Oleh: Anne Y Wachyuni, S.Pd.
Ramadan selalu datang membawa cahaya. Ia bukan sekadar bulan yang dihitung dalam kalender hijriah, melainkan madrasah ruhani yang mendidik jiwa menuju derajat takwa.
Dalam kajian shaf muslimah di Masjid Agung Trans Studio Mall, Bandung, Ustaz Adi Hidayat menghadirkan renungan mendalam tentang bagaimana Ramadan dimaknai secara utuh oleh seorang perempuan—sebagai hamba Allah, sebagai ibu, sebagai istri, dan sebagai penjaga generasi.
Kajian dibuka dengan kisah sahabat Nabi, Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, yang lebih memilih menjaga kemuliaan iman putrinya daripada kemegahan dunia. Ketika ada peluang duniawi yang menggiurkan namun berpotensi melunturkan nilai agama, ia memilih keselamatan akhirat.
Inilah filosofi dasar Ramadan: menata orientasi hidup.
Allah SWT menggambarkan dua tipe manusia dalam firman-Nya:
“Maka di antara manusia ada yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia, dan baginya tidak ada bagian di akhirat. Dan di antara mereka ada yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.’”
(QS. Al-Baqarah: 200–201)
Pilihan doa mencerminkan arah hidup. Muslimah yang cerdas bukan hanya memohon kelapangan rezeki, tetapi juga keselamatan iman hingga akhir hayat.
Allah SWT menegaskan tujuan puasa dalam ayat yang sangat populer:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa bukan sekadar rasa takut, tetapi kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap keadaan. Takwa melahirkan solusi ketika hidup terasa buntu. Allah berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Bagi seorang muslimah, takwa adalah cahaya dalam rumah tangga. Ia menjadi sumber ketenangan jiwa, penguat kesabaran, dan pelindung keluarga dari badai zaman.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Muhammad, diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari dan Muslim)
Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi menahan amarah, menjaga lisan, dan membersihkan niat. Dalam perspektif tasawuf, lapar adalah cara melembutkan hati. Ketika tubuh ditahan, ruh justru dilepaskan untuk mendekat kepada Allah melalui sholat, dzikir, dan tilawah.
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Maka muslimah yang mengisi Ramadhan dengan tilawah sejatinya sedang menyirami jiwanya dengan cahaya wahyu.
Islam tidak pernah memberatkan. Syariat hadir dengan rahmah.
Shalat tarawih dapat dilakukan di masjid ataupun di rumah. Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah untuk pergi ke masjid.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun dalam hadis lain disebutkan bahwa sholat perempuan di rumahnya lebih baik baginya, selama ia menjaga adab dan tanggung jawabnya. Ini menunjukkan fleksibilitas syariat—memberi ruang sesuai kondisi dan kemaslahatan.
Ketaatan seorang ibu yang menyiapkan sahur, membangunkan keluarga untuk sholat, dan mendidik anak mencintai Al-Qur’an—semuanya bernilai ibadah. Dalam Islam, ruang domestik bukan ruang kecil; ia adalah ladang pahala yang luas.
Dalam kondisi haid dan nifas, perempuan tidak diwajibkan sholat dan puasa. Ini bukan pengurangan nilai, melainkan bentuk kasih sayang Allah. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Kami dahulu mengalami haid pada masa Rasulullah SAW, lalu kami diperintahkan mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha sholat.”
(HR. Muslim)
Walau tidak berpuasa, pintu pahala tetap terbuka melalui dzikir, istighfar, sedekah, mendengarkan kajian, dan membantu orang berpuasa.
Allah memuji hamba-hamba-Nya yang beristighfar di waktu sahur:
“…dan orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur.”
(QS. Ali ‘Imran: 17)
Seorang muslimah yang terhalang secara fisik tetap dapat hadir secara spiritual.
Bagi ibu hamil dan menyusui, Islam memberi keringanan. Jika puasa membahayakan diri atau bayi, ia boleh tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain. Sebagian ulama juga membolehkan fidyah dalam kondisi tertentu.
Allah menegaskan prinsip umum syariat:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Dan:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Inilah wajah Islam: berpijak pada kemaslahatan, bukan pada pemaksaan.
Ramadan bukan hanya ibadah personal. Ia adalah proyek keluarga. Takwa yang tumbuh dalam diri seorang ibu akan menetes pada anak-anaknya. Kesabaran seorang istri akan menenangkan suaminya.
Allah menggambarkan balasan bagi orang-orang yang sabar:
“(Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang yang saleh dari nenek moyang mereka, pasangan-pasangan mereka, dan keturunan mereka…”
(QS. Ar-Ra’d: 23–24)
Surga bukan tujuan individu, melainkan rombongan keluarga yang saling menggandeng dalam iman.
Ramadan mendidik muslimah untuk kuat dalam menahan hawa nafsu, namun lembut dalam iman. Ia mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara peran publik dan domestik, antara kewajiban syariat dan kelapangan rahmat.
Keberhasilan sejati bukanlah gemerlap jabatan, bukan pula pujian manusia, tetapi keselamatan hingga akhirat.
Semoga Ramadan menjadikan setiap muslimah pribadi yang lebih taqwa, lebih sabar, lebih jernih hatinya, dan lebih luas pengharapannya kepada Allah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (KH/***)
