Oleh: Imam M.Nizar
Ku simpan cintaku di langit yang biru
Ku titipkan rinduku di dasar lautan
Begitu adanya perasaan hatiku
Begitu agungnya cintaku padamu …..
Mungkin, dirimu pernah dengar lagu yang kuciptakan itu, judul Keagungan Cinta – disenandungkan oleh penyanyi Lia Nathalia dan ku buat versi berbeda dibawakan oleh Donic Doel.
Jujur, syair dan lagu tersebut terinspirasi dari perjalanan cerita kita.
Meski akhirnya lagu tersebut pernah ditolak oleh Deddy Dores, untuk dibawakan sang penyanyi orbitannya, Nike Ardilla. Deddy Dores, mengambil lagu saya buat Nike Ardilla, bertajuk Relakan Dia Pergi – akhirnya, dibawakan oleh Nafa Urbach.
Saat kita menengok orang utan di Taman Margasatwa.
Aku lupa, diantar angkutan kota jenis apa ya, Dik?
Yang aku ingat, aku kerap mewanti wanti kamu: Jangan terlalu sering bercakap manis pada lelaki perantau, tak jelas bebet bobotnya, sok tahu dan sok perlente itu, dalam komunitas kita.
Dia hanya penggembira dan abu-abu pula. Otak kosong bin melompong. Juga merki binti pelit, tak suka berbagi, walau hanya secangkir kopi pahit, dari warung pinggiran masjid – tempat kita belajar dan jadi remaja masjid.
Kau bilang, aku cemburu. Pun, cemburu, itu manusiawi sekali.
Buat apa aku cemburu pada manusia bodoh! Tak punya “masa depan” Ha ha ha ha….
Intuisiku mengatakan, dia suka kamu!
Meski aku miskin, perantau itu bukan lawanku. Aku berani taruh! Paling tidak, secara intelektualitas dan keinginanku untuk melihat dunia lebih luas di hari esok.
Pernah aku bisikan di telingamu alam canda, ya Dik?
“Sekarang, si perantau sok necis itu, cita-citanya sudah tercapai. Hem, jadi penjahat! Eh, maaf jadi penjahit dan asisten rumah tangga mewah, tempat dia “berteduh”.
Kalau cita-citaku, menaklukan dunia, masih berproses.
Punya banyak kesempatan.
Begitu aku bergurau dalam sombongku.
Padahal, aku hanya seorang anak pedagang sayur asem dan penjual tahu Tionghoa.
Namun, aku yakin, kelak, aku jadi orang beneran. Bukan orang orangan di tengah sawah.
Wanitaku menatap jauh ke relung hatiku – dengan mata sedikit berbinar.
Seolah tak percaya akan gurauanku.
Terlalu sadis.
Main kayu.
Terlampau cemburu.
“Yang spesial itu abang. Dia hanya teman kebanyakan seperti lainnya. Ku anggap, dia kakak.Tidak lebih,” lirih cintaku seraya matanya mengalihkan pandangan pada patung gajah berdiri tegar.
Hem….Tai empus rasa coklat! Itu kata penyanyi Gombloh.
Aku menyangsikan. Belakangan itu – dalam banyak kesempatan, dirimu dan dirinya, kerap bercanda kecil di tengah teman teman kita.
Entah apa yang dibicarakan. Aku tak peduli.
Langit langit di kepalaku, penuh tanda tanya. ? ? ? ?
Aku mulai gelisah, tanpa sebab!
Bias sudah antara “doktrin” dan jawaban cintaku.
Yang aku inginkan, cintaku meninggalkan dia saat kumpul-kumpul bersama teman satu komunitas.
Tak usah basa-basi dan terlalu ramah padanya.
Ya, cintaku mamang peramah dengan banyak orang dan teman.
Nyaris tak mampu bedakan, mana yang tulus berteman dan pengkhianat.
Entah siapa yang bodoh.
Aku? atau cintaku? – dalam memagari benih dan bunga-bunga cinta.
Sebagai laki laki, aku selalu melihat kucing garong duduk manis di depan cintaku.
Bila ku lengah, si meong menampakan karakter aslinya. Paham dong…
Tak sadar pula, cintaku masuk perangkap dalam genggamannya.
Aku berteriak dalam sepi
Aku memekik dalam diam…
Aku tak berharap rembulan redup diselimuti awan columbus, di hempas angin bahorok.
Bersambung …….
