Humaniora
Beranda » Humaniora » Cerbung: Anak Santri di Lorong Gemerlap [Bagian 1]

Cerbung: Anak Santri di Lorong Gemerlap [Bagian 1]

(Foto ilustrasi - Shutterstock)
(Foto ilustrasi - Shutterstock)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

Jakarta, awal tahun 1990-an. Kota itu seperti perempuan malam: gemerlap, harum parfum mahal, namun menyimpan banyak luka di balik bedaknya. Dan , Fauzar datang dari keluarga dengan doa ibu yang masih basah di ujung sajadah.

Di redaksi Tabloid ternama, tempat Fauzar bekerja — mula-mula teman seniornya memanggilnya anak santri.

Barangkali karena Fauzar tak pernah meninggalkan sholat lima waktu. Pakaiannya selalu rapi: celana bahan, sepatu pantofel, kemeja licin tersetrika. Tak pernah ia sentuh celana jean robek, kaus oblong, atau jaket kulit seperti wartawan hiburan lain yang hidupnya berpindah dari konser ke diskotek. 

“Awas, jangan ngomong jorok kalau ada ustadz lewat…”

Pemerintah Tetapkan Iduladha 1447 Hijriah Jatuh pada Rabu 27 Mei 2026

begitu mereka meledek sambil tertawa di ruang kantor redaksi Tabloid ternama di negeri ini.

Fauzar hanya tersenyum.

Padahal, mereka tak tahu—hidup sering kali mengalahkan prinsip perlahan-lahan. Tidak dengan badai, tetapi dengan kebiasaan.

Dan, dunia hiburan adalah ombak yang paling setia mengkikis karang penuh sabar. 

Awalnya Fauzar hanya wartawan. Meliput artis. Menulis gosip. Mengejar deadline sampai dini hari. Tetapi Tuhan rupanya memberinya satu bakat lain: menciptakan lagu.

Merawat Hati, Menjaga Iman, dan Bertahan di Tengah Gelapnya Fitnah Zaman 

Dari situlah semuanya berubah.

Fauzar mulai dekat dengan studio rekaman. Produser-produser besar di Jakarta mengenalnya. Penyanyi lama meminta dibuatkan lagu baru. Artis pendatang baru datang dengan mata penuh mimpi. Sebagian berhasil. Sebagian tenggelam sebelum sempat dikenal. 

Nama Fauzar perlahan tumbuh di balik layar. Siang Fauzar wartawan, malamnnya jadi produser pelaksana.

Dua dunia itu sama-sama gaduh.  Hingar bingar. Sama-sama memabukkan.

Gaji liputan tak lagi dipandang  cukup disebut penghasilan. Uang dari dunia rekaman mengalir lebih deras. Mobil mulai berganti. Parfum semakin mahal. Lingkar pergaulan makin tinggi.

Cerbung: Anak Santri di Lorong Gemerlap [Bagian 4]

Dan Fauzar mulai belajar menikmati malam.

Diskotek.

Lampu remang.

Dentuman musik.

Gelas-gelas alkohol.

Asap rokok yang membuat langit-langit seperti dosa yang menggantung. 

Fauzar  yang dulu menjaga wudu, perlahan mulai akrab dengan minuman keras. Bahkan obat-obatan yang disebut orang kota sebagai “penambah tenaga.”

Begitulah dunia itu menelan manusia: tidak sekaligus, tetapi sedikit demi sedikit.

Namun di rumah, sang istri wong jawa yang teduh,  tetap mengenalnya sebagai lelaki sederhana. 

Sebab, ketika mabuk, Fauzar tak langsung pulang ke rumah, melainkan transit di hotel — menetralisir sisa sisa kesenangan. Balik ke rumah sudah “bersih”  penuh kesadaraan. 

Saat Fauzar pulang pun, nyaris subuh sang istri tak banyak bertanya. Tak banyak curiga — mungkin dipikirnya habis deadline, ia hanya menyiapkan kopi hangat dan mata yang diam-diam menyimpan cemas. 

Lalu datanglah Cicih.

Namanya sederhana. Wajahnya bulat telur, cantik tak meledak-ledak, asli Betawi. Sama seperti Fauzar. Tetapi matanya punya sesuatu yang sulit dijelaskan: perpaduan antara lugu dan luka.

Fauzar mengenalnya saat ia masih duduk di bangku SLTA kelas dua — datang ke studio di bawa oleh seorang pemandu bakat dengan membawa mimpi menjadi penyanyi.

Dan seperti biasa, setiap artis baru yang Fauzar tangani, selalu diperkenalkan pada keluarganya.

