Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] AIR MATA TAK AKAN MENJADI ANAK SUNGAI: Gamang Menentukan Arah Pulang

[Cerpen] AIR MATA TAK AKAN MENJADI ANAK SUNGAI: Gamang Menentukan Arah Pulang

Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd.

Kabut tipis, melintas di lereng bukit. Pagi belum benar-benar beranjak. Warung kopi legenda, kecil di tepi jalan itu tampak lengang. Hanya beberapa kursi kayu dimakan usia yang menghadap ke lembah, seolah sengaja disediakan bagi mereka yang ingin berbincang dengan kesepian.
Di salah satu sudut warung, Fauzar duduk sendirian. Seperti tempo lalu ….ia menanti.

Secangkir kopi pahit di hadapannya telah kehilangan uap. Ia tak benar-benar meminumnya. Lelaki itu, lebih sibuk dengan handphonenya serta sesekali memandangi jalan setapak yang menurun ke lembah. Seakan menunggu sesuatu yang mungkin datang, mungkin juga tidak.

Lalu, Zahrah datang.
Langkahnya pelan.
Hijab merah marun yang dikenakannya bergoyang ringan diterpa angin pegunungan.
Mereka saling menatap.
Tak ada pelukan.
Tak ada jabat tangan. Sapaan pun seolah berbunyi dalam hening.
Hanya dua pasang mata yang pernah saling mengenal begitu dalam, kini dipisahkan oleh jarak yang tak dapat diukur dengan kilometer.
“Terima kasih sudah datang
” kata Fauzar pelan.
Zahrah mengangguk.
“Aku juga berterima kasih kau masih mau menemuiku.”
Mereka lalu duduk berhadapan.
Senya mengambil tempat di antara kedua sosok tersebut.
Sebab, terkadang, orang yang pernah saling mencintai tahu, bahwa kata-kata yang paling sulit diucapkan, justru bukan saat pertama bertemu. Melainkan, ketika hati masih menyimpan harapan yang belum sempat mati.

“Aku datang bukan untuk bertengkar,” ujar Zahrah.
“Aku juga.”
“Bukan untuk saling menyalahkan.”
“Aku tahu.”

Rindu Yang Tak Diizinkan Langit Ketika Cinta Menjadi Jalan Pulang Menuju Keikhlasan

Angin membawa aroma kopi dan tanah basah. Fauzar tersenyum tipis.
“Kalau begitu, mungkin kita datang untuk mengingat.”
“Mengingat apa?”
“Bahwa dulu kita pernah saling jatuh cinta.”
Zahrah terdiam, matanya berkaca-kaca.
Ia ingat masa-masa ketika nama Fauzar menjadi do’a yang diam-diam ia sebut setelah sholat. Ia ingat obrolan panjang hingga larut malam. Ia ingat bagaimana lelaki itu berusaha menjadi tempat pulang bagi segala keluh kesahnya.

Ketika waktu berjalan…..
Dan, hati manusia adalah penuh rahasia, bahkan pemiliknya sendiri sering tak memahaminya.
“Aku ingin kita rujuk,” kata Fauzar tiba-tiba.
Zahrah menunduk.
“Bukan sekadar kembali bertemu.”
Ia melanjutkan kalimatnya dengan suara lirih.
“Aku ingin kembali seperti dulu. Utuh. Lengkap. Seperti saat pertama kali kita saling jatuh cinta.”
Jari-jari Zahrah saling menggenggam.
Ia tak segera menjawab.

Karena jawaban yang jujur, sering kali lebih menyakitkan dari pada kebohongan yang begutuh indah.
Di kejauhan terdengar suara burung dari balik pepohonan pinus.
“Aku juga pernah menginginkan itu,” bisik Zahrah.
“Pernah?” Diulang lagi kata itu oleh Fauzar.
“Ya. Pernah.”
Senyum Fauzar memudar perlahan.
Lalu percakapan mereka berjalan seperti dua orang yang sedang membersihkan luka lama dengan hati-hati.
Tidak ada nada tinggi.
Tidak ada bentakan.
Hanya adab yang dijaga penuh hormat,  tetap berdiri, meski cinta mereka sedang limbung.

Sampai akhirnya Fauzar menyebut nama seseorang.
Seseorang yang dulu ia kenalkan kepada Zahrah di rumahnya.
Teman yang selama ini ia anggap saudara.
Dan entah bagaimana, bergeser perlahan menjadi tempat Zahrah bercerita, tempat Zahrah pulang ketika dirinya menjauh dari Fauzar.
Wajah Zahrah berubah.

