, ia sempat bekerja di perusahaan sebagai customer service dan kasir, sebelum akhirnya memutuskan menjadi guru TK sejak tahun 2000 hingga 2009. 

[Cerpen] Di Balik Ruang Pintu ICU

Dr. Maria Susana Yudianti, S,Pd, M,Pd.
Dr. Maria Susana Yudianti, S,Pd, M,Pd.

Pada tahun 2002, setelah menyelesaikan pendidikan D-2, Maria mendapat kesempatan mengelola yayasan pendidikan dan sosial PAUD di Sindanglaya. Karier pendidikannya terus berkembang. Saat mengajar di SDN 1 Sindanglaya, ia mulai menulis dan menciptakan lagu-lagu anak. Di SD Laboratorium UPI Cibiru, ia bahkan menciptakan Mars Psikologi Pendidikan, menandai pertemuan indah antara dunia akademik dan seni. 

Langkah akademiknya semakin mantap. Tahun 2016 ia melanjutkan studi S-2 Psikologi dan lulus pada 2019. Dua tahun kemudian, ia menempuh pendidikan doktoral (S-3) dan meraih gelar pada 2023. Kini, ia dikenal sebagai akademisi yang serius, produktif, dan inspiratif.

Namun, impian masa kecil itu tak pernah padam. Di usia matang dan karier akademik yang kian bersinar, Maria justru kembali ke dunia musik. Dalam waktu dekat ini akan meluncurkan single dangdut, pop, religi dan lagu anak anak. Bukan sekadar bernostalgia, melainkan wujud keberanian untuk menuntaskan mimpi yang sempat tertunda. 

“Saya ingin dunia tahu, saya bisa dan mampu bernyanyi. Ini loh… anak kampung yang dulu dijuluki artis itu, kini benar-benar menjadi artis pendidikan dengan karya-karyanya, hingga kelak bergelar profesor,” ujar Maria dengan senyum sumringah. 

Kisah Maria adalah potret tentang kegigihan, konsistensi, dan keberanian berdamai dengan takdir. Gagal menjadi pedangdut bersinar di layar kaca, ia justru menemukan cahaya yang lebih luas di dunia pendidikan—tanpa pernah melepaskan seni yang telah membesarkannya. (KH/***)

Kumpulan Puisi Ramadan