Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Ketika Cinta Mati Suri

[Cerpen] Ketika Cinta Mati Suri

(Foto ilustrasi - Pexels.com)
(Foto ilustrasi - Pexels.com)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

Senja temaram di balik bukit gunung  Manglayang menjadi saksi — pasangan yang ingin mempertegas hubungan mereka. Seolah senja itu enggan benar benar pergi, 

Cahaya keemasan itu merambat pelan di sela dedaunan.— pucuk pucuk pinus, jatuh di wajah dua insan yang duduk berjarak — tidak terlalu dekat, akan tetapi tak cukup jauh untuk saling melupakan. 

Fauzar —- lelaki cukup berumur menatap lurus ke depan. Matanya tenang, namun di dalamnya ada riak yang tak kunjung reda.

Adalah Sayyidati suaranya pelan, nyaris kalah oleh desir angin. “Sampai kapan kita berdiri di tempat yang tidak punya nama ini?” sergah Fauzar. 

[Cerpen] Cahaya Cinta Yang Sesungguhnya

Sayyidati — kerap disapa Sylti tidak langsung menjawab. Jemarinya saling menggenggam, seperti sedang menahan sesuatu yang ingin runtuh. Ia menunduk, membiarkan bayang senja menyembunyikan matanya yang mulai basah di atas tanah kering, sebulan tak hujan. 

“Aku sendiri tidak tahu,” jawabnya lirih. “Sejak awal… semua ini sudah salah, Fauzar, ” tandas Sylti.

“Kalau salah, kenapa rasanya begitu benar?” Fauzar menoleh. Tatapannya kali ini tak lagi bisa disembunyikan. Ada luka di sana. Ada harap yang nyaris putus. 

Sylti tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip perpisahan daripada kebahagiaan.

“Karena hati kita manusia… bukan kitab hukum, ” tandasnya pelan.

Menjaga Bara Ramadhan: Memaknai Puasa Syawal sebagai Jalan Istiqomah

Hening. Panjang. Menyesakkan.

Di kejauhan, suara azan magrib mulai menggema, seperti pengingat bahwa ada batas yang tak boleh dilanggar.

Fauzar menarik napas dalam-dalam. “Aku ingin melamarmu.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Berat. Tegas. Nyaris seperti keputusan yang sudah lama dipendam. 

Sylti terperanjat. Ia mengangkat wajahnya cepat, matanya berbinar binar penuh kegelisahan.

[Puisi] Ketika Aku Harus Ikhlas Melepasnya

“Jangan…,” bisiknya. “Jangan katakan itu lagi.” selanya dalam.

“Kenapa?” Fauzar mendesak, suaranya mulai retak. “Apa aku tidak berhak memperjuangkan sesuatu yang jelas? Aku lelah dengan ketidakpastian ini, Sylti. Lelah mencintaimu dalam diam, sementara statusmu… menggantung seperti ini.” 

Sylti memejamkan mata. Air mata yang sejak tadi ditahan, akhirnya menganak sungai di pipi.

“Kau tahu kenapa,” katanya pelan. “Aku… masih istri seseorang……”

“‘Seseorang’ yang bahkan tidak menjalankan perannya,” potong Fauzar cepat. “Suami yang tak memberi nafkah, tak memberi kabar, tak hadir…  Apa itu masih bisa disebut pernikahan? Pun, hadir hanya sejenak, menengok anak dengan seenak caranya sendiri…. Lelaki macam apa tuh?!” 

Sylti terdiam. Pertanyaan itu seperti pisau yang mengiris luka lama.

“Itu pernikahan siri, Fauzar…” suaranya sedikit parau dan bergetar. “Tidak tercatat. Tidak jelas. Bahkan… aku sendiri kadang bertanya, apakah aku ini benar-benar istri… atau hanya seseorang yang pernah dijanjikan sesuatu. Menunggu….” hela Sylti panjang. 

Fauzar menatapnya lekat. Ada kemarahan yang menikam dadanya sendiri,  tapi lebih banyak kepedihan.

“Lalu kenapa kau bertahan?” tegas Fauzar.

“Karena aku takut,” jawab Sylti, hampir tak terdengar. “Takut jika aku melangkah, aku salah. Takut jika aku menunggu, aku juga salah. Hidupku seperti ini bom waktu. Aku tidak tahu kapan semua ini akan meledak dan menghancurkan semuanya.” 

Angin senja berembus lebih dingin.

Fauzar menunduk, jemarinya mengepal di atas lututnya. Terbayang lelaki ngehe yang tak jelas itu saat Fauzar sempat main ke rumah kontrakan Sylti di Subang.

“Dan aku…..Aku ada di mana dalam hidupmu?” tanya Fauzar menahan pekik.

Sylti menatapnya lama. Lama sekali. Seolah ingin mengabadikan wajah kekasih dalam ingatannya. 

“Kau… adalah ujian terindah, sekaligus tersulit dalam hidupku,” pungkasnya.

Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam dada Fauzar.

“Indah, tapi tidak boleh dimiliki?” Fazar tersenyum pahit.

Sylti mengangguk pelan. Air matanya terus mengalir, hampa harapan lagi.

“Kalau aku menerima lamaranmu… tanpa kejelasan tentang masa laluku, aku akan membawa luka itu ke dalam hidupmu. Aku tidak ingin kau mencintai seseorang yang masih terikat pada bayangan yang belum tuntas,” 

Fauzar mengangkat wajahnya. Kini matanya tgģģgģ.

“Aku tidak peduli masa lalumu.”

“Aku yang peduli,” tegas Sylti. “Karena cinta bukan hanya soal kita berdua. Ada hukum yang harus dijaga. Ada Tuhan yang harus kita hadapi.”

Hening kembali turun.

Senja hampir padam.

Fauzar berdiri perlahan, seolah memutuskan sesuatu yang sangat berat.

“Jadi… ini akhir kebersamaan kita?”

Sylti ikut berdiri. Tubuhnya gemetar, tetap ia memaksakan diri untuk tegak.

“Ini… cara kita menjaga agar tidak benar-benar hancur.”

Fauzar tertawa kecil. Pahit.

“Aku kira cinta akan membawa kita bersama.”

“Kadang,” jawab Sylti, “Cinta justru menyelamatkan kita… dengan cara memisahkan.” 

Air mata Fauzar jatuh, manusiawi sekali. Untuk pertama kalinya, tanpa mampu ia sembunyikan di depan wanita yang sangat di cintainya itu.

“Aku mencintaimu, Sylti,”

“Aku juga,” bisik Sylti dalam.“Dengan cara yang mungkin tidak akan pernah kita rayakan, ” sambungnya. 

Langit akhirnya gelap.

Mereka berdiri berhadapan, tapi tak saling menyentuh. Jarak di antara mereka kini terasa seperti tak bertepi.

Dalam diam, mereka sama-sama mengerti—bahwa cinta ini tidak akan sampai ke pelukan. Tapi bukan berarti ia benar benar mati. Mungkin dapat dapat dikatakan mati suri. 

Ia hanya berubah arah  menjadi do’a.

Menjadi luka yang disimpan rapi.

Menjadi kenangan yang diam-diam hidup… di tempat paling sunyi, senyap dasar hati.

Dan, di sanalah, cinta mereka menemukan bentuknya yang paling jujur:

tidak untuk memiliki,

tidak banyak menuntut….

hanya mengikuti arus takdir.

Bila tiba saatnya, melepasnya pun dengan penuh ikhlas dan kesadaran penuh. 

Meski, luka menganga jejak perjuangan… (***)