“Jangan cemburu,” katanya cepat.
Fauzar tersenyum pahit.
“Tidak mungkin aku dengannya. Tidak mungkin itu, Fauzar.”
Fauzar itu memandang lembah yang berkabut. Lama. “Tidak mungkin….? ” pikir Fauzar  tak terucap ke Zahrah.
Seolah sedang mencari keberanian untuk menerima sesuatu yang sebenarnya telah ia pahami sejak lama.Tidak mungkin, akan menjadi mungkin. Itu Fauzar trouma….

[Cerpen] Mata Air Tak Pernah Menjadi Anak Sungai

Kemudian, ia berkata pelan.
Sangat pelan. Justru karena kalimat itu terasa menghantam dada.
“Aku ini hanya mata air yang mengalir kecil dari sela batu, menuju muaraku sendiri.”
Ia berhenti sejenak.
“Maaf jika kini kamu mencari anak sungai yang lebih deras.”
Angin semilir kembali berembus.
“Itu bukan sosokku.”
Mata Zahrah mulai basah.
“Dan, aku tak sanggup membantumu lagi.”
Zahrah terdiam.
Benar-benar terdiam.
Tak ada jawaban.
Tak ada bantahan.
Sebab terkadang hati seseorang sedang berada di persimpangan yang bahkan ia sendiri tak tahu jalan mana yang ingin dipilihnya.

Beberapa saat kemudian Zahrah berdiri.
Fauzar ikut berdiri.
Mereka saling menatap untuk waktu yang seolah terasa sangat panjang. Gelisah

“Aku harus pergi.”
Fauzar mengangguk.
“Baik.”
“Aku minta maaf.”
“Aku juga.”
Mereka tersenyum.
Senyum yang terasa lebih menyakitkan daripada tangisan.
Lalu Zahrah berbalik.
Melangkah menjauh dari warung kopi itu.
Turun mengikuti jalan lereng bukit yang mulai diselimuti kabut siang.
Fauzar tetap berdiri.
Memperhatikan hingga sosok perempuan itu menghilang di balik tikungan.

Tak lama setelah itu, di tempat lain, tangan Zahrah gemetar memegang telepon genggamnya.
Nama Fauzar masih terpampang di layar.
Ia menatapnya lama. Sangat lama.
Seakan sedang melihat sebuah rumah yang pernah memberinya kehangatan.
Kemudian perlahan ia memilih satu keputusan.
Nomor itu diblokir.
Layar kembali gelap.
Namun anehnya, setelah semuanya selesai, dada Zahrah justru terasa semakin sesak.

Ada kegelisahan yang tak bisa dijelaskan.
Ada rasa bersalah yang tak mampu ia usir.
Seperti seseorang yang baru saja menutup pintu, tetapi masih mendengar suara langkah orang di luar sana. Sedih pun berkecamuk, merayap dalam senyap dan sesak.

Seni Memenangkan Hati Saat Hidup Nyaris Tak Mampu Dikendalikan

Tidak semua kesedihan akan bermuara pada pertemuan kembali. Kadang, air mata hanya menjadi saksi — bahwa seseorang pernah mencintai dengan sungguh-sungguh, meski takdir memilih arah yang berbeda.

Malam turun perlahan.
Di lereng bukit, Fauzar masih duduk sendiri di warung kopi.
Secangkir kopi — yang dipesannya kembali telah dingin.Kabut semakin tebal.

Sementara, di tempat yang berbeda, Zahrah memandang langit dari jendelanya.
Entah sedang memikirkan Fauzar.
Entah sedang memikirkan masa depannya.
Entah sedang memikirkan orang lain — sosok yang dikata Fauzar, pernah di kenalkan kepadanya. Zahra mengingatnya kembali….
“Dia ini orang yang kelak berhasil di dunia pendidikan dan berhasil secara finsncial” kata kata Fauzar menjelma jadi renungan, pikiran Zahrah.

Langit malam tak memberikan jawaban.
Begitu pula angin.
Mungkin, Fauzar benar masih dalam benak Zahrah.
Mata air memang bisa mengalir jauh.
Bisa melewati batu, tanah, dan lembah.
Namun tidak semua mata air ditakdirkan menjadi anak sungai.
Dan, tidak semua perpisahan ditakdirkan menjadi akhir.

Di antara sunyi yang panjang itu, hanya langit yang tahu:
apakah suatu hari Zahrah akan kembali menapaki jalan menuju warung kopi di lereng bukit itu…
atau justru memilih arah lain yang tak pernah lagi bersinggungan dengan langkah Fauzar.
Kabut tetap turun.
Malam tetap berjalan.
Dan, jawaban itu mengantung di langit malam — masih disimpan oleh takdir.
*****
Depok, 8 Juni 2026.