Ragam
Beranda » Ragam » Senja di Malioboro Yogyakarta

Senja di Malioboro Yogyakarta

Kawasan Malioboro, Yogyakarta. (Foto - Dok Pribadi)
Kawasan Malioboro, Yogyakarta. (Foto - Dok Pribadi)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

Menjelang senja, Sabtu (27/12/2025), denyut nadi Malioboro mulai terasa bahkan sebelum kaki benar-benar menginjak trotoar, kami merasakan denyut tersebut. 

Di Jalan Pajeksan, salah satu urat nadi menuju jantung wisata Yogyakarta, kesibukan pelancong mencapai puncaknya. 

Deru mesin mobil bersahut-sahutan dari klakson bersuara pendek. Sementara, para wisatawan tampak “gelisah” mencari celah parkir yang kian langka. Malioboro sudah terlampau padat, ruang-ruang parkir nyaris tak tersisa. 

Sejak pukul 16.00 WIB, aparat kepolisian telah menutup Jalan Pajeksan di mulut jalan sisi barat sebagai bagian dari rekayasa lalu lintas, demi mengurai kepadatan yang saban sore menjadi pemandangan rutin. 

Dara Sarasvati: Debit Visa Bank Jakarta Praktis untuk Transaksi Luar Negeri

Apa lagi ini hari libur anak sekolah, Natal dan jelang Tahun Baru 2026, kepadatan nyaris pada puncaknya. Namun, penutupan itu justru menegaskan satu hal: Senja di Malioboro selalu dinanti, selalu dirayakan. 

Di tengah kepadatan tersebut, kehidupan tetap mengalir lincah. Delman berkuda berjalan anggun, lonceng kecilnya berdenting ritmis, menyusuri jalan membawa wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Bentor—becak motor—dan becak kayuh tak kalah sibuk, wara-wiri menawarkan pengalaman khas Jogya,  menyusuri Malioboro dengan tempo pelan, seraya menikmati sisa cahaya matahari yang jatuh di sela bangunan tua dan deretan toko toko yang desain modern. 

Wisatawan berpose dengan wajah sumringah, ada yang sesekali berfoto di depan workshop, ada pula yang langsung memilih berkeliling naik becak dengan balutan busana adat, seolah meneguk romantika Jogya tempo dulu. 

Shufanah dan Angga, salah satu dari mereka yang sewa baju adat tersebut. 

Tumpeng Menoreh, Menikmati Yogyakarta dari Ketinggian yang Menakjubkan

“Saya mau pakai baju adat jawa, karena belum pernah aja, bukan semata saya orang jawa. Dan, tak malu memakai sambil photo photo di tepian jalan Malioboro,” terang perjaka 22 tahun, lulusan Sastra Inggris 2025. 

Penyewaan baju adat di kawasan Malioboro, Yogyakarta. (Foto - Dok Pribadi)
Penyewaan baju adat di kawasan Malioboro, Yogyakarta. (Foto – Dok Pribadi)

Sementara,  Shufanah sepupuh tua Angga memberikan penjelasan soal biaya. Paket untuk dua orang sewa baju adat tersebut 165.000. 

Paket tersebut, sudah termasuk pembayaran dokumentasi dan bentor yang mengantar pulang pergi ke jalan Malioboro.

“Dapat photo, dua puluh photo dari berbagai gaya. Tapi, kalau kita nambah, dari photo yang dihasilkan dari photo grafer, biayanya nambah lagi. Per satu photo, kena biaya Rp 5.000, ” terang Shufanah. 

Sang fotografer, bernama Tulus, tak mengingkari rejeki dari musim libur bergabung dengan workshop tersebut, rejeki ada saja. Sehari bisa dua sampai tiga kali memphoto dari penyewa baju, 

Hutan Pinus Mangunan: Ketika Alam Mengajarkan Tenang dan Optimisme

“Di sini banyak photografernya. Ada dua puluh orang lebih,” paparnya seraya menunjukan nama nama photografer di whiteboard mini di depan workshop. 

Ratna yang sudah 5 tahun bekerja di sana ikut dengan sang pemilik, budenya itu, mengakui, jika musim libur, penyewa banyak, hingga ratusan orang.

“Kalau hari hari biasa, ada saja saja yang nyewa hingga 50 orang, ” papar Ratna sumingrah menerima banyak penyewa. 

Ketika matahari mulai condong ke barat, dan suara azan magrib mulai terdengar,  Malioboro menjelma jadi panggung besar. 

Langit berwarna jingga keemasan menjadi latar yang sempurna bagi hiruk-pikuk manusia. Alhamdulillah, senja itu tak diguyur hujan, meski kini tengah musimnya. 

Pedagang kaki lima menata dagangan dengan cekatan. Lampu-lampu jalanan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya hangat di atas aspal dan trotoar. 

Aroma gudeg, sate ayam dan wedang jahe menyatu dengan udara senja kian temaram. Kami bergegas mencari masjid yang bersebelahan dengan Gedung DPRD Yogyakarta. 

Terlihat wisatawan domestik asyik mengabadikan momen, sementara para wisatawan lainnya memilih duduk santai di bangku-bangku pedestrian, menikmati lalu lintas manusia yang tak pernah benar-benar berhenti dalam langkahnya. Sekilas terlihat wisatawan asing wara wiri pula di sana. 

Memasuki malam, Malioboro kian hidup. Musik jalanan mengalun dari kejauhan, tawa-tawa kecil terdengar di sela langkah kaki. Bahasa asing bercampur dialek Nusantara membentuk orkestrasi kosmopolitan yang khas. 

Lampu hias dan etalase toko memantulkan cahaya yang membuat wajah Malioboro tampak lebih hangat, lebih ramah. 

Delman dan becak tetap setia beroperasi, menjadi saksi perjalanan malam para pelancong yang enggan lekas pulang. 

Di Malioboro, senja bukan sekadar pergantian waktu. Ia adalah jeda peristiwa, yang menghubungkan siang yang riuh dengan malam yang bersahabat. 

Di sanalah Jogya menyapa siapa saja dengan kesederhanaan, keramahan, dan denyut kehidupan yang tak pernah usang Insya Allah sepanjang zaman. (KH/***)