Humaniora
Beranda » Humaniora » Cerbung: Anak Santri di Lorong Gemerlap [Bagian 2]

Cerbung: Anak Santri di Lorong Gemerlap [Bagian 2]

(Foto ilustrasi - Shutterstock)
(Foto ilustrasi - Shutterstock)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

(Lelaki yang Wajib Datang)

Cinta kadang tidak tumbuh dari sentuhan.

Ia tumbuh dari kebiasaan hadir.

Dan itulah yang terjadi antara Fauzar dan Cicih.

Gentem Center Hadir di Living World Kota Wisata Cibubur, Tawarkan Konsep Belajar Terpadu

Saat pacarnya memutuskan hubungan secara tiba-tiba, Fauzar menjadi lelaki pertama yang ia hubungi tengah malam.

Suara tangisnya pecah di ujung telepon.

“Bang… aku sendirian…”

Malam itu Fauzar baru pulang dari liputan di luar kota, baru sampai di kantornya di Kebun Jeruk. Bau asap rokok dan kopi masih melekat di bajunya. Tetapi mobilnya tetap meluncur menuju rumah Cicih di Jakarta Selatan. 

Sejak malam itu, ada rutinitas yang tak pernah tertulis.

Pelayaran Laksamana Cheng Ho: Sang Duta Persahabatan Dunia

Pulang kantor, Fauzar singgah dulu ke rumah Cicih. Pulang studio, Fauzar mampir dulu ke rumah Cicih.

Kadang hanya untuk makan malam.

Kadang hanya menemani ia menangis.

Kadang hanya duduk diam mendengarkan radio.

Dan, diam-diam, kehadiran Fauzar menjadi candu baginya.

STKIP Pasundan Archery Open VI 2026: Arena Menempa Bidikan, Mental, dan Masa Depan Panahan Indonesia

Jika Fauzar terlambat datang, ia akan menelepon:

“Abang di mana?”

Bukan nada posesif.

Lebih seperti seseorang yang takut ditinggal sendiri oleh sunyi. 

Fauzar mulai mengenal wajah Cicih tanpa riasan. Mengenal tangisnya. Mengenal aroma rambutnya sehabis keramas. Mengenal sisi rapuh perempuan yang di panggung terlihat begitu kuat sebagai anak pertama dari tiga bersaudara.

Dan di situlah bahaya sebenarnya bermula.

Bukan pada sentuhan. Tetapi pada rasa nyaman. (Bersambung)