Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Perbukitan Menoreh di sisi barat Daerah Istimewa Yogyakarta kian menegaskan diri sebagai ruang wisata yang menyatukan alam, ketenangan, dan pengalaman kuliner.
Di kawasan Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, berdiri Tumpeng Menoreh, destinasi wisata yang kian bulan dan kian tahun menawarkan sensasi menikmati hidangan kuliner dan panorama alam dari ketinggian sekitar 950 meter di atas permukaan laut.
Dari kawasan puncak, hamparan perbukitan tersaji luas dengan sudut pandang hampir 360 derajat.
Pada pagi hari, kabut tipis kerap menggantung di lembah, menciptakan lanskap yang oleh wisatawan disebut sebagai pengalaman berada “di atas awan”.
Saat cuaca cerah, siluet Gunung Merapi, Merbabu, dan Sindoro tampak jelas di kejauhan.
Sebelum mencapai area utama, para wisatawan diarahkan berhenti di area shuttle titik transit sebelum parkiran puncak.
Dari lokasi ini, pengunjung melanjutkan perjalanan menggunakan car mini (shuttle) yang disediakan pengelola untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan di jalur perbukitan yang sempit dan menanjak.
Bisa juga dengan kendaraan pribadi sejauh berkoordinasi dengan petugas lapangan di bawah dan di atas.
“Jalur ke atas memang sengaja kami atur seperti ini. Selain lebih aman, wisatawan juga bisa menikmati perjalanan tanpa khawatir kendaraan pribadi kesulitan menanjak,” ujar Yanto, pemandu wisata lokal Bukit Menoreh, saat ditemui di area shuttle.
Menurutnya, sistem shuttle juga menjadi bagian dari upaya menjaga ketertiban dan kelestarian lingkungan.
“Kami ingin wisata di Menoreh ini tetap nyaman dan tidak merusak alam. Jadi kendaraan dibatasi sampai titik tertentu,” tambah Sutrisno, sang teman Yanto — saat kami akan nanjak ke Tumpeng Menoreh.
Konsep wisata yang ditawarkan Tumpeng Menoreh memadukan panorama alam dan kuliner.
Area bersantap dirancang terbuka dengan arsitektur yang menyesuaikan kontur bukit, menghadirkan suasana tenang dan estetis.
Pengunjung dapat menikmati kuliner tradisional Jawa hingga menu modern, sembari memandang lanskap perbukitan yang terbentang.
Bagi wisatawan, perjalanan dengan car mini justru menjadi bagian dari pengalaman.
Toro, asli Kulon Progo salah satu sopir shuttle car mini, menyebut banyak pengunjung merasa takjub sejak perjalanan dimulai.

Lahir dari Inisiatif Lokal
Tumpeng Menoreh tumbuh dari semangat pengembangan pariwisata berbasis alam dan masyarakat.
Destinasi ini dirintis oleh pelaku wisata lokal, bernama Endank Soekamti, vokalis grup legendaris Endank Soekomti, pesohor grup di era tahun 1980 an – 1990 an — “bersama warga Samigaluh” di buka pada tahun 2021 untuk mengangkat potensi Bukit Menoreh tanpa meninggalkan nilai kelestarian lingkungan.
Nama “Tumpeng” dipilih sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan dalam tradisi Jawa, sementara “Menoreh” menegaskan keterikatannya dengan lanskap perbukitan yang menjadi ruh utama kawasan ini.
Seiring meningkatnya kunjungan, Tumpeng Menoreh berkembang menjadi ikon wisata baru di Kulon Progo dan turut menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari sektor kuliner, jasa pemandu, hingga transportasi wisata.
Tiket masuk ke Tumpeng Manoreh Rp100.000 per orang — sudah termasuk makan prasmanan seharga Rp25.000 perorang.
“Menunya bisa milih bebas, jika lebih dari dua puluh lima ribu, pengunjung bisa bayar selisihnya di kasir ” kata salah seorang petugas tiket yang menyodorkan karcis masuk menghampiri mobil kami.
Untuk bermalam di sana, harga bervariasi.Vila, semalam kisaran Rp1,1 juta hingga Rp5 juta. Glamping atau tenda, seharga Rp500.000 hingga Rp1,5 juta permalam.
Terintegrasi dengan Destinasi Sekitar
Letak Tumpeng Menoreh yang strategis membuatnya kerap menjadi titik utama dalam paket wisata satu hari.
Dari sini, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke Kebun Teh Nglinggo, Pule Payung, Taman Sungai Mudal, Puncak Suroloyo, Gunung Kunir, Goa Kiskendo, hingga Desa Wisata Tinalah.
“Biasanya wisatawan pagi ke Kebun Teh atau Sungai Mudal, siang ke Tumpeng Menoreh, lalu sore ke Puncak Suroloyo,” jelas Sutrisno.
Sayangnya, perjalanan kami saat berkunjung di akhir tahun 2025 ini — tepatnya masuk kawasan, pada Jumat 26 Desember 2025 tak bisa mengunjungi banyak destinasi yang di tawarkan.
Kami hanya sempat berkunjung ke Puncak Manoreh, setelah itu ke Taman Sungai Mudal — yang menawarkan airnya begitu jernih.
Namun sayangnya lagi, ketika sampai di pintu gerbang, kami tak sempat turun dari dalam mobil, lantaran sepanjang jalan dari Tumpeng Manoreh hingga ke Sungai Mudal diguyur hujan.
Menimbang kesehatan dan keselamatan, akhirnya kami lanjut balik ke hotel. Hanya sempat lihat pengumumum, destinasi wisata tersebut di buka dari pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB.
Waktu Berkunjung Terbaik
Sebelum berjalan ke destinasi Sungai Mudal, kami sempat menikmati pacuan andrenalin, ikut offroad — nge-jeep menyelusuri jalan terjal berliku, penuh dengan genangan air berlumpur dan licin.
Biaya yang kami keluarkan untuk offroad, satu jeep mengeluarkan kocek Rp600.000. Kami ambil dua jeep, ditambah biaya dokumentasi Rp150.000. Jadi dana yang kami keluarkan untuk pacu andrenalin tersebut Rp1.350.000.
“Kalau tak hujan, perjalanan kita kembali lagi ke shultte hanya butuh waktu kisaran satu jam, ” kata salah satu driver yang membawa kami.
“Karena tadi hujan dan kabut pekat turun mendadak, jadi perjalanan nge-jeep sekitar dua jam. Medannya tambah berat,” lanjutnya.
Musim kemarau menjadi waktu yang paling direkomendasikan untuk menikmati panorama Bukit Menoreh dan varian disekitarnya secara maksimal.
Meski demikian, suhu udara di kawasan perbukitan relatif sejuk, terutama pada pagi dan sore hari.
Dengan perpaduan alam, tata kelola wisata yang tertib, serta keterlibatan masyarakat lokal, Tumpeng Menoreh hadir bukan sekadar sebagai destinasi, melainkan ruang singgah yang mengajak pengunjung menikmati Jogya dari ketinggian, perlahan, aman, dan penuh rasa.
Tentu, pulang yang bawa pasangan, teman hati atau keluarga, mendulang kenangan tersendiri. (KH/***)
