Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
(Lagu yang Tak Pernah Selesai)
Waktu akhirnya membawa Cicih ke kehidupan yang lebih mapan.
Kariernya di sebuah bank BUMN melesat cepat. Dunia rekaman perlahan ia tinggalkan, meski namanya masih sesekali terdengar di radio-radio malam. Ia mulai belajar hidup normal—setidaknya berusaha tampak normal. Meski sesekali dibuatkan single pop atau religi oleh Fauzar.
Lalu mantan kekasih yang dulu meninggalkannya datang kembali.
Laki-laki itu meminta maaf.
Membawa penyesalan.
Dan cincih menerima.
Entah karena cinta belum benar-benar mati, atau karena perempuan memang kadang lelah hidup sendirian.
Namun ada satu hal yang membuat calon suaminya tak pernah benar-benar tenang:
Fauzar.
Nama Fauzar selalu hadir dalam cerita-cerita Cicih. Dalam album-albumnya. Dalam lagu-lagunya. Dalam cara matanya berubah teduh ketika menyebut “Abang.”
Barangkali itulah yang membuat laki-laki itu diam-diam cemburu pada seseorang yang bahkan tak pernah merebut apa pun darinya.
Hari pernikahan itu akhirnya datang.
Gedung megah.
Bunga-bunga putih memenuhi ruangan.
Lampu kristal memantulkan cahaya lembut ke wajah para tamu.
Fauzar datang bersama istrinya, Sakinah.
Untuk sesaat Fauzar ragu melangkah masuk. Ada perasaan asing yang sulit dijelaskan—seperti melihat seseorang benar-benar pergi dari satu ruang dalam hidup yang selama ini diam-diam di jaga.
Namun, saat Cicih melihat Fauzar dari atas pelaminan, sesuatu berubah wajahnya.
Ia langsung turun sendiri.
Tanpa suaminya.
Gaun pengantinnya menyapu lantai ketika ia berjalan cepat menghampiri Fauzar.
“Abang…”
hanya itu yang ia ucapkan.
Lalu Cicih menyalami Sakinah terlebih dahulu, mencium pipi kanan – kiri penuh hangat. Kepada Fauzar, Cicih mencium tangan lelaki yang telah begitu dekat di hatinya. Lama ia menciumnya.
Tak lama kemudian, tanpa menyuruh pelayan, tanpa protokoler keluarga pengantin, Cicih sendiri yang mengambilkan nasi dan lauk untuk pasangan suami istri itu.
Seorang pengantin perempuan yang seharusnya duduk manis di pelaminan, justru sibuk menyendoki rendang ke piring lelaki lain beserta istrinya.
Fauzar tahu banyak mata memandang.
Tetapi Cicih seperti tak peduli.
Mungkin karena beberapa rasa memang terlalu dalam untuk diatur oleh tata krama pesta.
Sakinah hanya diam.
Perempuan Jawa itu tetap tersenyum tenang. Meski di matanya, ada sesuatu yang perlahan belajar menerima keadaan yang tak pernah benar-benar bisa ia pahami.
Acara berlanjut.
Musik mulai dimainkan.
Lalu seseorang memanggil nama Cicih untuk bernyanyi.
Tamu-tamu bersorak kecil ketika ia berdiri memegang mikrofon.
Dan entah kebetulan atau memang sudah direncanakan sejak lama, lagu pertama yang Cicih bawakan adalah lagu ciptaan Fauzar, tajuk:
Masih Mungkinkah?
Sebuah lagu slow rock tentang dua anak manusia yang terlalu dekat hubungan batin. Tetapi, terlalu sadar untuk tak saling memiliki.
Suasana gedung mendadak berubah sendu.
Suara Cicih tetap indah seperti dulu. Bahkan lebih matang. Lebih penuh luka.
Dan setiap baitnya terasa seperti sedang menatap Fauzar diam-diam.
“Masih mungkinkah diantara kita, membina keutuhan, cinta yang terluka,
Terbentur kenyataan kasih, sulit intuk dimengerti……”
Fauzar menunduk.
Sementara Sakinah tetap duduk di sampingnya memainkan sendok pelan tanpa bicara.
Lagu kedua lebih menyakitkan.
Judulnya Cermin Bisu.
Liriknya ditulis sendiri oleh Cicih, lagu dan notasinya Fauzar yang buat.
Tentang perempuan yang bercermin setiap malam, tetapi tak lagi mengenali wajahnya sendiri setelah kehilangan cinta.
Namun Fauzar tahu, lagu itu bukan hanya tentang suaminya yang dulu pernah pergi.
Di dalamnya ada Fauzar
Ada hubungan aneh yang tak pernah diberi label.Tidak haram.Tetapi, juga tidak sepenuhnya suci.
Sebelum lagu berakhir, Cicih memandang ke arah meja Fauzar.
Lalu berkata lirih di depan para tamu:
“Lagu ini… aku bawakan untuk Abangku, Bang Fauzar… dan istri.”
Ruangan bertepuk tangan.
Tetapi dada Fauzar justru terasa sesak.
Karena kadang penghormatan paling menyakitkan adalah ketika seseorang tetap menempatkan kita istimewa… tepat di depan orang yang akhirnya ia pilih untuk dicintai, mendampingi hidupnya.
Fauzar menoleh pada Sakinah.
Perempuan itu tersenyum tipis.
Lalu berbisik pelan, nyaris tenggelam oleh suara musik:
“Artis lahir batin ayah itu… Sepertinya memang nggak bisa melupakan ayah…”
Fauzar terdiam.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Fauzar mulai takut pada satu hal:
Bahwa ada hubungan-hubungan tertentu dalam hidup yang tidak pernah benar-benar selesai. (Tamat)
