Humaniora
Beranda » Humaniora » Kumpulan Puisi Ramadan

Kumpulan Puisi Ramadan

Ilustrasi Ramadan (Foto - Freepik)
Ilustrasi Ramadan (Foto - Freepik)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

Wangi yang Pulang Saat Ramadan

Ramadhan datang lagi, tanpa langkah ibu di subuh yang tergesa menuju masjid. Tanpa tawa nenek yang khas, sabar mengaduk waktu di panci tua, seraya membangunkan para cucunya. 

Dapur itu masih sempit, masih seperti dulu. Namun, sunyi ini lebih lapang dari doa-doa yang tak sempat terucap. 

Tak ada lagi kudapan sahur yang lahir dari tangan penuh cinta, tak ada menu berbuka yang diracik dengan rasa dan cerita. 

Gagal Jadi Pedangdut, Bersinar di Dunia Pendidikan

Namun, entah mengapa, setiap azan magrib berlahan mendekat, wangi masakan tiba-tiba pulang, menyengat, hangat, dan jujur, nyaris ke ruangan meja makan.

Ia merambat di dinding kenangan, mengetuk hati yang lama tertutup, menghadirkan ibu dalam diam, menghidupkan nenek dalam rindu.

Ya Allah……  Wangi itu tak bisa disantap, tak bisa difoto tak dapat diungkap dengan kata kata — namun lebih kenyang dari segala hidangan dunia. 

Di Ramadan yang sendiri ini, aku belajar, kehilangan tak selalu berupa ketiadaan.

Kadang ia menjelma aroma yang setia mengingatkan — bahwa cinta pernah dimasak di dapur kecil itu, dan tak pernah benar-benar pergi.

[Cerpen] Ramadan Datang, Pergi dan Berpulang…. 

Ya Allah….ibuku, neneku — lapangkanlah alam barjahnya.

Aamiin…… (***)

Ramadan Tiba Masih Terbayang….. 

Sepintas ingatanku melayang ke tiga puluhan tahun kebelakang, saat bulan Ramadan datang.

Aku masih ingat, saat beduk magrib, buka puasa di pinggiran jalan, kadang di warung mini, kadang bersama orang-orang penting — pejabat yang alergi di sentuh.

[Cerpen] Di Balik Ruang Pintu ICU

Terkadang bersama keluarga, istri dan anak anak yang masih kecil di rumah. Bahkan, santap sahur pun, aku masih dijalanan. 

Maklum, saat itu, rutinitas pekerjaan sebagai jurnalis menyita waktu. Lebih  banyak berbuka puasa di luar rumah — prosentasenya jomplang dibanding bersama keluarga. 

Kini, gemerlap kehidupan itu telah berlalu. Ada rasa kangen pula, berbuka puasa bersama teman seperjuangan — seraya menikmati seteguk air meneral dengan hasil wawancara yang tak tuntas.

Dan, kangen lagi, berbuka puasa, didepan layar komputer masih terbuka dengan artikel yang nanggung untuk disudahi, seraya terdengar derit mesin print dari meja meja redaktur —

dengan suara goyonan familiar dari redpel dan pempred: hayo hayo deadline, deadline. Gercep dikit….. 

Terbesit, teman seperjuang telah banyak yang “berpulang” lebih awal dari raga ini.

Di gerbang Ramadan ini, wajah wajah mereka sekilas hadir dalam duduk renungku. 

Si pulan yang ku pandang cerdas dan cekatan, baik hati, “menyalip” usia ku, hijrah di usia dini — lima belas tahun silam.

Si “doi” patner kerja untuk mendampingku setiap liputan pun, telah berangkat, ketika anaknya masih terbilang belum mandiri.

Dan, para yunior atasanku pun, lebih dahulu memenuhi janji dan panggilan-Nya. 

Kini, aku bukan lagi sekadar terbayang nostalgia pekerjaan di gerbang Ramadhan ini, melainkan bertanya diri: kapan tiba waktuku? 

Ya Robb, sampaikan aku di bulan Ramadan tahun ini — untuk kembali mengumpulkan pundi pundi kebaikan atas ridhoMu. 

Seperti pada Ramadan Ramadan terdahulu dan dahulu.

Kapan kiranya waktu Engkau panggil, aku sudah lebih siap meninggalkan kefanaan ini penuh ikhlas. (***)

Ramadan Datang di Usiaku Tak Muda Lagi

Sebentar lagi Ramadan 1447 H mengetuk pintu waktu. Ia datang sebagai tamu agung, membawa kabar dan keberkahan sebagaimana yang difirmankan-Mu dalam Surah Al-Baqarah ayat 185—bulan yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan, sebagai petunjuk dan pembeda antara terang dan gelap. 

Ya Allah, jika kelak Engkau masih mengizinkanku berjumpa dengannya, sampaikanlah aku ke Ramadan ini dalam usia yang tak lagi muda, dengan tubuh yang mungkin telah lelah, namun hati yang ingin Kau segarkan kembali. 

Mudahkanlah segala urusanku untuk memuliakannya.

Lapangkan dadaku agar mampu menyambutnya dengan keikhlasan yang utuh, bukan sekadar rutinitas ibadah, bukan pula sekadar pengulangan doa-doa yang pernah kulafalkan tanpa  sungguh rasa. 

Aku ingin memetik hikmah dari tiap sahur dan iftar, menemukan makna dalam sunyi malam dan panjangnya sujud, merasakan keindahan Ramadan bukan hanya di lisan, tetapi di relung jiwa yang selama ini sering lalai.

Izinkan aku “menggaulinya” dengan sepenuh kejujuran iman, tanpa pura-pura, tanpa tergesa, tanpa sisa kesombongan diri. 

Ya Rabb, aku menyimpan sesal atas Ramadan-Ramadan yang telah berlalu— saat ia datang, namun tak kusambut dengan kesungguhan.

Saat pintu ampunan terbuka, langkahku tertahan oleh lalai dan alpa.

Kini penyesalan itu bergulat dalam diam, menjadi doa yang tak putus ku langitkan di usia yang kian menua. Bawalah aku pulang kelak dengan bekal kebaikan dari Ramadan yang lalu, lalu dan yang lalu lagi — ampuni kekuranganku, sempurnakan yang terlewat, dan terimalah yang sedikit ini dengan kasih sayang-Mu yang luas. 

Dan, jika suatu hari Kau panggil aku kembali kepada-Mu, izinkan aku menutup mata

dengan senyum Ramadan-Mu yang masih hangat di dada. Aamiin. (***)