Destinasi Wisata
Beranda » Destinasi » Wisata » Ini Fakta Menarik Kampung Adat Cireundeu di Cimahi Selatan

Ini Fakta Menarik Kampung Adat Cireundeu di Cimahi Selatan

Suasana Kampung Adat Cireundeu di Cimahi Selatan, Jawa Barat. (Foto: Anne. Y. Wachyuni)

Oleh : Anne. Y. Wachyuni

KABARHIBURAN.id – Kampung Adat Cireundeu yang terletak di RW 10 Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, agaknya mampu menjaga eksistensi dan identitasnya sebagai representasi adat istiadat, budaya, dan tak lekang oleh derasnya kemajuan zaman. 

Di kampung adat ini, pemeluk agama Islam bisa berbaur dengan penghayat kepercayaan Sunda Wiwitan tanpa ada kekhawatiran sama sekali. 

Misalnya, ketika warganya yang muslim menjalankan ibadah puasa Ramadan, sementara penghayat Sunda Wiwitan menjalankan ritualnya. Mereka baik baik saja. Tak ada gesekan dari waktu ke waktu. 

Di kampung adat ini, ada sekitar 400 kepala keluarga (KK) yang tersebar di wilayah RW 010. Dan, 60 Kepala keluarga atau sekitar 240 jiwa masyarakat yang menjadi penganut Sunda Wiwitan. 

Kerja Sama AirAsia MOVE dan Kemenpar RI: Dongkrak Wisata Indonesia, Fokus pada Gen Z dan Wisata Belanja

Mereka menghormati saudara yang tengah berpuasa. Begitu pun sebaliknya. Nampak kerukunan terjaga dengan baik. 

Sunda Wiwitan ajaran spiritual leluhur Sunda, yang dianut oleh masyarakat Jawa Barat dan Banten. 

Keberadaannya, sudah lama ada sebelum agama Hindu, Islam dan Kristen hadir di sana.

Suasana Kampung Adat Cireundeu di Cimahi Selatan, Jawa Barat. (Foto: Anne. Y. Wachyuni)

Tokoh pertama kali yang memperkenalkan ajaran tersebut, Pangeran Madrais Sadewa Alibassa Kusumah Wijaya Ningrat pada tahun 1832-1939. 

Dan, hingga kini diteruskan oleh para anak, cucu, hingga cicitnya mereka di Kampung Adat Cireundeu tersebut. 

Mal Ciputra Jakarta Kembali Hadirkan Food Destination, Siap Manjakan Lidah Pengunjung

Kepercayaan itu terus dipupuk oleh ratusan warga setempat yang meyakininya bahwa ajaran turun menurun dari leluhurnya. 

Uniknya, masyarakat kampung adat Cireundeu sedikit berbeda dengan masyarakat di sekitarnya. 

Mereka tidak menggunakan beras sebagai makanan pokok, melainkan singkong. Masyarakat Cireundeu mengolah singkong menjadi berbagai kebutuhan makanan yang variatif. 

Tradisi itu akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat. 

Suasana Kampung Adat Cireundeu di Cimahi Selatan, Jawa Barat. (Foto: Anne. Y. Wachyuni)

Tak cuma tradisi makan beras singkong atau rasi saja. Ada tradisi lain di Kampung Adat Cireundeu yang turut ditetapkan jadi WBTB,  yakni tradisi Tutup Taun Ngemban Taun 1 Sura. 

Pakuwon Mall Bekasi Hadirkan Program Dealicous Weeks untuk Pelanggan Setia

Namun tradisi turun temurun makan rasi mulai terkikis oleh perkembangan zaman. 

Hal itu erat kaitannya dengan sebagian masyarakat di Kampung Adat Cireundeu yang mulai mengkonsumsi beras padi atau olahannya berbentuk nasi. 

Desa Cirendeu memiliki masyarakat yang sering melakukan meditasi. 

Meditasi tersebut biasanya di lakukan di puncak Salam sebagai bentuk rasa syukur terhadap alam. 

Selain itu masyarakat Cireundeu sendiri mempercayai meditasi mampu mengumpulkan energi yang ada di alam. 

Hal unik lainnya dari kampung adat Cireundeu ini,  pintu pintu  rumah mereka  menghadap ke timur. 

Saat berkunjung kampung ini, kita akan menemukan pintu samping mereka yang menghadap ke arah timur. 

Mereka melakukannya bertujuan agar cahaya matahari bisa masuk ke dalam rumah. (KH/***)