Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Bulan Ramadan seringkali dipahami sebatas ritual menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga terbenam matahari. Padahal, bukan sesederhana itu bagi orang yang berilmu dan berfikir atas rasa syukur jumpanya kembali pada Ramadan.
Puasa Ramadan adalah madrasah ruhani yang membentuk karakter, melatih empati sosial, dan menumbuhkan tanggung jawab peradaban. Ia bukan sekadar ibadah personal, melainkan proyek ilahiah untuk membangun manusia, dan dari manusia, lahirlah masyarakat yang berdaya.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183) — ini salah satu surah dan ayat populer saat ramadhan tiba.
Perhatikan, kata la‘allakum tattaqûn (agar kamu bertaqwa) adalah inti dari puasa. Taqwa, kata kunci — bukan hanya kesolehan individual, tetapi kesadaran kolektif yang melahirkan integritas, kejujuran, disiplin, dan kepedulian sosial. Taqwa adalah fondasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa puasa tanpa transformasi akhlak dan adab hanyalah lapar yang tertunda.
Puasa sejatinya adalah perubahan sikap, dari egoisme menuju empati, dari kemalasan menuju produktivitas, dari abai menjadi peduli.
Maka dari itu, masjid pada umumnya — tempat berinteraksi ibadah — jadi pusat peradaban, bukan sekadar bangunan belaka.
Sejarah mencatat, ketika Rasulullah SAW membangun Masjid Nabawi di Madinah. Beliau tidak hanya mendirikan tembok dan tiang. Beliau membangun manusia seutuhnya.
Di sanalah para sahabat dididik, dilatih, dan dipersiapkan menjadi generasi pemimpin dunia. Dan, Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir…”
(QS. At-Taubah: 18)
Memakmurkan masjid bukan sekadar menyalakan lampu dan membuka pintu. Memakmurkan masjid adalah menghidupkan ruhnya—menghadirkan kajian yang mencerahkan, pembinaan umat: tua, muda, remaja dan anak anak yang terarah — hingga tumbuh ruang diskusi yang membangun nalar kritis generasi muda.
Sekadar meingatkan kembali, jika ada pengurus DKM hanya sibuk pada rutinitas administratif, tanpa visi pengembangan SDM, maka masjid berisiko menjadi bangunan yang megah tetapi sepi gagasan. Ia berdiri kokoh secara fisik, namun rapuh secara filosofis.
Atau sebaliknya, pembangunan fisik boleh sederhana, akan tetapi bilamana ruh pembinaan hidup, masjid akan mancarkan cahaya.
Dan, sebaliknya bangunan megah tampa visi pembinaan, hanya akan jadi arsitektur tampa jiwa.
Ramadan adalah cermin, ia memperlihatkan siapa kita sebenarnya? Baik sebagai individu, mau pun sebagai pengelola amanah.
Di mana kita berdiri? Jangan tanya rumput bergoyang — kita sedang menjalankan takdir bersama. (KH/***)
