Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Cahaya Cinta Yang Sesungguhnya

[Cerpen] Cahaya Cinta Yang Sesungguhnya

(Foto ilustrasi - Unsplash)
(Foto ilustrasi - Unsplash)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

Senja itu, langit Bogor menggantung rendah, seolah ikut menahan sesuatu yang tak terucap. 

Awan hitam pekat dibalut warna keabuan putih susu bergerak pelan, seperti hati yang ragu melangkah. Fauzar baru saja mematikan mesin mobilnya dan berjalan ke beranda halaman rumah sederhana itu penuh makna, seraya menarik napas dalam — napas yang terasa berat, bukan karena perjalanan jauh, melainkan karena perjalanan batin yang tak kunjung usai. 

Sepekan menjelang Idul Fitri 1447 H lalu,  ia akhirnya sampai. Sampai pada sebuah titik yang dulu hanya berani ia bayangkan dalam do’a-do’a diamnya: bertemu keluarga Sylti. 

“Masuk, Bang Fauzar…” begitu Sylti memanggil kekasihnya dengan panggilan abang plus namanya —  suara nyaris seperti angin yang lewat di sela dedaunan.

[Cerpen] Ketika Cinta Mati Suri

Fauzar menoleh. Wajah perempuan itu tak berubah, saat kali pertama ketemu di acara akbar majelis ilmu di Istqlal, tetap teduh, tetap lembut. Namun, ada garis lelah yang tak bisa disembunyikan. Garis yang hanya dimengerti oleh hati yang sering menunggu tanpa kepastian. 

Hati lelaki mana yang tak bangga saat berdiri di hadapan perempuan yang ia cintai, di hadapan keluarganya pula? Tapi kebanggaan Fauzar hari itu bukanlah kebanggaan yang utuh. Ia seperti cermin retak—masih memantulkan cahaya, tapi tak lagi sempurna. 

Sementara Sylti… di balik senyum tipisnya, ada gelombang cemas yang tak pernah benar-benar reda.

Statusnya adalah kabut menggelayut di celah lereng teh.

Ia bukan sosok sendiri lagi, sebab tak pernah benar-benar dilepaskan. Ia disebut istri seseorang, tapi tanpa kehadiran yang utuh, tanpa tanggung jawab, tanpa arah. Pernikahan siri yang dulu ia genggam sebagai harapan, kini hanya menjadi bayang yang menggantung di antara halal dan luka serta patut dipertanyakan kembali dalam agama. 

Menjaga Bara Ramadhan: Memaknai Puasa Syawal sebagai Jalan Istiqomah

“Semua ini… apa masih bernilai di mata-Nya, Bang …?” tanya Sylti jelang malam, usai bukber bersama saat mereka duduk di beranda rumah, sesekali ditemani suara jangkrik dan anak katak, dingin  merayap pelan, cerita pun mengalir terjeda jeda.

Fauzar tak langsung menjawab. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri—tangan yang ingin menggenggam, tapi sadar ada batas yang tak boleh dilanggar. Akhirnya Fauzar ambil secangkir kopi hangat yang telah dibuatkan Sylti.

“Cinta itu… kadang bukan tentang memiliki, Sylti…” ucapnya perlahan. “Kadang, ia hanya ujian… apakah kita memilih Dia, atau memilih rasa.”

Sylti tersenyum getir. Air matanya jatuh tanpa suara. 

“Aku lelah jadi abu-abu, Bang….Lelah menunggu sesuatu yang bahkan tak tahu akan datang atau tidak…”

[Puisi] Ketika Aku Harus Ikhlas Melepasnya

Fauzar menutup mata. Dalam sunyi itu, ia pun membawa luka yang tak kalah dalam.

Ia punya rumah. Punya ikatan. Punya tanggung jawab yang juga tak sederhana. Kehidupan rumah tangganya sendiri bukanlah taman yang penuh bunga, melainkan ladang kering yang bertahan karena kewajiban, bukan lagi karena cinta. 

Dua jiwa yang sama-sama rapuh, dipertemukan bukan untuk saling memiliki—melainkan untuk saling menguji.

Hari pertemuan dengan keluarga Sylti berlangsung hangat, penuh basa-basi dan harapan yang diam-diam tumbuh di hati orang-orang yang tak tahu seluruh cerita. Fauzar dipandang sebagai lelaki baik. Lelaki yang pantas buat Sylti.

Namun, hanya Fauzar dan Sylti yang tahu: di balik semua itu, ada dinding tak kasat mata yang tak bisa mereka runtuhkan begitu saja. 

Sebelum Fauzar kembali pulang, gerimis turun perlahan. Sepertinya langit tak mampu menahan tangisnya.

“Apa kita harus berhenti di sini?” tanya Sylti, suaranya hampir hilang ditelan rintik hujan.

Fauzar menatapnya lama. Lama sekali. Seolah ingin menghafal setiap garis wajah yang tak akan bisa ia miliki sepenuhnya. 

“Kita tidak berhenti…” katanya lirih. “Kita hanya… mengembalikan semuanya Kepada Sang Pemilik…..Apa yang hendak dikata oleh takdir mengalir saja……”

Sylti menangis. Kali ini tanpa mampu ditahan.

Dalam tasawuf, cinta bukanlah tentang pertemuan dua manusia semata. Ia adalah jembatan menuju Tuhan—atau justru hijab yang menjauhkan. Dan mereka sadar, cinta ini… bisa menjadi keduanya.

“Aku takut kehilanganmu, Bang …”

Fauzar menggeleng pelan. “Kalau kita kehilangan karena memilih-Nya… itu bukan kehilangan, Sylti. Itu maknanya pulang.” 

Hujan semakin deras.

Dan di antara suara alam yang bersaksi, dua hati itu akhirnya belajar sesuatu yang paling sulit dalam kata cinta: melepaskan dengan ikhlas atau bertahan di balik tebalnya dinding. 

Bukan karena tak mampu memperjuangkan, tetapi karena mereka takut cinta yang mereka genggam justru menjauhkan mereka dari cahaya sejatinya, makna cinta sesungguhnya. Akhirnya, malam itu, Fauzar pamit dengan mobilnya — meninggalkan Sylti di lorong gang tak jauh dari beranda rumah orang tuanya.

Tak ada pelukan. Tak ada janji.

Hanya tatapan yang menyimpan ribuan kata yang tak pernah terucap.

Sylti berdiri melepas kepergian Fauzar dengan senyum tertahan serta membiarkan air matanya ngeces ke pipi. Namun kali ini, di dalam hatinya, ada sesuatu yang perlahan tumbuh, bukan harapan pada manusia, melainkan harapan pada Tuhan.

Mungkin, cinta yang tak sampai di dunia, akan menemukan jalannya di langit yang lebih luas.

Dan, di situlah, segala yang abu-abu akan menjadi terang menderang. (***)