Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
(Malam yang Membuka Wajah Lain)
Suatu malam, seorang produser besar mengadakan pesta ulang tahun istrinya di sebuah diskotek mewah di Jakarta Utara.
Fauzar mengajak Cicih datang.
Lampu-lampu neon menari seperti setan kota besar. Musik menghantam dada. Gelas-gelas beradu. Tawa perempuan bercampur aroma alkohol mahal. Wajah wajah artis top yang berseleweran di layar kaca tumpah ruah di diskotek malam itu.
Cicih duduk diam di samping Fauzar.
Mungkin untuk pertama kali, ia melihat sisi lain dari diri Fauzar.
Bukan Bang Fauzar yang tenang, awal dikenalnya. Bukan lelaki yang mencium keningnya dengan penuh hormat.
Tetapi laki-laki malam yang larut dalam mabuk.
Fauzar tertawa terlalu lepas
Meminum gelas demi gelas.
Berbaur dengan artis lain dan wanita wanita yang mimpi ingin jadi artis — yang bahkan namanya tak Fauzar ingat lagi.
Cicih memandang Fauzar lama.
Matanya kecewa.
Seolah lelaki yang selama ini ia percaya tiba-tiba berubah menjadi asing.
Menjelang tengah malam ia berdiri.
“Bang… aku pulang duluan.”
Fauzar hanya mengangguk setengah sadar.
Seorang pasangan penyanyi terkenal mengantarnya pulang.
Sebelum pergi, Cicih berbisik pelan di telinga Fauzar.
“Terserah abang mau pulang ke Mbakyu… atau ke rumahku. Kuncinya di tempat biasa.”
Lalu ia pergi, penuh kecewa.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Fauzar merasa lampu-lampu diskotek mendadak sangat dingin.
Nyaris pagi, Fauzar pulang ke rumah Cicih — karena mobilnya ada di sana. Mereka berangkat ke diskotek pakai taxi.
Ada yang aneh saat memasuki rumah Cici
Pintu luar gerbang rumah bisa Fauzar buka, begitu juga pintu dalam. Tetapi pintu kamar Cicih tak bisa. Artinya, Cicih tidur di sana. Biasanya, kalau Fauzar pulang ke rumahnya
Cici tidur di kamar yang berbeda.
“Lha kok Abang Fauzar tidur di ruang tamu, di bangku. Cicih……ini Abangmu. Pindah di kamar sana Bang” ujar mamanya Cicih Hari memang sudah mata hari mulai naik.
Cici keluar dari kamarnnya ” Abang mabuk tuh Ma…Biar aja dia tidur di luar. Kesel aku,” kata Cicih merungut sambil mengengeringkan rambutnya.
Karena sudah dianggap anak, Fauzar oleh mamanya Cicih. Nyelonong aja Fauzar masuk ke kamarnya Cicih. Lanjut tidur. Sementata Cicih berkemas untuk berangkat kerja di Bank.
Di coleknya punggung Fauzar oleh Cici saat Fauzar tidur tengkurep.
“Bang, aku berangkat. Kunci mobil abang ada di laciku. Salam pada Mbakyu ku. Dan abang jangan mabuk lagi ya. Awas, nanti aku ngadu ke Mbakyu,” ancam Cicih seraya menutup pintu kamarnya, meninggalkan Fauzar. (Bersambung)
