Destinasi
Beranda » Destinasi » Taman Sari Yogyakarta: Saksi Bisu Kisah Sang Raja 

Taman Sari Yogyakarta: Saksi Bisu Kisah Sang Raja 

Taman Sari Yogyakarta (Foto - Budiono)
Taman Sari Yogyakarta (Foto - Budiono)

Oleh: Anne.Y.Wachyuni 

KABARHIBURAN.idLangkah kaki para wisatawan lokal berbaur dengan wisatawan mancanegara menyusuri lorong-lorong paving block — melewati pintu gapura yang dipenuhi ukiran khas Jawa, menuju sebuah kompleks yang dulu menjadi taman rekreasi rahasia keluarga kerajaan.

Di situlah Taman Sari Yogyakarta berdiri—situs bersejarah yang menyimpan kisah cinta, kekuasaan, dan keindahan arsitektur yang melampaui zaman — dapat disebut, saksi bisu kisah sang raja. 

Terletak hanya sepuluh menit, jika menelusuri berjalan kaki dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Taman Sari dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I sekitar tahun 1757–1765. 

Di atas mata air alami bernama Umbul Pacethokan, taman ini dahulu membentang lebih dari 10 hektare, menjadi taman air yang tak hanya cantik, tapi juga sarat makna. 

Kerja Sama AirAsia MOVE dan Kemenpar RI: Dongkrak Wisata Indonesia, Fokus pada Gen Z dan Wisata Belanja

“Tempat ini bukan taman biasa,” tutur Budiono, seorang pemandu wisata lokal yang sudah lama bekerja setia menemani para pelancong. 

Taman Sari, lanjut Budiono yang menghampiri wisatawan — tanpa diminta itu, langsung menjelaskan keberadaan destinasi wisata tersebut, bahwa hal ini bentuk penghargaan Sultan kepada permaisuri yang telah setia mendampinginya di masa perang Giyanti. “Dulu, hanya keluarga kerajaan yang boleh masuk ke sini.” ceritanya. 

Taman ini menyuguhkan banyak bangunan dan kolam yang memiliki fungsi tersendiri. Yang paling terkenal adalah kompleks pemandian Umbul Binangun. Terdapat tiga kolam utama: Umbul Panguras untuk sang Sultan, Umbul Kawitan bagi para putri, dan Umbul Pamuncar khusus untuk para selir. 

Taman Sari Yogyakarta (Foto - Budiono)
Taman Sari Yogyakarta (Foto – Budiono)

Budiono menunjuk ke menara pengawas yang berdiri kokoh di tengah kolam. “Dari atas sana, Sultan akan memilih selirnya. Caranya unik—Sultan melempar bunga ke kolam, dan siapa yang terkena bunga itu, dialah yang dipanggil ke menara untuk menemani beliau,” tambahnya. 

Kompleks ini juga memiliki Sumur Gumuling, sebuah masjid bawah tanah yang dibangun dengan arsitektur perpaduan Jawa dan Portugis. 

Mal Ciputra Jakarta Kembali Hadirkan Food Destination, Siap Manjakan Lidah Pengunjung

Di bagian tengahnya terdapat lima tangga yang saling bertemu di satu titik. Hal itu, lanjut pemandu tersebut simbol Rukun Islam, “Masjid ini dirancang agar suara imam bisa terdengar ke seluruh penjuru tanpa pengeras suara.” 

Tak jauh dari sana berdiri Gedung Kenongo, bangunan tertinggi di kawasan Taman Sari. Di masa lalu, gedung ini menjadi tempat jamuan istana, di mana para tamu kerajaan menikmati makanan sembari memandang kolam dari ketinggian. 

Bukan hanya sebagai tempat peristirahatan, Taman Sari juga digunakan sebagai pusat pelatihan bagi putri-putri keraton—belajar menari, memasak, hingga meracik jamu. Kata kebanyakan orang, seperti yang diutarakan oleh sang pemandu,  tempat ini seperti sekolah elite-nya kerajaan. 

Meski sebagian besar bangunan telah termakan waktu, sisa-sisa kejayaannya masih nampak terlihat jelas. Setiap lorong, dinding batu, dan gapura yang dilewati pengunjung terasa hidup dengan cerita. 

Beberapa area yang populer dijadikan spot foto antara lain Gedhong Gapura Hageng, Gedhong Sekawan, dan tentu saja kolam Umbul Binangun. 

Pakuwon Mall Bekasi Hadirkan Program Dealicous Weeks untuk Pelanggan Setia

Dahulu, lorong bawah tanah ini dipakai oleh para prajurit untuk menyergap penjajah secara diam-diam. Sekarang,  lorong ini jadi jalur pulang yang penuh kenangan bagi setiap wisatawan yang beranjang ke sana. 

Menjelang sore, suasana Taman Sari terasa syahdu. Cahaya matahari jatuh lembut di atas permukaan air kolam, menciptakan bayangan yang menari di antara dinding-dinding kuno. 

Di kejauhan, suara pengunjung bergema samar, berpadu dengan hembusan angin yang membawa aroma tanah dan sejarah. 

Taman Sari bukan sekadar destinasi wisata. Ini ruang waktu yang diam — bercerita banyak tentang cinta, keteladanan, dan keindahan budaya yang tak pernah padam. Sebuah warisan yang menjadikan Yogyakarta bukan hanya dikenal sebagai kota pelajar. Akan tetapi juga, penjaga kisah-kisah peradaban masa lampau —- yang boleh jadi “cerminan” kejayaan raja raja masa silam di tanah ibu pertiwi. (KH/***)