Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Ruang publik di era kini — dunia “aplikasi” dan non semu kian bising oleh berbagai opini. Perbedaan acap kali kehilangan makna mulianya.
Perbedaan tak lagi diperlakukan sebagai rahmat, melainkan diposisikan sebagai ancaman.
Dari perbedaan pandangan, lahir perseteruan. Dari perseteruan, tumbuh kecurigaan. Dan, dari kecurigaan, lahir jurang sosial yang kian melebar.
Padahal, dalam pandangan Islam, perbedaan bukanlah musibah, melainkan ujian kedewasaan — bagaimana kita mengolahnya untuk mendatangkan kebijaksanaan.
Al-Qur’an sejak awal telah menegaskan bahwa keberagaman adalah kehendak Tuhan. Allah berfirman:
وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلَا يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَۙ
“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia akan menjadikan manusia umat yang satu. Namun, mereka senantiasa berselisih (dalam urusan agama),”
QS. Hūd[11]:118
Ayat ini mengandung pesan filosofis yang dalam. Perbedaan adalah bagian dari desain Ilahi, bukan kesalahan sejarah.
Persoalannya bukan pada adanya perbedaan, melainkan pada ketidakmampuan manusia mengelolanya dengan hikmah.
Perseteruan Sebagai Cermin Ego
Dalam banyak kasus, perseteruan tidak berangkat dari substansi nilai, tetapi dari luka ego.
Keinginan untuk merasa paling benar, paling suci, atau paling berhak bersuara sering kali menyulut konflik yang sebenarnya dapat dihindari.
Di sinilah Islam hadir bukan sekadar sebagai agama ritual, melainkan sebagai panduan etika sosial.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan menundukkan orang lain.
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam pergulatan, melainkan yang mampu menahan dirinya saat marah” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini relevan dalam konteks sosial hari ini, ketika kemarahan kerap dilegalkan atas nama kebenaran.
Menahan diri bukan berarti kalah, tetapi bentuk kemenangan atas dorongan destruktif dalam diri manusia.
Hikmah Sebagai Jalan Tengah
Al-Qur’an memberikan pedoman jelas dalam menyikapi perbedaan.
Allah SWT berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.”
QS. An-Naḥl[16]:125
Pendekatan hikmah menuntut kesadaran bahwa tidak semua perbedaan harus dimenangkan, dan tidak semua kesalahan harus dibalas dengan kemarahan.
Dalam banyak situasi, bahasa yang lembut justru lebih mampu melunakkan hati yang keras.
Sayangnya, ruang publik kita sering kali lebih gemar mempertontonkan adu argumen ketimbang adu kebijaksanaan.
Etika Islam dalam Mengakhiri Konflik
Islam tidak membiarkan perseteruan berlarut-larut. Konsep islah atau pendamaian menjadi prinsip utama dalam merawat harmoni sosial.
Al-Qur’an menegaskan bahwa mendamaikan manusia adalah perbuatan yang bernilai tinggi.
Allah SWT berfirman:
۞ لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
“Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali (pada pembicaraan rahasia) orang yang menyuruh bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari rida Allah kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar.”
QS. An-Nisā'[4]:114
Bahkan, dalam konteks konflik terbuka, Allah memerintahkan upaya rekonsiliasi sebelum segalanya memburuk.
Teladan Nabi Muhammad SAW menjadi puncak praktik islah. Saat penaklukan Makkah, beliau berada pada posisi menang mutlak atas mereka yang dahulu mengusir dan menyakitinya.
Namun, yang lahir bukan balas dendam, melainkan pengampunan.
“Pergilah, kalian semua bebas.” Sebuah kalimat pendek yang mengakhiri siklus kebencian panjang.
Inilah pelajaran besar: kedamaian sejati lahir dari keberanian memaafkan, bukan dari keinginan membalas.
Perbedaan Menuju Kedewasaan Sosial
Mengelola perbedaan dengan hikmah adalah tanda kedewasaan peradaban.
Masyarakat yang matang bukanlah masyarakat tanpa konflik, melainkan masyarakat yang mampu mengubah perseteruan menjadi ruang dialog dan perbaikan.
Islam mengajarkan bahwa menjaga persaudaraan jauh lebih mulia daripada memenangkan perdebatan.
Pada akhirnya, perbedaan akan selalu ada. Namun pilihan untuk menjadikannya jembatan atau jurang sepenuhnya berada di tangan manusia.
Ketika hikmah, akhlak, dan kesadaran spiritual dihadirkan, perseteruan tidak lagi menjadi ancaman, melainkan pintu menuju kedamaian yang lebih bermakna. (KH/***)