“Ayah ini terlalu baik sama artis-artisnya,”

istri Fauzar pernah bercanda kecil.

Fauzar tertawa.

Karena bagi Fauzar kedekatan adalah cara membangun kepercayaan.

Cicih pun cepat akrab dengan rumah Fauzar.

Ia memanggil istrinya Mbakyu.

Sementara kedua anaknya begitu menyayanginya seperti tante sendiri.

Bahkan suatu hari, ibunya Cicih pernah berkata sambil tertawa:

“Bang Fauzar… kalau abang belum nikah, Cicih buat abang saja deh. Tak usah cari laki-laki lain.”

Fauzar tersenyum  sambil balas penuh gurau “Mantu telat ya Bu he he he….”

Kalimat itu terdengar seperti gurauan biasa. Tetapi, kadang, hidup diam-diam menyimpan bibit takdir di balik candaan. 

Tiga album lahir dari besutan Fauzar untuk Cicih.

Dan namanya perlahan naik menjadi penyanyi yang mulai dikenal, meski tak meledak ledak.Biasanya eksekutive prioducer, saat ngorbitkan  pendatang baru — album perdanyanya tak laku. Tak mau lagi membuatkan album berikutnya.

Hitungan matematika produksi satu album hingga pembuatan video klip, telan biaya 300 juta hingga 500 juta. Belum biaya promosi….Bisa mencapai satu milliar untuk mengorbitka artis pendang baru.  Di tahun itu, angka tersebut pantatis.

Dan Fauzar lah yang memberikan cek dan giro untuk pekerjaan itu dari eksekutive producer kepada mitranya; studio rekaman, artis, arrangger, pencipta lagu, pembuatan klip dan lainnya. 

Sejak itu hubungan Fauzar – Cicih makin dekat. Terlalu dekat untuk disebut sekadar hubungan produser dan artis.

Jika Fauzar deadline sampai pagi di kantornya, Fauzar sering tidak pulang ke rumahnya di Selatan Jakarta.

Fauzar  justru singgah ke rumah Cicih.

Kunci rumahnya selalu tersedia di tempat biasa. Kunci pagar luar. Kunci pintu dalam dan kamar tidur. Seolah Fauzar bukan tamu di sana.

“Biar abang nggak perlu telepon aku kalau pulang pagi…”

kata Cicih suatu malam.

Fauzar hanya mengangguk.

Tak ada yang aneh.

Atau mungkin mereka sama-sama berusaha menganggap semuanya tidak aneh. 

Saat syuting ke luar kota, Cicih bahkan menolak tidur satu kamar dengan penata rias perempuan tulen.

“Aku tidur sama abang saja,” katanya ringan.

“Aku percaya sama abang.”

Dua ranjang single sering tersedia.

Tetapi kadang dingin hotel membuat jarak itu menghilang sendiri.

Mereka pernah tertidur dalam satu ranjang yang sama. Dan, itu sering saat musim syuting video klip.Tidak terjadi apa-apa.

Benar-benar tidak. 

Fauzar hanya lelaki lelah yang tertidur setelah bekerja. Dan Cicih hanyalah perempuan muda yang merasa aman di dekat seseorang yang dianggap kakaknya sendiri.

Pagi hari, saat mata mereka terbuka, wajah sering terlalu dekat.

Fauzar hanya mencium keningnya.

Cicih sempat kaget pertama kali. Tetapi setelah itu ia hanya tersenyum kecil. Dan ikhlas.

“Jangan aneh-aneh, Bang…” katanya lirih.

“Nanti Mbakyu marah.”

Dan anehnya, Fauzar justru merasa kalimat itu seperti do’a yang menahan mereka agar tidak jatuh lebih jauh.

Di rumah, istri Fauzar mulai menyadari ada sesuatu yang tidak bisa disebut, peselingkuhan. Tetapi kedekatan yang terlalu hidup.

Kadang, sambil melipat baju anak-anak, ia berkata pelan:

“Artis lahir batinnya ayah itu…”

Fauzar tertawa untuk menepis kecanggungan.

“Ah, dia itu artis ayah sampai tua,” jawab Fauzar.

“Nanti kalau sudah umur juga bisa bikin album religi.”

Istrinya tersenyum.

Namun di matanya ada cemburu yang memilih diam agar rumah tetap tenang.

Sebab perempuan sering kali tahu banyak hal…

tetapi memilih tidak membongkarnya demi menjaga sesuatu yang lebih besar daripada hatinya sendiri. (Bersambung)