Oleh: Imam M.Nizar
Seorang ustaz muda yang dikenal piawai merangkai logika dan rasa, Adi Hidayat, Jumat (29/8/2025), mengurai hakikat sholat dengan ungkapan yang sederhana tapi menghunjam.
“Kalau kamu benar-benar jatuh cinta pada seseorang, pasti kamu ingin mengobrol dengannya. Ingin didengar, ingin bercerita, ingin curhat. Maka sholat itu sejatinya adalah percakapanmu dengan Allah. Kalau kamu tidak khusyuk, berarti kamu belum sungguh-sungguh jatuh cinta kepada-Nya.” ucapnya dalam saluran khusus via WA.
Kalimat itu seperti mengetuk dinding hati yang kerap bebal dan telinga — seolah tak dengar seruan kumandang suara azan, karena padat dan mepet waktu dalam rutinitas keseharian.
Betapa sering manusia menyapa Tuhannya hanya dengan “gerak tubuh”, sementara hati melayang entah ke mana. Padahal, Allah SWT sendiri telah menegaskan tujuan agung shalat:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Sholat bukan sekadar kewajiban formal. Ia adalah mi’raj ruhani, sebuah undangan percakapan intim antara hamba dengan Sang Pencipta. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian, apabila ia berdiri menunaikan shalat, sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Munajat. Kata itu menggambarkan kedalaman hubungan: rintihan, curahan hati, bisikan cinta yang tak terucapkan di ruang lain.
Namun, manusia seringkali lupa, tergesa-gesa, dan tak hadir sepenuhnya dalam pertemuan suci itu. Seperti seorang kekasih yang raga bersama, tapi pikiran jauh meninggalkan pasangan.
Filosofi cinta dalam sholat mengingatkan — bila hati tak lagi bergetar saat takbir, bila sujud terasa hampa, boleh jadi cinta kita pada Allah hanya sebatas kata. Padahal, rasa syukur yang tulus lahir dari cinta. Dan cinta yang benar menuntut kesetiaan untuk hadir sepenuhnya.
Sholat khusyuk bukan sekadar keindahan ritual, melainkan bukti syukur atas nikmat penciptaan. Bukankah Allah telah mengingatkan:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nahl: 18)
Namun betapa sering manusia lupa bersyukur, bahkan saat berdiri di hadapan-Nya. Di situlah shalat kehilangan ruhnya, berubah dari percakapan cinta menjadi rutinitas kering.
Maka, sebagaimana jatuh cinta pada sesama manusia membuat kita ingin selalu dekat, selalu berbicara, selalu didengarkan, demikian pula seharusnya cinta pada Allah melahirkan kerinduan untuk berlama-lama dalam sujud. Shalat khusyuk adalah bukti bahwa cinta itu nyata.
Dan mungkin, bila kita merasa sholat kita hambar, boleh jadi karena kita belum benar-benar jatuh cinta pada Allah SWT. (KH/***)
